Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kembali menggelar aksi pembelian kembali saham (buyback) dengan menyiapkan dana maksimal Rp 1 triliun. Langkah ini menjadi bagian dari strategi BRI dalam mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham di tengah dinamika pasar keuangan yang masih berfluktuasi.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada 22 Oktober 2026, BRI menjadwalkan pelaksanaan buyback tahap II pada periode 22 Oktober 2026 hingga 21 Januari 2027. Sebelumnya, BRI juga mengalokasikan dana maksimal Rp 500 miliar untuk buyback tahap I yang berlangsung pada 12 Juni hingga 11 September 2026.
Aksi tersebut melanjutkan langkah perseroan dalam melakukan buyback saham. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 24 Maret 2025, pemegang saham BRI telah menyetujui pelaksanaan buyback dengan nilai maksimal Rp 3 triliun. Pembelian dapat dilakukan melalui bursa efek maupun di luar bursa efek, secara bertahap atau sekaligus sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Potensi Ekspor UMKM Binaan BCA Tembus Rp 148,75 Miliar, Naik 34,12%
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pelaksanaan buyback secara bertahap merupakan bagian dari strategi BRI untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan dan ketentuan yang berlaku.
“Langkah buyback saham ini mencerminkan keyakinan BRI terhadap fundamental bisnis dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Perseroan tetap mengedepankan kecukupan permodalan, prinsip kehati-hatian, serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Dhanny.
Menurut Dhanny, keputusan buyback juga mempertimbangkan dinamika pasar global, mulai dari ketidakpastian ekonomi, tensi geopolitik, pergerakan harga komoditas, hingga arus modal yang memengaruhi volatilitas pasar keuangan Indonesia.
Di sisi lain, BRI menilai fundamental bisnis dan kondisi keuangannya masih memberikan ruang untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Hingga akhir kuartal II-2026, BRI membukukan laba bersih sebesar Rp 31,2 triliun.
Pada periode yang sama, total aset BRI tumbuh 11,7% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp 2.352 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) meningkat 6,7% YoY menjadi Rp 1.581 triliun, sedangkan penyaluran kredit dan pembiayaan tumbuh 16,2% YoY menjadi Rp 1.646 triliun.
Dari sisi permodalan dan likuiditas, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) BRI tercatat sebesar 21,5%, sementara rasio kredit terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 90,8%.
Dhanny menegaskan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan pertumbuhan yang sehat serta berkelanjutan.
“Ke depan, BRI akan tetap berfokus pada penguatan kinerja bisnis dan mendorong pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fundamental dan permodalan yang kuat, kami optimistis BRI memiliki ruang untuk terus bertumbuh serta memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham dalam jangka panjang,” pungkas Dhanny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














