kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Mengapa Pertumbuhan Bank Syariah Lambat? Ini Masalahnya


Jumat, 09 Januari 2026 / 14:03 WIB
Mengapa Pertumbuhan Bank Syariah Lambat? Ini Masalahnya
ILUSTRASI. CIMB Niaga Syariah sebut 5 faktor yang menjegal bank syariah, mulai dari keterbatasan investasi teknologi hingga tingginya biaya dana operasional (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah pesatnya perkembangan industri perbankan, CIMB Niaga Syariah melihat sejumlah tantangan masih menjegal laju perkembangan perbankan syariah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, jumlah aset bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) sebesar Rp 1.397 triliun hingga Oktober 2025. Sebagai perbandingan, total aset bank umum dalam periode yang sama mencapai Rp 13.219 triliun.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P. Djajanegara, menyebut pertumbuhan industri syariah secara keseluruhan memang berjalan relatif lambat.

Saat ini, Pandji bilang CIMB Niaga Syariah sebagai unit usaha syariah (UUS) terbesar masih memimpin pasar, utamanya dalam penyaluran pembiayaan dengan pangsa pasar hingga 8,9%.

Baca Juga: CIMB Niaga Syariah Berencana Spin Off Demi Dorong Pangas Pasar

Kendati begitu, secara industri ada berbagai faktor yang menghambat pertumbuhan pasar perbankan syariah. Pertama, keterbatasan modal.

“Mayoritas UUS dan BUS (bank umum syariah) berada di kategori KBMI 1–2, sehingga kapasitas pembiayaan dan ekspansi bisnis masih terbatas,” jelas Pandji kepada Kontan, Kamis (8/1/2026).

Kemudian, Pandji juga menyoroti masalah keterbatasan produk. Menurutnya, produk perbankan syariah masih didominasi oleh akad murabahah dan segmen UMKM. Sementara produk korporasi, trade finance, dan inovasi berbasis teknologi belum berkembang luas.

“Sehingga produk syariah dianggap belum banyak menawarkan nilai tambah yang unik, sehingga sulit menarik segmen baru,” kata Pandji.

Selanjutnya, perbankan syariah masih terbatas dalam investasi teknologi dan digitalisasi. Hal ini membuat daya saing layanan digital bank syariah tertinggal dari bank konvensional.

Baca Juga: CIMB Niaga Syariah: Pangsa Pasar Perbankan Syariah Bisa Capai 15% pada 2030

Selain itu, keterbatasan digitalisasi juga pada gilirannya membuat biaya dana membengkak karena operasional belum efisien. Tingginya biaya dana turut menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan perbankan syariah.

Terakhir soal literasi dan inklusi keuangan syariah yang belum seimbang. “Literasi keuangan syariah sudah mencapai 43,42%, tetapi inklusi masih rendah di 13,41%, sehingga pemahaman masyarakat belum diikuti dengan penggunaan produk,” sebut Pandji.

Selanjutnya: Rahasia Kekayaan Keluarga Del Vecchio, Penguasa Industri Kacamata Dunia

Menarik Dibaca: Tas Mewah Ada Hirarki Khusus Tergantung Brand, Ini Levelnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×