kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.882   6,00   0,03%
  • IDX 6.374   105,97   1,69%
  • KOMPAS100 836   13,50   1,64%
  • LQ45 634   8,05   1,29%
  • ISSI 220   3,58   1,65%
  • IDX30 354   2,96   0,84%
  • IDXHIDIV20 429   0,94   0,22%
  • IDX80 95   1,52   1,62%
  • IDXV30 118   0,42   0,35%
  • IDXQ30 112   0,52   0,46%

NPF Bank Syariah Mulai Merangkak Naik, Bank Perketat Kualitas Pembiayaan


Rabu, 12 Agustus 2026 / 17:22 WIB
NPF Bank Syariah Mulai Merangkak Naik, Bank Perketat Kualitas Pembiayaan
ILUSTRASI. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) industri perbankan syariah mulai naik secara tahunan di tengah ekspansi pembiayaan. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing / NPF) industri perbankan syariah mulai naik secara tahunan di tengah ekspansi pembiayaan yang masih tumbuh positif.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio NPF gross bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,27%. Angka tersebut membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 2,31%, namun masih lebih tinggi dibandingkan posisi Juli 2025 sebesar 2,24%.

Kenaikan NPF juga dialami sejumlah bank syariah. PT Bank Jabar Banten Syariah (bank bjb syariah) mencatat NPF gross meningkat menjadi 4,01% per Juni 2026 dari 3,85% pada Juni 2025. UUS OCBC NISP naik dari 2,80% menjadi 4,13%, BCA Syariah meningkat dari 1,75% menjadi 1,84%, sementara Bank Mega Syariah naik dari 0,99% menjadi 1,24%.

Baca Juga: 10 Unitlink Campuran dengan Return Tertinggi per Juli 2026

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, kenaikan NPF tersebut masih menjadi sinyal kewaspadaan, namun belum mencerminkan adanya pemburukan fundamental di industri perbankan syariah.

"Kenaikan NPF gross perbankan syariah pada Juni 2026 menurut saya masih merupakan lampu kuning, belum menunjukkan pemburukan struktural," ujar Trioksa kepada kontan.co.id, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, tekanan terutama berasal dari normalisasi risiko setelah ekspansi pembiayaan yang cukup kuat, sementara kemampuan bayar sebagian nasabah, khususnya UMKM, mikro, dan konsumer, masih menghadapi tekanan daya beli dan biaya pembiayaan.

Ia memperkirakan, NPF gross industri perbankan syariah masih berpotensi naik secara moderat hingga kisaran 2,3%-2,6% sampai akhir tahun. Bahkan, rasio tersebut bisa mendekati 3% apabila bank terlalu agresif menyalurkan pembiayaan tanpa diimbangi kualitas debitur yang memadai.

Karena itu, menurut Trioksa, bank syariah perlu lebih mengutamakan kualitas pembiayaan dibandingkan sekadar mengejar pertumbuhan. Langkah yang perlu diperkuat antara lain peningkatan credit scoring, analisis arus kas (cash flow), early warning system.

Baca Juga: Allianz Indonesia Mencatat Total Aset Gabungan Rp 41,9 Triliun per Juni 2026

Selain itu, melakukan pemantauan sektor berisiko, penguatan fungsi penagihan (collection), restrukturisasi sejak dini, diversifikasi portofolio, hingga pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang memadai.

"Kuncinya adalah menjaga agar pertumbuhan pembiayaan dua digit saat ini tidak berubah menjadi peningkatan NPF yang lebih besar pada 2027," katanya.

Adapun Direktur Utama Bank bjb Syariah Arief Setyahadi mengatakan, kenaikan NPF gross perseroan tidak terlepas dari tantangan ekonomi yang masih membayangi pelaku usaha maupun sektor konsumtif.

"Kenaikan NPF gross secara year on year merupakan dampak dari tantangan kondisi ekonomi saat ini. Untuk segmen produktif, tantangan ekonomi cukup memberikan tekanan bagi sektor UMKM, sedangkan pada segmen konsumtif berasal dari nasabah di sektor properti," ujarnya.

Baca Juga: Pegadaian Jadi Satu-satunya Penyedia Aset Dasar ETF Emas di Indonesia

Meski demikian, Bank bjb Syariah optimistis rasio NPF akan menurun hingga akhir tahun. Perseroan telah meningkatkan penagihan secara intensif, melakukan restrukturisasi sesuai ketentuan, memperkuat monitoring pembiayaan berjalan, serta menerapkan early warning system agar potensi penurunan kualitas pembiayaan dapat diantisipasi lebih dini.

Senada, Direktur BCA Syariah Ina Widjaja mengatakan, kenaikan NPF gross perseroan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan meski pembiayaan terus bertumbuh.

"Betul NPF gross kami di Juni secara year on year memang sedikit naik dari 1,75% menjadi 1,84% seiring dengan pertambahan pembiayaan yang kami salurkan. Namun, kenaikan tersebut masih bisa kami kontrol karena masih berada di bawah target yang kami inginkan," ujar Ina.

Menurut Ina, tantangan terbesar berasal dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih menghadapi tekanan akibat kondisi ekonomi tahun ini.

"Kami tahu bersama bahwa tahun ini dunia usaha, khususnya UMKM, memang menghadapi tantangan tersendiri. Hal itu juga dirasakan oleh nasabah-nasabah kami di segmen UMKM," katanya.

BCA Syariah menargetkan rasio NPF gross tetap berada di bawah 2% hingga akhir tahun sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB).

Untuk mencapainya, perseroan akan terus memperkuat manajemen risiko serta melakukan pendampingan kepada nasabah agar mampu menghadapi tantangan ekonomi pada semester II-2026.

"Kami akan tetap menjaga agar NPF sesuai target dalam RBB. Sebagai bank syariah, kami akan melakukan berbagai upaya agar nasabah dapat menghadapi berbagai tantangan ekonomi pada semester kedua ini sehingga kami bisa menjaga NPF tetap di bawah 2%," ujar Ina.

Sementara itu, Corporate Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menilai kenaikan NPF gross perseroan masih berada pada level yang sehat di tengah pertumbuhan pembiayaan.

"Hingga Juni 2026, total pembiayaan mencapai sekitar Rp 10,14 triliun. Pertumbuhan pembiayaan tersebut tetap diiringi dengan komitmen Bank untuk menjaga kualitas aset dan menerapkan prinsip kehati-hatian," ujarnya.

Menurut Hanie, hingga akhir tahun Bank Mega Syariah akan terus menjaga NPF gross pada level yang sehat melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan kualitas pembiayaan, monitoring secara berkala, serta fokus menyalurkan pembiayaan pada sektor-sektor strategis.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×