kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.689.000   -24.000   -0,88%
  • USD/IDR 18.012   53,00   0,30%
  • IDX 5.886   -16,34   -0,28%
  • KOMPAS100 775   -7,40   -0,95%
  • LQ45 587   -2,64   -0,45%
  • ISSI 201   -0,63   -0,31%
  • IDX30 334   -0,77   -0,23%
  • IDXHIDIV20 414   0,55   0,13%
  • IDX80 88   -0,64   -0,72%
  • IDXV30 110   -0,60   -0,54%
  • IDXQ30 108   0,47   0,44%

Kredit Sindikasi Perbankan Terbukti Tahan Banting dari Gejolak Ekonomi


Kamis, 11 Juni 2026 / 19:46 WIB
Kredit Sindikasi Perbankan Terbukti Tahan Banting dari Gejolak Ekonomi
ILUSTRASI. Kredit Sindikasi untuk flyover Sitinjau Lauik di Sumatra Barat. (Dok/BRI)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyaluran kredit perbankan lewat skema sindikasi tampaknya terus bertaji tinggi hingga menjelang pertengahan tahun 2026. Meski ditantang oleh kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah, hingga gejolak ekonomi, kredit sindikasi terbukti terus tumbuh tinggi.

Kredit sindikasi merupakan skema pemberian pinjaman atau kredit oleh lebih dari satu bank kepada suatu debitur. Biasanya, kredit sindikasi digunakan untuk membiayai proyek yang membutuhkan dana jumbo.

Jika dilihat dari data Bloomberg, hingga Kamis (11/6/2026), kesepakatan kredit sindikasi dari sisi Mandated Lead Arranger telah mencapai US$ 12,46 miliar. Realisasi ini terhitung naik tinggi sampai 44,1% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Lima bank penyalur kredit sindikasi terbesar sesuai urutannya adalah Bank Mandiri sebesar US$ 2,06 miliar, Bank Rakyat Indonesia sebesar US$ 1,36 miliar, Bank Negara Indonesia sebesar US$ 1,31 miliar, Bank Central Asia sebesar US$ 1,24 miliar, dan United Overseas Bank sebesar US$ 537 juta.

Baca Juga: Bank Mulai Waspadai Dampak Suku Bunga Tinggi ke Risiko Kredit Macet KPR

Nilai penyaluran kredit sindikasi dari lima bank tersebut mencapai US$ 6,52 miliar. Angka tersebut setara dengan 52,33% dari keseluruhan kredit sindikasi.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menilai, di tengah berbagai sentimen perbankan saat ini, seperti pelemahan rupiah dan kenaikan BI Rate, kredit sindikasi memang relatif lebih tahan terhadap peningkatan risiko dibanding kredit bilateral biasa. 

Dalam skema sindikasi, risiko kredit akan dibagi ke beberapa bank sehingga eksposur risiko masing-masing bank menjadi lebih minim. Itulah sebabnya, Yusuf bilang, kredit sindikasi masih diminati oleh bank untuk membiayai proyek berskala besar tanpa harus memikul beban berlebih.

"Namun perlu dicatat bahwa pembagian risiko tidak berarti risiko hilang. Jika proyek yang dibiayai mengalami gangguan fundamental, seluruh anggota sindikasi tetap akan terdampak," tutur Yusuf saat dihubungi Kontan, Kamis (11/6/2026).

Yusuf pun memproyeksi, pertumbuhan kredit sindikasi hingga akhir tahun 2026 kemungkinan tidak seagresif saat ini, terutama jika kondisi makroekonomi semakin memburuk dan efek suku bunga kian terasa.

Dari sisi perbankan, EVP Corporate Communication BCA Hera F. Heryn bilang, banknya akan terus mendorong penyaluran kredit sindikasi ke berbagai sektor strategis.

Baca Juga: Tumbuh Pesat, Kredit Digital Jadi Tumpuan Masyarakat Menengah ke Bawah?

Sebagai salah satu bank dengan penyaluran kredit sindikasi terbesar, Hera memastikan BCA tetap memperhitungkan faktor risiko, posisi likuiditas dan modal, serta selektif memilih proyek yang berpotensi memperkuat bisnis inti BCA.

"Ke depan, tren penyaluran kredit sindikasi diperkirakan akan bergerak sejalan dengan dinamika dan kondisi perekonomian nasional," kata Hera.

Bank swasta besar lain, CIMB Niaga, juga turut meramaikan penyaluran sindikasi. Baru-baru ini, CIMB Niaga turut serta bersama 16 bank lainnya dalam pembiayaan sindikasi hijau senilai US$ 750 juta kepada PT Vale Indonesia Tbk, salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia.

Head of Corporate, Investment Banking Coverage, & Loan Syndication CIMB Niaga Miranty Supardi menyampaikan, pembiayaan sindikasi ini merupakan bentuk dukungan banknya pada industri ekstraktif.

Ia juga menyebut pembiayaan ini akan memperkuat hilirisasi nikel nasional sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.

"Kami memahami bagaimana Vale Indonesia telah menerapkan best practice dalam operasionalnya, termasuk penggunaan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air, sehingga mampu menghasilkan produk nikel dengan emisi rendah," jelas Miranty.

Sementara itu, KB Bank menyebut pertumbuhan kredit sindikasinya lebih moderat tahun ini. Wholesale Director KB Bank Widodo Suryadi mengatakan, banknya mengambil pendekatan yang lebih prudent di tengah dinamika ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan.

Widodo menyebut hingga Mei 2026, KB Bank telah berpartisipasi dalam sejumlah proyek sindikasi, di antaranya pembiayaan kepada PT Petro Oxo Nusantara (PON), PT Mining Industry Indonesia (MIND ID), Princeton Digital Group, PT Starone Mitra Telekomunikasi, dan PT Ainul Hayat Sejahtera.

Widodo optimistis portofolio kredit sindikasi KB Bank akan tetap terjaga positif hingga akhir tahun 2026. Ia pun memastikan KB Bank akan mengambil peran-peran strategis dalam berbagai transaksi sindikasi yang sedang difinalisasi.

"Ke depan, peluang pertumbuhan bisnis sindikasi tetap terbuka, didukung oleh pipeline yang solid dan terdiversifikasi di berbagai sektor strategis, seperti utilities, automotive, manufacturing, digital infrastructure, dan mining services," ucapnya.

Baca Juga: Ekonom Wanti-Wanti Kenaikan BI Rate Tekan Kredit dan Cost of Fund Bank

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×