Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan nasional tetap kuat pada awal 2026. Pada Januari 2026, kredit tercatat tumbuh 9,96% secara tahunan.
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 berada di kisaran 8%–12%, didukung oleh pelonggaran kebijakan moneter, insentif makroprudensial, serta berbagai program prioritas pemerintah.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim menilai prospek sektor perbankan masih positif dalam lingkungan tersebut. “Dalam kondisi ini, urutan preferensi kami tetap pada BBCA, BRIS, BBRI, BMRI, dan BBNI,” ujar Jeffrosenberg Chenlim dalam risetnya pada 6 Maret 2026.
Baca Juga: Zurich Syariah Cermati Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Asuransi Umrah
Meski demikian, ia mengingatkan sejumlah risiko utama yang perlu dicermati, yakni potensi pemulihan permintaan kredit yang lebih lambat, likuiditas yang lebih ketat, serta peningkatan biaya kredit.
Pertumbuhan kredit pada Januari 2026 terutama didorong oleh pinjaman investasi yang melonjak 21,9% yoy. Kinerja tersebut ditopang oleh sektor konstruksi yang tumbuh 38,0% yoy serta sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan yang meningkat 32,1% yoy.
Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 4,8% yoy, didukung lonjakan sektor utilitas meliputi listrik, gas, dan air bersih yang naik hingga 156,0% yoy serta sektor konstruksi yang meningkat 32,8% yoy.
Di sisi lain, kredit konsumsi mencatat pertumbuhan 7,2% yoy, didorong oleh pinjaman multiguna yang meningkat 9,9% yoy. Namun beberapa segmen masih menunjukkan pelemahan, seperti kredit pemilikan rumah (KPR) yang melambat menjadi 5,5% yoy dan kredit kendaraan bermotor yang masih terkontraksi 6,9% yoy. Kredit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga masih lemah dengan kontraksi 0,5% yoy.
Menurut Jeffrosenberg, kondisi likuiditas perbankan pada Januari 2026 masih cukup memadai seiring pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Simpanan nasabah tercatat meningkat 13,5% yoy, dipimpin oleh giro yang naik 19% yoy serta tabungan yang tumbuh 8,8% yoy. Sementara itu, deposito berjangka tumbuh lebih moderat sebesar 5,7% yoy, yang menunjukkan struktur pendanaan yang lebih banyak ditopang dana transaksi.
Selain itu, Menteri Keuangan juga menyampaikan kemungkinan perpanjangan program penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di perbankan selama enam bulan ke depan. Kebijakan ini dinilai dapat membantu menjaga persaingan pendanaan tetap terkendali serta membuka ruang penurunan biaya dana.
Namun demikian, Jeffrosenberg menilai program tersebut tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan kondisi stabilitas nilai tukar, terutama di tengah risiko kenaikan harga minyak global.
Bank Indonesia mencatat bahwa persyaratan penyaluran kredit secara umum mulai melonggar, menandakan transmisi kebijakan moneter ke sisi penawaran kredit berjalan lebih baik.
Baca Juga: Sustainable Loans BRI Tembus Rp 811,9 Triliun per Desember 2025
Namun pengecualian terjadi pada kredit konsumsi dan UMKM yang masih menerapkan standar penyaluran lebih ketat karena risiko kredit yang dinilai masih tinggi.
“Dengan demikian, fase pertumbuhan berikutnya akan sangat bergantung pada membaiknya kepercayaan rumah tangga dan pelaku UMKM serta kemampuan pembayaran mereka,” ujar Jeffrosenberg.
Jika kondisi tersebut membaik, bank dinilai akan lebih longgar dalam penyaluran kredit sehingga pertumbuhan kredit konsumsi dan UMKM dapat mengejar pemulihan ekonomi yang saat ini lebih banyak didorong oleh investasi dan belanja modal.
Adapun rekomendasi saham bank Maybank Sekuritas sebagai berikut:
- Bank Syariah Indonesia (BRIS) dipasang target Rp 3.350 per saham
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dipasang target Rp 5.400
- Bank Mandiri (BMRI) dipasang target Rp 6.000
- Bank Negara Indonesia (BBNI) dipasang target Rp 5.000
- Bank Central Asia (BBCA) dipasang target Rp 10.650
- Bank CIMB Niaga (BNGA) dipasang target Rp Rp 2.400
- Bank Jago (ARTO) dipasang target Rp Rp 2.600
Hingga 10 Maret 2026 sesi pertama, saham-saham bank yang menjadi coverage Maybank Sekuritas ditutup beragam. Saham BRIS ditutup melemah 0,46% di Rp 2.180. Saham BBRI tidak bergerak di level Rp 3.570.
Saham BMRI naik 1,04% di Rp 4.870. Saham BBNI stagnan di Rp 4.290. Saham BBCA naik 1,09% di Rp 6.950. Saham BNGA stagnan di Rp 1.735. Saham ARTO naik 3,38% di Rp 1.375 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













