kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.733.000   -10.000   -0,36%
  • USD/IDR 18.030   -170,00   -0,93%
  • IDX 5.747   404,51   7,57%
  • KOMPAS100 759   60,97   8,73%
  • LQ45 569   42,24   8,01%
  • ISSI 197   12,24   6,63%
  • IDX30 323   24,38   8,17%
  • IDXHIDIV20 398   27,88   7,53%
  • IDX80 86   6,64   8,36%
  • IDXV30 108   6,11   5,97%
  • IDXQ30 104   7,83   8,16%

Tumbuh Pesat, Kredit Digital Jadi Tumpuan Masyarakat Menengah ke Bawah?


Selasa, 09 Juni 2026 / 19:58 WIB
Tumbuh Pesat, Kredit Digital Jadi Tumpuan Masyarakat Menengah ke Bawah?
ILUSTRASI. Krom Bank (NULL/NULL)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fenomena menarik terlihat pada laju pertumbuhan kredit digital yang jauh lebih masif ketimbang kredit industri. Masyarakat menengah ke bawah nampaknya banyak mengandalkan produk kredit dengan akses mudah untuk memenuhi kebutuhan. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kredit industri perbankan tumbuh 9,98% secara tahunan (year-on-year/yoy) hingga April 2026, melanjutkan pertumbuhan 9,49% yoy pada bulan sebelumnya. 

Dalam periode yang sama, baki debet Buy Now Pay Later (BNPL) alias paylater perbankan tumbuh jauh lebih masif mencapai 37,29% yoy, melaju dari pertumbuhan 24,2% yoy pada Maret 2026. 

Di samping itu, kredit bank digital juga kompak menorehkan pertumbuhan double digit hingga April 2026. Pertumbuhan tertinggi ditorehkan oleh Krom Bank, yakni sebesar 93,05% yoy menjadi Rp 10,25 triliun. Menyusul, kredit Superbank tumbuh 55,45% yoy menjadi Rp 12,24 triliun, kemudian kredit Seabank tumbuh 46,33% yoy menjadi Rp 36,16 triliun. 

Adapun Bank Jago kreditnya tumbuh 24,68% yoy menjadi Rp 25,35 triliun, kredit Allo Bank tumbuh 24,6% yoy menjadi Rp 8,72 triliun, dan kredit Amar Bank tumbuh 23,58% yoy menjadi Rp 4,2 triliun. 

Nah agak berbeda, Bank Neo Commerce justru mencatatkan penurunan kredit dalam periode ini sebesar 17,99% yoy menjadi Rp 6,96 triliun. Pun, kredit BCA Digital turun 5,26% yoy menjadi Rp 8,49 triliun, juga Bank Raya turun 5,47% yoy menjadi Rp 6,9 triliun. 

Baca Juga: Pertumbuhan Kredit Bank Digital per Februari 2026: Siapa Jawaranya?

Namun begitu, sejatinya kredit digital Bank Raya masih tumbuh 33,1% yoy menjadi Rp 3,14 triliun. Presiden Direktur Bank Raya, Ida Bagus Ketut Subagia menjelaskan, capaian ini ditopang kredit produktif dan konsumtif yang berhasil tumbuh positif.

Pada segmen produktif, outstanding kredit didominasi fasilitas kredit harian yang menunjang transaksi agen serta fasilitas kredit bagi pelaku bisnis ritel. Di samping itu, bank kini juga memperluas pembiayaan ke layanan supply chain bagi segmen mikro serta kredit channeling.

Pada segmen konsumtif, bank mengandalkan ekosistem layanan digital payroll end-to-end yang menargetkan ekosistem grup BRI, serta paylater yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan konsumtif masyarakat. 

Ida Bagus bilang kredit digital memang menjadi fokus bank dalam hal ekspansi kredit. Strategi utama yang dilancarkan adalah eksploitasi peluang dari ekosistem grup dan perluasan pasar baru, termasuk penambahan agen bank untuk kredit harian, serta kerja sama mitra baru. 

“Hal tersebut juga tentunya didukung melalui penguatan brand value, hybrid network distribution, juga pengembangan kapasitas sumber daya berbasis digital yang kuat,” ujar Ida Bagus dalam paparan publik, Selasa (9/6/2026). 

