kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

OVO klaim pengguna tetap meningkat walau dikenakan biaya tambahan saat topup


Rabu, 19 Februari 2020 / 22:41 WIB
ILUSTRASI. Konsumen memindai barcode untuk melakukan pembayaran dengan aplikasi uang elektronik di salah satu gerai minuman di Jakarta./pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/07/01/2020.


Reporter: Annisa Fadila | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Visionet Internasional (OVO) kini kembali membuat kebijakan baru. Sebelumnya, OVO membebaskan biaya kepada penggunanya untuk lakukan topup, namun pada Maret mendatang kebijakan tersebut tak lagi berlaku. OVO mengenakan biaya tambahan Rp 1.000 saat lakukan topup.

Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengatakan, hal itu tak menjadikan pengguna OVO kian berkurang. Sebab, menurut data yang dimiliki oleh OVO, sepanjang tahun 2019 pengguna OVO alami kenaikan jika dibandingkan dengan tahun 2018 lalu.

Baca Juga: Ditunjuk sebagai Presiden Komisaris OVO, ini komentar Mirza

Labih lanjut,Karaniya menambahkan e-money merupakan suatu terobosan teknologi yang membutuhkan digital, hal itu membuat masyarakat tak hanya mencari layanan gratis, tetapi juga mencari kemudahan agar dapat lebih efisien.

“Kami sudah mengenakan biaya transfer, dan kami bukan jadi yang pertama, kami malah belakangan mengenakan biaya transfer. Kalau biaya top up itu kisarannya Rp.1.000, sejauh ini tidak kami melihat ada penurunan, malah pengguna naik terus,” Paparnya, Rabu (19/2).

Tak hanya itu. Karaniya turut menjelaskan terdapat 4 parameter yang menjadi tolak ukur OVO, keempatnya adalah montly active user, volume transaksi, frekuensi transaksi juga stock value facilitie. Menurutnya, dari keempat tersebut secara keseluruhan mengalami peningkatan secara signfikan.

Baca Juga: Dompet digital mana yang paling banyak dipakai di Indonesia?

Terkait hal itu, Karaniya turut menambahkan sejak berdirinya OVO, pihaknya selalu mengedukasi masyarakat, karena menurutnya dompet digital masuk ke dalam ekologi keuangan.

“Dari awal kami tentu mengedukasi, karena itu kita sebagai ekologi keuangan, apalagi e-money 3 tahun lalu belum banyak yang pakai. Kalau dilihat ke belakang, e-commerce butuh 11-12 tahun untuk berkembang. Sedangkan e-money itu baru ada 2-3 tahun lalu, tapi biaya promosi itu turun terus, sementara penggunanya naik. Saya kira itu provitability yang jelas,” Tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×