kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.810.000   -40.000   -1,40%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

OJK: Volatilitas IHSG Berpotensi Tekan Kinerja Investasi Saham Asuransi


Jumat, 27 Maret 2026 / 17:59 WIB
OJK: Volatilitas IHSG Berpotensi Tekan Kinerja Investasi Saham Asuransi
ILUSTRASI. Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai tekanan dan volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal tahun 2026 berpotensi memengaruhi kinerja investasi industri asuransi, khususnya pada instrumen saham.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono mengatakan, dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, perusahaan asuransi cenderung melakukan penyesuaian portofolio investasi secara lebih hati-hati.

“Dalam kondisi pasar yang berfluktuasi, perusahaan asuransi umumnya melakukan penyesuaian portofolio investasi secara hati-hati untuk menjaga profil risiko dan kesesuaian dengan kewajiban jangka panjang,” tulis Ogi dalam jawaban tertulis PPDP RDK OJK, beberapa waktu lalu.

Berdasarkan data OJK per Januari 2026, penempatan investasi industri asuransi komersial pada instrumen saham tercatat sebesar 17,51% dari total investasi. Porsi ini sedikit menurun seiring dinamika pasar saham domestik serta strategi kehati-hatian yang diterapkan industri.

Baca Juga: Tokio Marine Life Sebut Volatilitas IHSG Berpotensi Pengaruhi Kinerja Unitlink Saham

Secara keseluruhan, total investasi industri asuransi komersial mencapai Rp 753,64 triliun pada awal tahun ini. Komposisi investasi masih didominasi oleh instrumen berisiko relatif rendah.

Penempatan terbesar berada pada Surat Berharga Negara (SBN) dengan porsi 41,08% dari total portofolio. Sementara itu, investasi pada reksadana tercatat sebesar 13,81%.

Ogi menjelaskan, komposisi investasi tersebut disesuaikan dengan karakteristik kewajiban masing-masing lini usaha asuransi. Pada asuransi jiwa, yang memiliki durasi kewajiban lebih panjang, penempatan dana pada SBN mencapai 42,07% dan saham sebesar 21,40% guna mengoptimalkan imbal hasil jangka menengah hingga panjang.

Baca Juga: Batas Investasi Pasar Saham Naik Jadi 20%, OJK Dorong Dapen dan Asuransi Masuk LQ45

Sebaliknya, asuransi umum dan reasuransi cenderung menerapkan strategi investasi yang lebih konservatif. Hal ini sejalan dengan kebutuhan likuiditas untuk pembayaran klaim yang relatif lebih pendek.

“Pada asuransi umum dan reasuransi, strategi investasinya lebih konservatif karena kebutuhan likuiditas klaim yang relatif jangka pendek,” jelasnya.

OJK menegaskan tidak mendorong pengalihan investasi industri asuransi ke instrumen tertentu. Keputusan investasi tetap berada di masing-masing perusahaan dengan mempertimbangkan profil risiko serta kecukupan solvabilitas.

“Prinsip yang dikedepankan adalah diversifikasi yang sehat berbasis profil risiko, durasi kewajiban, serta kecukupan solvabilitas dari masing-masing institusi,” tutup Ogi.

Baca Juga: Rupiah dan Saham Turun, Aswata Gunakan Pendekatan Investasi Konservatif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×