Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Margin keuntungan perbankan di Tanah Air tercatat mengalami perbaikan pada awal tahun ini. Kondisi ini didukung oleh penurunan biaya dana dan efisiensi biaya operasional.
Data Bank Indonesia (BI) yang dipublikasikan Selasa (17/3) menunjukkan, margin keuntungan industri perbankan pada Januari 2026 mencapai 2,23%, naik dari 1,96% pada bulan sebelumnya. Peningkatan terjadi pada mayoritas kelompok bank, kecuali kantor cabang bank asing yang mengalami penurunan dari 1,6% menjadi 1,47%.
Margin keuntungan bank BUMN meningkat dari 2,02% menjadi 2,45%. Margin keuntungan bank pembangunan daerah (BPD) naik dari 1,72% menjadi 2,02%, dan bank swasta nasional tumbuh dari 1,96% menjadi 2,02%.
BI menyebut perbedaan perkembangan margin keuntungan antarkelompok mencerminkan strategi bisnis, struktur pendanaan, dan karakteristik basis nasabah masing-masing bank dalam merespons dinamika biaya dan risiko.
Adapun biaya dana perbankan pada Januari tercatat turun menjadi 3,1%, dari 3,35% pada Desember. Realisasi tersebut juga turun 0,54% dari level biaya dana tertinggi pada 2025, yang terjadi pada Juni sebesar 3,64%. Sementara itu, biaya overhead atau beban operasional perbankan turun menjadi 3,44% dari 3,75% pada Desember.
Baca Juga: Maybank Indonesia Pacu Pembiayaan UKM, Segmen Syariah Jadi Andalan
Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu yang menorehkan perbaikan kinerja. Dalam dua bulan pertama tahun ini, bank pelat merah tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp 8,9 triliun, meningkat 16,7% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 atau year on year (YoY).
Perolehan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) sebesar 9,15% YoY menjadi Rp 13,7 triliun. Beban bunga bank ini hanya naik 3,6% pada periode itu, sedangkan pendapatan bunga tumbuh 7,24%.
Pendapatan nonbunga Bank Mandiri pada dua bulan pertama tahun ini juga tumbuh 9,07% menjadi Rp 5,41 triliun. Sementara itu, biaya provisi turun 27,2% YoY menjadi Rp 1,08 triliun dan beban operasional naik 7,23% menjadi Rp 1,11 triliun.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyebut pertumbuhan laba ditopang meningkatnya transaksi digital, terutama dari aktivitas pengguna Livin’ by Mandiri yang mendorong pendapatan berbasis komisi.
Sejak awal tahun, transaksi Livin’ telah mencapai 738,7 juta. Kinerja digital juga diperkuat oleh meningkatnya transaksi pembayaran di sektor UMKM. Dari sisi fee based income, pendapatan komisi dari aplikasi tumbuh 45,3% YoY menjadi Rp 625 miliar.
“Peningkatan transaksi ini turut mendorong penghimpunan dana murah dari rekening transaksi, sehingga membantu efisiensi beban bunga,” kata Novita dalam keterangannya belum lama ini.
Baca Juga: CIMB Niaga Akui Pertumbuhan Kredit Masih Tertahan pada Februari 2026
Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BTN) menorehkan laba bersih secara bank only sebesar Rp 503,24 miliar sepanjang Januari–Februari 2026, melonjak 281,9% secara tahunan. Capaian ini didorong peningkatan NII.
Dalam dua bulan pertama tahun ini, BTN membukukan NII sebesar Rp 2,39 triliun, menanjak 54,7% YoY. Pendapatan bunga perseroan selama periode itu tumbuh 11,7%, sementara beban bunga turun 14,4% YoY.
Di sisi intermediasi, penyaluran kredit BTN mencapai Rp 341,16 triliun atau tumbuh 8,6% secara tahunan. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp 375,28 triliun atau meningkat 13,2% YoY dari posisi Februari 2025 sebesar Rp 331,63 triliun.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu sebelumnya menyatakan optimistis kinerja perseroan akan terus bertumbuh sepanjang tahun ini seiring transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan.
Menurut Nixon, optimisme tersebut ditopang oleh penguatan strategi beyond KPR, pengembangan superapps, serta berbagai inovasi di lini bisnis. “Kami optimistis kinerja tahun ini akan terus bertumbuh seiring transformasi dan inovasi yang dilakukan perseroan untuk memperkuat bisnis dan meningkatkan layanan kepada masyarakat,” ujar Nixon.
Adapun PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencetak laba bersih bank only selama dua bulan pertama sebesar Rp 9,2 triliun, naik 2,81% secara tahunan (YoY). Pertumbuhannya tipis karena pendapatan bunga bersih turun 0,15% secara tahunan menjadi Rp 12,85 triliun. Beban bunga BCA naik 6,9% di saat pendapatan bunga hanya naik 0,79%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













