Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tahun lalu, sejumlah bank memanfaatkan pendapatan pemulihan alias recovery income, yang di antaranya bersumber dari penjualan aset bermasalah, untuk menopang profitabilitas di tengah lesunya kinerja keuangan. Namun, nampaknya strategi itu tak mudah dijalankan tahun ini.
Dua bank yang berhasil mencetak pertumbuhan laba tahun lalu terpantau turut mengalami kenaikan recovery income, yakni Bank Mandiri dan Bank Central Asia (BCA).
Bank Mandiri berhasil menumbuhkan laba bersihnya sebesar 0,92% secara tahunan (year-on-year/yoy) sejalan dengan pertumbuhan recovery income sebesar 7,37% yoy menjadi Rp 7,28 triliun, sementara laba bersih BCA tumbuh 4,9% yoy dan recovery income tumbuh 25,17% yoy menjadi Rp 1,07 triliun.
Baca Juga: Ini 10 Unitlink Pendapatan Tetap yang Mencetak Return Tertinggi per Februari 2025
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyebut penyelesaian aset bermasalah sudah sesuai target dan timeline yang ditetapkan, meski tak merinci nilainya tahun lalu. Yang pasti, kata Hera, pelaksanaannya sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku.
Di luar keuntungan yang didapat bank dari penjualan aset bermasalah, Hera bilang pada prinsipnya BCA senantiasa mengelola risiko kredit bermasalah (non performing loan/NPL) secara optimal dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
“Ini semua untuk menjaga kualitas kredit,” ujar Hera kepada Kontan, belum lama ini.
Salah satunya melalui penyediaan pencadangan memadai, dengan rasio NPL coverage sebesar 183,8% pada tahun 2025. Hera bilang pihaknya terus mengkaji pencadangan yang dimiliki, sejalan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi ekonomi.
Bank lain yang berhasil menjaga progres profitabilitasnya tahun lalu ialah CIMB Niaga. Laba bersih bank ini tumbuh 0,53% yoy menjadi Rp 6,93 triliun. Namun, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengaku recovery income dari penjualan aset bermasalah bukan faktor utama capaian tersebut.
Menengok laporan keuangannya, tahun lalu CIMB Niaga menjual kredit ke pihak ketiga sebesar Rp 430,32 miliar, turun dari penjualan Rp 1,36 triliun pada tahun sebelumnya. Itu sejalan dengan pelepasan cadangan kerugian (CKPN) untuk penjualan kredit ke pihak ketiga sebesar Rp 329,22 miliar pada 2025 dan Rp 1,08 triliun pada 2024.
Hal itu mengindikasi penurunan penjualan aset bermasalah secara tahunan. Lani menjelaskan, pada dasarnya penjualan aset bermasalah memang tergantung dari ketersediaan portofolio pada jenis tersebut.
“Saat ini portofolio aset bermasalah relatif tidak banyak,” ungkap Lani kepada Kontan, Selasa (24/3/2026).
Dus, dari sisi strategi penguatan pendapatan bank untuk mendorong profitabilitas, Lani bilang pihaknya lebih mengutamakan fee income alias pendapatan komisi. Ia menyebut bisnis ini menjadi fokus bank di tengah permintaan kredit yang masih relatif rendah.
Baca Juga: OJK Beberkan Alasan 20 Perusahaan Asuransi Belum Memutuskan Cara Pemisahan UUS
Menurut Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, penjualan aset bermasalah untuk mendulang pendapatan masih bakal tetap dimanfaatkan bank untuk mendongkrak kinerja tahun ini. Namun, itu bukan penggerak utama. “Karena stoknya juga makin menipis,” kata Trioksa.
Lagipula, di kondisi ekonomi saat ini, menurutnya penjualan aset tak bakal mudah. Kalau bank ingin menjual cepat, penawaran akan dilakukan di harga rendah. “Prospek penjualan aset bermasalah akan melambat dan akan ditawarkan di harga diskon,” sebut Trioksa.
Selain penjualan aset bermasalah, ia bilang bank mungkin juga menempuh berbagai strategi lain, termasuk restrukturisasi kredit, efisiensi biaya, serta optimalisasi pertumbuhan fee based income.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