Baca Juga: Kredit Bank Digital Masih Tumbuh Subur di Tengah Pelemahan Industri

Tak jauh berbeda, Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo mengaku pertumbuhan kredit ditopang oleh model bisnis bank yang berfokus pada segmen ritel digital dan ekosistem. Dari sisi portofolio, ia bilang produk paylater memang menjadi mesin pertumbuhan kredit. 

“Segmen ini masih menunjukkan permintaan yang cukup baik karena didukung oleh tren digitalisasi, peningkatan aktivitas transaksi nasabah, serta semakin luasnya integrasi layanan ke dalam ekosistem yang kami miliki,” paparnya kepada Kontan, Selasa (9/6/2026). 

Melihat prospek pertumbuhan kredit ke depan, Allo Bank mencermati sejumlah hal. Antara lain yaitu penguatan ekosistem merchant dan mitra strategis, perkembangan konsumsi rumah tangga, serta arah kebijakan suku bunga dan kondisi likuiditas industri perbankan. Destya bilang pihaknya melihat ruang pertumbuhan kredit masih cukup baik hingga akhir tahun. 

Di sisi lain, dengan catatan kredit yang menurun, Direktur Utama Bank Neo Commerce Eri Budiono bilang pihaknya lebih memprioritaskan kualitas pertumbuhan. Saat ini, bank lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke segmen komersial, dan masih bakal fokus ke segmen ritel dengan profil risiko yang lebih terukur. 

Pun ke depan pihaknya masih bakal mengedepankan pendekatan selective growth untuk pertumbuhan bisnis, terkhususnya di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini. 

“Kami akan memantau dan mengevaluasi secara berkala dampak dari kondisi ekonomi terhadap kualitas dari portofolio bank,” kata Eri. 

Akses Mudah Dorong Pertumbuhan Kredit Digital

Di balik pertumbuhan masif kredit digital, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet bilang ada fenomena perlambatan ekonomi rumah tangga yang perlu dicermati. 

Baca Juga: Sejumlah Perbankan Catat Pertumbuhan Pengajuan Kredit Secara Digital

Ia menjelaskan, saat ini lembaga keuangan tengah agresif mencari pertumbuhan kredit ritel karena segmen korporasi dan bisnis besar relatif melambat. Nah, kemajuan teknologi membuat hambatan administratif dan psikologis yang dulu membayangi kredit konsumsi pun berkurang.

Masalahnya, umumnya masyarakat menggunakan utang untuk mempertahankan tingkat konsumsi ketika pertumbuhan upah tak sejalan dengan kenaikan biaya hidup. Maka, pertumbuhan masif kredit digital yang aksesnya mudah ini mengindikasi rumah tangga mulai mengandalkan pendapatan masa depan untuk memenuhi kebutuhan hari ini. 

“Pertumbuhan kredit mudah akses dapat dibaca sebagai salah satu indikasi tekanan pada kelas menengah bawah,” tuturnya.

Yusuf bilang yang perlu diperhatikan bukan cuman laju pertumbuhannya, melainkan juga kualitas dan penggunaannya. 

Kredit yang digunakan untuk kegiatan produktif atau modal usaha memiliki implikasi yang berbeda dibanding kredit yang didominasi konsumsi. Dalam konteks saat ini, porsi konsumtif yang masih cukup besar pada kredit digital perlu dicermati lebih lanjut.

Dalam jangka pendek, Yusuf melihat tren ini kemungkinan masih berlanjut mengingat daya beli masyarakat masih tertekan, sementara ekosistem kredit digital semakin luas dan mudah diakses. 

Namun, laju pertumbuhannya berpotensi melambat lantaran standar penyaluran kredit mulai diperketat melalui POJK Nomor 32 Tahun 2025 yang mendorong penerapan proses penilaian kelayakan lebih ketat. 

Di saat yang sama, sebagian pelaku industri mulai lebih selektif dalam menyalurkan kredit untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Dengan demikian, arah industri kemungkinan bergeser dari ekspansi agresif menuju pertumbuhan yang lebih terukur.

Baca Juga: Kredit Skema Channeling Masih Jadi Andalan Bank Digital

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×