kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.476   -54,00   -0,31%
  • IDX 6.739   -120,33   -1,75%
  • KOMPAS100 896   -19,51   -2,13%
  • LQ45 659   -10,94   -1,63%
  • ISSI 244   -4,16   -1,68%
  • IDX30 372   -4,76   -1,26%
  • IDXHIDIV20 456   -5,54   -1,20%
  • IDX80 102   -1,84   -1,77%
  • IDXV30 130   -1,77   -1,35%
  • IDXQ30 119   -1,20   -0,99%

Bank Perlu Perkuat Keamanan Siber Seiring Perkembangan Layanan Digital


Rabu, 13 Mei 2026 / 12:20 WIB
Bank Perlu Perkuat Keamanan Siber Seiring Perkembangan Layanan Digital
ILUSTRASI. Bank perlu perkuat keamanan siber seiring perkembangan layanan digital (DOK/ammar rezqianto)


Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perkembangan layanan perbankan tidak bisa terlepas dari kemajuan digital. Seiring dengan optimalisasi digital, bank juga perlu untuk berinvestasi lebih pada keamanan siber.

Wakil Ketua Perbanas sekaligus Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong menyebut, pemanfaatan teknologi digital seperti kecerdasan buatan dan penyimpanan awan telah membuka ruang pengembangan baru bagi layanan perbankan.

"Berbagai inovasi digital telah membuka ruang baru bagi perbankan untuk meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional," kata Hendra dalam acara CxO Forum Banking, Jakarta, Kamis (13/5/2026).

Baca Juga: Usai Rencana Integrasi dengan MUFG, Investor BDMN Menanti Harga Tender Offer

Hendra mengatakan dengan semakin kuatnya optimalisasi digital, berbagai pekerjaan perbankan dapat dibuat lebih ringkas dan cepat.

Akan tetapi, ia juga mengingatkan, semakin luas skala digitalisasi perbankan, maka akan semakin besar pula risiko keamanan sibernya.

Ia kemudian menyebut data OJK mencatat sudah ada triliunan dana nasabah bank yang terkena serangan siber. Ini harus menjadi perhatian khusus bagi pihak bank untuk menjaga keamanan sibernya.

"Dan kebanyakan tidak bisa direcover. Kalau tidak salah yang direcover hanya 20-30%, mungkin juga enggak sampai," ucapnya.

Sebab itu, ia meminta bank untuk lebih serius berinvestasi pada keamanan digital. Menurutnya, besaran investasi digital di masing-masing bank sangat bergantung pada skala bisnis bank tersebut. Bank yang lebih besar tentunya memerlukan dana layanan keamanan yang lebih besar pula.

Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas OJK, Deden Firman juga memberi pendapat yang senada.

Baca Juga: WOM Finance Optimistis Prospek Pembiayaan Modal Kerja Masih Positif

Deden menyebut model bisnis perbankan di Indonesia sudah mulai berubah. Ia mencermati bank bank besar saat ini sudah semakin agresif mendorong layanan berbasis superapp. 

"Satu hal lagi adalah digitalisasi itu mendorong kolaborasi antara satu bank dengan bank lain," kata Deden dalam acara yang sama. 

Meski memiliki banyak peluang pertumbuhan, Deden juga menilai digitalisasi tidak terlepas dari risiko. 

Ia menyebut bank harus tetap berhati-hati dengan adanya risiko seperti kebocoran data serta serangan siber. 

Untuk itu, Deden mengimbau perbankan untuk terus memperkuat keamanan digitalnya. Jangan sampai teknologi keamanan yang dipakai kalah canggih dari serangan pihak luar. 

Baca Juga: Prudential Syariah Bayarkan Klaim Sebesar Rp 2,2 Triliun pada 2025

Salah satu contohnya adalah bank harus selalu mengupdate layanan anti-virus yang digunakan. "Sebetulnya kelemahan itu ada di dalam diri kita sendiri, misalnya penggunaan teknologi informasi atau core banking yang sudah usang," ucapnya. 

Ia pun mengutip data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang menyebut Indonesia sebagai top 10 negara dengan serangan anomali traffic terbanyak. Sebab itu, ia meminta bank untuk terus berhati-hati dalam pengembangan layanan digitalnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×