kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.190   31,00   0,17%
  • IDX 5.072   15,19   0,30%
  • KOMPAS100 654   2,77   0,43%
  • LQ45 517   1,71   0,33%
  • ISSI 169   0,07   0,04%
  • IDX30 290   0,65   0,23%
  • IDXHIDIV20 391   -0,43   -0,11%
  • IDX80 76   0,38   0,50%
  • IDXV30 109   -0,29   -0,27%
  • IDXQ30 98   -0,31   -0,32%

Kredit BRI Tembus Rp 1.645 Triliun, 75,1% Mengalir ke Segmen UMKM


Senin, 02 November 2026 / 09:52 WIB
Kredit BRI Tembus Rp 1.645 Triliun, 75,1% Mengalir ke Segmen UMKM
ILUSTRASI. OJK perpanjang masa restrukturisasi kredit (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus memperkuat pembiayaan sektor pangan untuk mendukung agenda swasembada protein nasional. Hingga akhir kuartal II-2026, total kredit BRI mencapai Rp 1.645 triliun, dengan 75,1% di antaranya disalurkan kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BRI juga mencatat sekitar 44% penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang kuartal II-2026 mengarah ke sektor pertanian dan perikanan. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat rantai pasok pangan dan memenuhi kebutuhan protein nasional.

Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan, perseroan memiliki peran strategis dalam pembiayaan ekosistem pangan karena mampu menjangkau pelaku usaha dari skala ultramikro hingga korporasi.

Baca Juga: OJK Setujui Merger Tiga BPR ke BPR Arthaguna Mandiri

"Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh," ujar Akhmad dalam siaran pers, Senin (2/11).

Menurut Akhmad, pembiayaan sektor pangan tidak cukup hanya menyasar pelaku usaha di sisi produksi. BRI juga membiayai kebutuhan di sepanjang rantai pasok, mulai dari penyediaan benih dan pakan, peningkatan kapasitas produksi, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi dan perdagangan.

Salah satu implementasinya terlihat pada ekosistem peternakan sapi perah di Malang. Dalam ekosistem tersebut, BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage, hingga membiayai industri maupun offtaker yang menyerap hasil produksi.

Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan tidak hanya diberikan kepada satu pelaku usaha, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat hubungan antarpelaku dalam rantai nilai pangan.

Akhmad menegaskan, porsi pembiayaan kepada UMKM akan tetap menjadi prioritas BRI. Perseroan menargetkan porsi kredit UMKM tidak kurang dari 75% dari total portofolio kredit.

"Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM," tegasnya.

Untuk mendukung penyaluran pembiayaan tersebut, BRI memiliki sekitar 30.000 tenaga pemasar di lapangan yang memiliki spesialisasi pada berbagai sektor usaha, termasuk peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan.

Kehadiran tenaga pemasar dengan pemahaman sektoral tersebut diharapkan membantu BRI mengidentifikasi karakteristik usaha dan kebutuhan pembiayaan nasabah secara lebih tepat.

"Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh," ujar Akhmad.

Dukungan pembiayaan perbankan terhadap sektor pangan juga menjadi perhatian pemerintah. Dalam forum yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menekankan bahwa upaya mencapai swasembada pangan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan domestik, tetapi juga menyangkut kedaulatan nasional.

Menurut Zulkifli, penguatan sektor pangan perlu dibarengi keberpihakan terhadap pelaku usaha di tingkat bawah, terutama nelayan dan pembudidaya ikan.

"Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu," ujar Zulkifli.

Ia juga menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur seperti cold storage dan akses pembiayaan untuk meningkatkan produktivitas serta kesejahteraan pelaku usaha perikanan.

Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menilai sektor perikanan memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Menurut dia, inovasi pengolahan hasil laut menjadi produk pangan bernilai tambah perlu terus dikembangkan agar sumber protein tersebut dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Melalui pembiayaan yang menjangkau hulu hingga hilir, BRI berharap dapat memperkuat konektivitas antarpelaku usaha dalam rantai pasok pangan sekaligus mendorong pertumbuhan UMKM dan sektor produktif.

Baca Juga: Kebijakan DHE SDA Dongkrak Dana Valas Bank

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×