kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   -50.000   -1,77%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

OJK: NPL bisa ke bawah 3%, asalkan...


Minggu, 20 November 2016 / 21:10 WIB


Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkirakan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) akan semakin mengecil, terutama pada akhir tahun ini seiring meningkatnya penyaluran kredit.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D Hadad menyatakan, hingga akhir 2016, diperkirakan kredit dapat tumbuh sedikitnya 7% sampai 9%. "Pertumbuhan kredit pada September tinggi sekali sampai 7%. Dalam sebulan 1,6% tumbuhnya, kita harapkan seperti itu sehingga kredit bermasalah bisa ikut menurun," ujarnya di Jakarta, Sabtu (19/11).

Asal tahu saja, meski belum signifikan, NPL bank per September 2016 menunjukan penurunan dibandingkan dua bulan sebelumnya. Per Juli 2016 rasio NPL mencapai 3,18%, lalu meningkat di bulan Agustus menjadi 3,22%, namun turun kembali ke level 3,10% pada September 2016.

Itu sebabnya, OJK memperkirakan, laju NPL secara industri di akhir tahun ini berpeluang turun hingga di bawah 3%. Dengan catatan, pertumbuhan kredit pada Oktober 2016 sebagus bulan sebelumnya.

Kendati demikian, Muliaman menilai pertumbuhan kredit akhir tahun ini, tidak bisa double digit. Maklum, dari sisi permintaan kredit saat ini meski meningkat, tetapi masih relatif rendah.

Selain itu, OJK melihat pada 2017, peningkatan kredit juga akan menurunkan rasio NPL. Tidak tanggung-tanggung, Muliaman memproyeksikan, tahun depan kredit dapat tumbuh 9%-11%. "Mungkin tahun depan bisa 9%-11% malah bisa ke atas, karena usaha lanjutan yang dilakukan saat ini seperti perbaikan iklim investasi lewat optimalisasi belanja negara," ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×