Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit baru perbankan diperkirakan akan kembali meningkat pada kuartal II-2026 setelah melambat di awal tahun. Hal ini seiring dengan mulai longgarnya kebijakan penyaluran kredit oleh perbankan.
Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan, Saldo Bersih Tertimbang (SBT) prakiraan penyaluran kredit baru pada kuartal II-2026 mencapai 96,65%, melonjak dibandingkan realisasi kuartal I-2026 yang sebesar 38,74%.
Dari sisi prioritas, kredit modal kerja masih menjadi fokus utama perbankan dalam menyalurkan pembiayaan, disusul kredit investasi dan kredit konsumsi.
Baca Juga: Transaksi BNPL di LinkAkja Tumbuh 15% pada Kuartal I-2026
Pada segmen konsumsi, kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) diproyeksikan tetap menjadi andalan, diikuti kredit multiguna dan kredit tanpa agunan (KTA).
Secara sektoral, penyaluran kredit baru diperkirakan terbesar akan mengalir ke sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, serta sektor perantara keuangan.
Seiring dengan peningkatan tersebut, kebijakan penyaluran kredit juga dipraktekan menjadi lebih longgar. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang diproyeksikan berada di level negatif 2,88 pada kuartal II-2026.
Pelonggaran standar kredit ini terutama terjadi pada segmen kredit UMKM, kredit investasi, kredit modal kerja, serta kredit konsumsi lainnya. Beberapa aspek yang dilonggarkan antara lain terkait plafon kredit, persyaratan agunan, serta suku bunga kredit.
Di sisi pendanaan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga kuartal II-2026 juga diperkirakan meningkat. Hal ini tercermin dari SBT sebesar 87,85%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 69,80%.
Pertumbuhan DPK tersebut didorong oleh peningkatan pada seluruh komponen, yakni tabungan (SBT 82,47%), giro (80,36%), dan deposito (72,70%).
Baca Juga: Saham BTN Menghijau Jelang RUPST Hari Ini (23/4)
Meski demikian, secara tahunan, pertumbuhan kredit diproyeksikan sedikit melambat. Outstanding kredit hingga akhir 2026 diperkirakan tumbuh 8,06% secara tahunan (year on year/YoY), lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 9,69% YoY.
Sementara itu, DPK pada akhir tahun diperkirakan tumbuh 8,47% YoY, juga lebih rendah dibandingkan pertumbuhan tahun lalu yang sebesar 13,83% YoY.
Dengan kondisi tersebut, perbankan diperkirakan akan tetap menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengelolaan likuiditas, di tengah dinamika ekonomi yang masih penuh tantangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













