kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.145   -2,00   -0,01%
  • IDX 5.379   6,17   0,11%
  • KOMPAS100 699   3,07   0,44%
  • LQ45 543   1,03   0,19%
  • ISSI 184   0,44   0,24%
  • IDX30 304   0,19   0,06%
  • IDXHIDIV20 402   0,76   0,19%
  • IDX80 81   0,36   0,45%
  • IDXV30 113   1,12   1,01%
  • IDXQ30 102   0,09   0,09%

BNI Kantongi Laba Rp 16,11 Triliun Hingga Kuartal III-2026, Tumbuh 6,62%


Selasa, 27 Oktober 2026 / 09:32 WIB
BNI Kantongi Laba Rp 16,11 Triliun Hingga Kuartal III-2026, Tumbuh 6,62%
ILUSTRASI. BNI cetak laba bersih sebesar Rp 16,11 triliun untuk periode Januari-September 2026. Realisasi itu tumbuh 6,62% secara tahunan (DOK/BNI)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) berhasil cetak kinerja positif dengan menjaga laju pertumbuhan profitabilitas hingga kuartal III-2026. Buktinya, laba bersih bank dengan kode emiten BBNI ini masih naik di periode Januari-September 2026.

Hingga September 2026, bank pelat merah ini mencatat laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp 27,5 triliun atau tumbuh 11,6% secara tahunan (year-on-year/YoY). Kenaikan tersebut jadi yang tertinggi untuk periode kuartal III-2026 sepanjang sejarah bank. 

Di sisi lain, laba bersih BNI tumbuh 6,62% YoY menjadi Rp 16,11 triliun pada sembilan bulan pertama 2026. Raihan tersebut terjadi di tengah tekanan margin dan kebutuhan pencadangan.

Baca Juga: Dimulai Hari Ini, BSI Buyback Saham Rp 500 Miliar hingga Januari 2027

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan bilang, kinerja sejauh ini ditopang penyaluran kredit yang meningkat 22,2% YoY menjadi Rp 992,5 triliun di akhir September 2026.

Di sisi pendanaan, dana murah (current account savings account/CASA) tumbuh 19,6% YoY menjadi Rp 733,7 triliun.

Putrama memastikan, BNI tetap menjaga pertumbuhan bisnis dengan memperkuat fundamental dan menerapkan disiplin pengelolaan risiko.

"Di tengah dinamika pasar yang menantang, BNI tetap menjaga momentum pertumbuhan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko. Fokus kami adalah memperkuat fundamental dan produktivitas untuk menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan," ujar Putrama dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNI meningkat 13,6% YoY menjadi Rp 33,2 triliun. Sementara itu, pendapatan berbasis komisi fee-based income tumbuh 8,3% YoY menjadi Rp 13,9 triliun di sembilan bulan pertama 2026.

Namun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BNI turun 30 basis poin secara tahunan menjadi 3,5%. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi penyusutan imbal hasil kredit atau loan yield dari 7,3% menjadi 6,9%.

Kendati begitu, biaya dana atau cost of fund (CoF) turun dari 2,83% menjadi 2,77%, ditopang pertumbuhan dana murah.

 

Di luar itu, Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena bilang, ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan menerapkan standar analisis kelayakan kredit yang disiplin. Strategi tersebut mendorong pangsa pasar kredit BNI meningkat 113 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 10,6%.

Penghimpunan dana murah juga menunjukkan pertumbuhan. Hingga September 2026, giro BNI meningkat 25,9% yoy, melampaui pertumbuhan industri sebesar 9,8% berdasarkan data Agustus 2026. Pangsa pasar giro naik 120 bps menjadi 13,2%, sedangkan pangsa pasar tabungan meningkat 10 bps menjadi 9,2%.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross membaik dari 2% menjadi 1,9%. Rasio loan at risk (LaR) juga turun dari 10,4% menjadi 7,8% di September 2026.

BNI menjaga rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri sebesar 3,5%. Sementara itu, rasio NPL coverage tercatat 193,3%.

Adapun dari sisi likuiditas, BNI mencatat rasio loan to deposit (LDR) sebesar 87,9% atau naik dari posisi 86,9% pada tahun sebelumnya, liquidity coverage ratio (LCR) 143,4%, dan net stable funding ratio (NSFR) 128,4%.

Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 19,2% atau turun dari posisi 21,1% pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Lanjutkan Buyback Saham, BRI Siapkan Dana Hingga Rp 1 Triliun

Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, BNI juga memperkuat layanan digital. Hingga September 2026, jumlah pengguna wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% YoY, dengan nilai transaksi Rp 1.774 triliun atau naik 25%YoY.

Sementara itu, BNIdirect mencatat nilai transaksi Rp 9.324 triliun, meningkat 16% YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293.000 atau tumbuh 19% YoY.

Memasuki kuartal IV-2026, BNI menyatakan bakal melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko, serta transformasi digital dan jaringan cabang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×