kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

Menakar Dampak Terbatasnya Pasokan BBM terhadap Pembiayaan Kendaraan Listrik


Minggu, 05 April 2026 / 15:18 WIB
Menakar Dampak Terbatasnya Pasokan BBM terhadap Pembiayaan Kendaraan Listrik
ILUSTRASI. PGN Dorong Pemakaian Bahan Bakar Gas untuk Kendaraan, Harga Stabil Rp 4.500 per Liter (Dok/PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN))


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terbatas akibat konflik Timur Tengah, berpotensi mendorong masyarakat mengalihkan minat ke kendaraan listrik.

Mengenai hal itu, Pengamat Industri Pembiayaan Jodjana Jody mengatakan, kondisi tersebut tidak serta-merta berdampak terhadap pembiayaan kendaraan listrik.

Jody menjelaskan, kepanikan sesaat soal BBM yang terbatas tidak serta-merta menaikkan penjualan kendaraan listrik murni. Sebab, alternatif hemat bahan bakar juga bisa dirasakan masyarakat dengan kendaraan hybrid.

Asal tahu saja, kendaraan hybrid memiliki dua sumber tenaga, yakni mesin bahan bakar konvensional dan motor listrik yang didukung baterai. 

Baca Juga: Berapa Biaya Pasang Listrik Baru 2.200 VA? Ini Rincian dari PLN

Dia bilang kendaraan hybrid juga memiliki kelebihan karena harganya murah, serta tidak adanya ketakutan risiko charging dan harga penjualan kembali yang jeblok.

Jody juga memproyeksikan masyarakat kemungkinan akan lebih melirik kendaraan hybrid dibandingkan listrik murni tahun ini, seiring juga banyaknya model yang beragam.

Dengan demikian, Jody memperkirakan multifinance masih akan lebih hati-hati dalam memberikan pembiayaan ke kendaraan listrik murni.

"Mayoritas masyarakat masih memikirkan re-sale value (kendaraan listrik murni), sehingga multifinance masih hati-hati memberikan kredit ke kendaraan listrik murni," katanya kepada Kontan, Sabtu (4/4/2026).

Menurut Jody, tingginya persaingan di sektor kendaraan listrik murni baik harga hingga model baru yang bermunculan, membuat harga bekasnya menjadi tak menarik. Hal itu menjadi pertimbangan bagi multifinance.

Meski ada isu soal keterbatasan BBM, Jody memperkirakan kendaraan tradisional masih akan diminati masyarakat. Dengan demikian, multifinance juga dinilai masih akan berfokus pada segmen itu tahun ini.

Baca Juga: Dampak Perang Iran: Korsel Naikkan Batas Harga BBM dan Suntik Likuiditas Obligasi

"Fokus pembiayaan mayoritas masih di kendaraan tradisional yang aman re-sale value-nya. Untuk kendaraan listrik murni, banyak masyarakat yang membeli dengan memakai cash. Jadi, sumber kenaikan pembiayaan tidak bisa diharapkan dari kendaraan listrik murni semata," tuturnya.

Sebagai informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, kinerja pembiayaan kendaraan listrik multifinance tumbuh secara signifikan.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK Agusman mengatakan pembiayaan kendaraan listrik multifinance mencapai Rp 21,05 triliun per Januari 2026.

"Nilainya tumbuh 39,13%, jika dibandingkan periode sama tahun sebelumnya," ungkapnya dalam lembar jawaban tertulis RDK OJK, Kamis (5/3).

Baca Juga: Asosiasi Pengemudi Ojol Dorong Pengalihan Subsidi BBM ke Sepeda Motor Listrik

Agusman menjelaskan bahwa  pertumbuhan signifikan itu didorong peningkatan penjualan kendaraan listrik.

Dia juga memperkirakan pembiayaan kendaraan listrik multifinance akan tetap tumbuh positif pada 2026, sejalan tren elektrifikasi kendaraan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×