kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.576.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.925   -67,00   -0,37%
  • IDX 5.988   -21,82   -0,36%
  • KOMPAS100 769   -4,82   -0,62%
  • LQ45 589   -3,55   -0,60%
  • ISSI 208   -0,07   -0,03%
  • IDX30 327   -1,31   -0,40%
  • IDXHIDIV20 419   -0,06   -0,01%
  • IDX80 88   -0,51   -0,58%
  • IDXV30 114   0,17   0,15%
  • IDXQ30 107   -0,40   -0,37%

Laba BRI (BBRI) Tumbuh 6,6% Hingga Agustus, Analis Pasang Target di Rp 3.900


Jumat, 02 Oktober 2026 / 10:11 WIB
Laba BRI (BBRI) Tumbuh 6,6% Hingga Agustus, Analis Pasang Target di Rp 3.900
ILUSTRASI. BRI Consumer Expo (Dok. BRI/Dok. BRI)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemulihan kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masih berjalan di tengah tekanan margin bunga bersih alias net interest margin (NIM). Pertumbuhan kredit yang tetap kuat dan perbaikan kualitas aset menjadi penopang utama kinerja bank hingga Agustus 2026.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Jeffrosenberg Chenlim dalam riset pada 29 September 2026 menilai pertumbuhan kredit BBRI yang lebih tinggi berpotensi membantu mengimbangi sebagian tekanan margin melalui peningkatan volume aset produktif. Sementara itu, biaya pencadangan yang mulai menurun turut memberikan ruang bagi pemulihan laba perseroan.

Kinerja tersebut tercermin dari laba bersih BBRI secara bank-only yang mencapai Rp 34,8 triliun pada delapan bulan pertama 2026, tumbuh 6,6% secara tahunan.

Baca Juga: Lima Bank dan Satu Fintech Jadi Pemungut PPN Digital, Ini Daftarnya

Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) yang tumbuh 3,4% secara year on year (yoy) dan pre-provision operating profit (PPOP) yang meningkat 6,7% YoY.

Di saat yang sama, biaya kredit alias cost of credit (CoC) turun menjadi 3,29%, dibandingkan 3,34% pada periode yang sama tahun lalu.

Meski tekanan margin masih berlanjut, perbaikan kualitas aset dan penurunan biaya pencadangan pada Agustus 2026 menjadi indikasi bahwa pemulihan laba BBRI masih berada di jalurnya.

Dari sisi penyaluran kredit, BBRI mencatat outstanding kredit sebesar Rp 1.447 triliun pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 13,7% YoY, meski secara bulanan turun tipis 0,3%.

Pertumbuhan kredit tersebut memang melambat dibandingkan pertumbuhan 16,2% YoY pada kuartal II 2026. Namun, laju pertumbuhan masih dinilai sehat dan berada di atas ekspektasi awal manajemen.

Kondisi tersebut mendorong manajemen menaikkan panduan pertumbuhan kredit tahun 2026 menjadi 8%-10%, dari sebelumnya 7%-9%.

Pertumbuhan kredit BBRI diperkirakan masih terutama berasal dari segmen wholesale dan konsumer. Sementara itu, pemulihan pada segmen mikro masih berlangsung secara bertahap.

Perkembangan tersebut menjadi penting bagi BBRI mengingat tekanan NIM masih menjadi salah satu tantangan utama. Dengan pertumbuhan kredit yang lebih kuat, peningkatan volume aset produktif diharapkan dapat mengompensasi sebagian tekanan terhadap margin.

Dari sisi pendanaan, simpanan nasabah (deposits) BBRI mencapai Rp 1.656 triliun pada Agustus 2026, tumbuh 12,6% YoY. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit.

Kondisi tersebut membuat rasio kredit terhadap dana pihak ketiga alias loan to deposit ratio (LDR) membaik menjadi 87,4%, dari 89,7% pada Juli 2026.

Namun, struktur pendanaan BBRI mulai bergeser ke sumber dana yang relatif lebih mahal. Porsi dana murah atau CASA turun menjadi 64,8% pada Agustus 2026, dari 66,2% pada Juli 2026.

Baca Juga: KB Bank Dukung Pelaku UMKM Perkuat Fondasi Bisnis untuk Hadapi Tantangan

Penurunan CASA tersebut sejalan dengan pertumbuhan deposito berjangka yang mencapai 15% YoY.

Di tengah likuiditas industri yang lebih ketat, kekuatan jaringan ritel BBRI dinilai masih mampu menjaga stabilitas pendanaan. Namun, perubahan bauran pendanaan tersebut berpotensi mempertahankan tekanan terhadap margin dalam jangka pendek.

Dengan mempertimbangkan pemulihan kualitas aset, pertumbuhan kredit yang masih sehat, serta stabilisasi biaya kredit, analis mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBRI.

Target harga dipertahankan di Rp 3.900 per saham, berdasarkan valuasi 1,8 kali price to book value (P/BV) tahun 2026. Pada Jumat (2/10/2026) harga saham BBRI hingga pukul 09.54 WIB turun 0,97% di level Rp 3.070 per saham. 

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, terutama jika normalisasi kualitas aset berjalan lebih lambat dari perkiraan serta pemulihan segmen mikro lebih lemah dari ekspektasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×