Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) sebesar Rp 45,5 triliun hingga September 2026. Realisasi tersebut tumbuh 20,7% secara tahunan atau (year-on-year/YoY).
Meski mencatatkan pertumbuhan laba yang kuat, Bank Mandiri masih menghadapi tekanan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) seiring kenaikan biaya dana atau cost of fund (CoF).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Kevin Yudha Pratama mencatat, laba bersih Bank Mandiri pada kuartal III-2026 mencapai Rp 15,1 triliun, tumbuh 13,9% YoY. Namun, secara kuartalan, laba hanya meningkat 0,6% dibandingkan kuartal II-2026.
Tekanan terhadap pendapatan bunga terlihat dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang tercatat sebesar 6,5% YoY hingga September 2026.
Baca Juga: Bank INA Gandeng JAGADIRI, Debitur KPR Dapat Perlindungan Asuransi Jiwa Kredit
Di sisi lain, kinerja Bank Mandiri masih ditopang pertumbuhan pendapatan nonbunga dan efisiensi biaya operasional. Pendapatan nonbunga meningkat 14,3% YoY, sedangkan beban operasional turun 1,6% YoY. Beban pencadangan juga menyusut 5,8% YoY.
Adapun pendapatan berbasis komisi berulang atau recurring fee income tumbuh 20% YoY. Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan pendapatan biaya transaksi Livin' sebesar 42,3% YoY, bisnis pengelolaan kekayaan atau wealth management, serta biaya transaksi wholesale.
Pendapatan treasury juga meningkat 29,4% YoY. Dengan perkembangan tersebut, kontribusi pendapatan nonbunga terhadap total pendapatan naik menjadi 33,4% hingga September 2026, dari 32% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Efisiensi operasional turut membaik. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio/CIR) turun menjadi 38% dari 43,8% pada September 2025.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, manajemen Bank Mandiri merevisi panduan CIR 2026 menjadi 37%–39%, dari sebelumnya 39%–41%.
Di tengah tekanan margin, Bank Mandiri juga mencatat perbaikan imbal hasil kredit. Kiwoom menyebut, imbal hasil kredit pada level bank saja naik 12 basis poin secara kuartalan menjadi 7,03% pada kuartal III-2026, dari 6,91% pada kuartal sebelumnya.
Namun, kenaikan imbal hasil kredit tersebut belum cukup mengimbangi peningkatan biaya dana. CoF Bank Mandiri pada level bank naik menjadi 2,34% pada kuartal III-2026, dari 2,04% pada kuartal II-2026. Kenaikan ini terutama dipicu oleh meningkatnya biaya deposito berjangka.
Di sisi pendanaan, rasio dana murah atau current account saving account (CASA) membaik menjadi 70,6%, dari 69,2% pada semester I-2026. Peningkatan porsi CASA berpotensi membantu menahan tekanan biaya dana.
Dari sisi intermediasi, kredit konsolidasian Bank Mandiri mencapai Rp 1.694 triliun pada September 2026, tumbuh 15,4% YoY dan 1% secara kuartalan. Secara tahun berjalan, kredit meningkat 7,45%.
Kredit wholesale masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 70% dari total kredit. Sementara itu, kredit segmen usaha kecil dan menengah (UKM) tumbuh 11,2% YoY dan kredit pemilikan rumah (KPR) meningkat 8,6% YoY.
Kiwoom menjelaskan, pertumbuhan kredit yang solid mendorong manajemen menaikkan panduan pertumbuhan kredit sepanjang 2026 menjadi 9%–11%, dari sebelumnya 7%–9%. Meski demikian, penyaluran kredit tetap dilakukan secara selektif.
Dari sisi risiko, kualitas aset bank masih baik dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross konsolidasian tercatat stabil di level 1,02%. Sementara itu, rasio biaya kredit atau cost of credit (CoC) naik tipis menjadi 0,63%, dari 0,61% pada semester I-2026, tetapi masih dalam kisaran panduan manajemen sebesar 0,6%–0,8%.
Baca Juga: 26 Bank Belum Penuhi Free Float 15%, Rights Issue hingga Delisting Jadi Opsi
Meski rasio NPL relatif terjaga, rasio loan at risk (LaR) meningkat menjadi 6,76% pada kuartal III-2026, dari 5,83% pada semester I-2026.
"Kenaikan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya kredit dalam perhatian khusus yang telah direstrukturisasi tetapi masih berstatus lancar," sebut Yudha dalam riset 26 Oktober 2026.
Di saat yang sama, cakupan pencadangan terhadap NPL alias NPL coverage bertahan di level 235%. Namun, LaR coverage turun menjadi 35,1%, dari 40,5% pada semester I-2026.
Kiwoom juga menyoroti kualitas aset pada segmen ritel. Rasio NPL segmen mikro dan payroll tercatat 3,19%, sedangkan segmen konsumer mencapai 3,17%.
Ke depan, Kiwoom bilang, penyaluran kredit ke sektor swasta, pertumbuhan pendapatan berbasis komisi, serta perbaikan CASA dapat mendukung kinerja Bank Mandiri. Kenaikan panduan pertumbuhan kredit juga mengindikasikan potensi peningkatan aktivitas penyaluran kredit pada kuartal IV-2026.
Meski demikian, biaya dana, kecepatan pemulihan NIM, serta peningkatan kredit berisiko yang direstrukturisasi masih perlu dicermati dalam menilai prospek kinerja Bank Mandiri hingga akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














