kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.776.000   7.000   0,40%
  • USD/IDR 16.565   20,00   0,12%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Peluncuran Danantara Tak Cukup Jadi Sentimen Positif Saham Bank BUMN


Senin, 24 Februari 2025 / 19:43 WIB
Peluncuran Danantara Tak Cukup Jadi Sentimen Positif Saham Bank BUMN
ILUSTRASI. Peluncuran Danantara pada awal pekan ini, tampaknya tak cukup memberikan sentimen positif bagi saham-saham bank BUMN.


Reporter: Adrianus Octaviano, Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto telah meluncurkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) pada awal pekan ini. Namun, tampaknya hal tersebut tak cukup memberikan sentimen positif bagi saham-saham bank BUMN.

Seperti diketahui, mayoritas bank-bank BUMN akan menjadi perusahaan pertama yang akan dikelola oleh badan investasi tersebut. Di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) dan PT Bank Mandiri Tbk.

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan kehadiran Danantara bisa berdampak besar bagi bank yang dekat dengan wong cilik ini. Di mana, BRI bisa lebih fleksibel layaknya bank swasta lainnya.

Baca Juga: 7 BUMN Jumbo Bakal Setor Dividen Ke Danantara, Pendapatan Negara Berpotensi Merosot

Ia bilang saat ini yang paling dibutuhkan oleh BRI adalah menjalankan bisnis dengan mengikuti bussiness judgement rule. Itu bisa terjadi dengan adanya Danantara ini.

“Ini akan memberikan nilai tambah, terutama karena agility-nya dan kesamaan level dengan korporasi-korporasi lainnya, baik swasta domestik maupun swasta asing,” ujar Sunarso, belum lama ini.

Sementara itu, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengingatkan bahwa nasabah tak perlu takut jika nantinya BNI bergabung dengan Danantara. Sebab, badan tersebut bertujuan untuk mengelola BUMN supaya dividennya naik dan itu yang dipakai untuk investasi.

“Dana Pihak Ketiga (DPK) nya enggak dipakai, yang dipakai itu dividennya,” ujar Royke singkat saat ditemui di Istana Negara, Senin (24/2).

Meski demikian, saham tiga bank tersebut tampaknya tak merespon positif dengan meluncurnya BPI Danantara. Terlebih, pada saham Bank Mandiri dan BNI yang terkoreksi pada awal pekan ini.

Sebagai informasi, saham BNI (BBNI) tercatat mengalami koreksi cukup dalam sekitar 2,33% menjadi Rp 4.200 per saham. Sementara, saham Bank Mandiri (BMRI) mengalami koreksi sekitar 0,99% menjadi Rp 5.025 per saham.

Hanya saham BRI atau BBRI yang tampak menguat sekitar 0,77% menjadi Rp 3.920 per saham. Namun, saham BBRI masih dalam terkoreksi selama sepekan terakhir sekitar 2,73%.

Baca Juga: Bos Bursa Buka Suara Soal Peluncuran Danantara

Analis PT Edvisor Profina Visindo Indy Naila berpendapat bahwa investor melihat masih ada spekulasi bahwa program danantara ini merupakan masalah politik yang cukup rumit. Oleh karenanya, dikhawatirkan bahwa dengan program Danantara yang diyakini akan membantu optimalisasi emiten-emiten perbankan ini tidak berjalan seperti sesuai dengan yang diekspektasikan.

“Dapat juga bergantung pada investor luar yang kurang  baik dalam merespon ini sehingga terjadi outflow,” ujarnya.

Di sisi lain, ia bilang masih ada sentimen-sentimen yang menekan emiten perbankan seperti kekhawatiran akan outlook suku bunga acuan kedepannya yang masih volatil. Bahkan pertumbuhan kredit juga belum pulih sepenuhnya yaitu berada di level 10,27%. 

Ia pun menyebut saham bank yang masih menarik adalah BMRI dan BBRI untuk buy on weakness. Alasannya, masing-masing emiten tersebur secara valuasi masih rendah.

“Target BMRI di Rp 6.100 sementara untu BBRI di Rp 5.000-Rp 5.075,” ujarnya.

Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan bilang seharusnya peluncuran Danantara menjadi sentimen positif bagi ekosistem perbankan nasional, terutama bagi bank-bank BUMN yang terlibat dalam proyek ini. 

Sayangnya, respons pasar yang cenderung datar atau bahkan negatif menunjukkan bahwa investor masih memiliki sejumlah kekhawatiran. Salah satu faktornya adalah pro dan kontra di masyarakat mengenai implementasi Danantara.

Baca Juga: Tony Blair Jadi Salah Satu Dewan Pengawas Danantara

“Ini membuat investor menunggu kejelasan lebih lanjut terkait dampak nyata dari inisiatif ini terhadap kinerja bank BUMN dalam jangka panjang,” ujarnya.

Namun, ia bilang di saat pergerakan cenderung flat dan melemah, ini justru menjadi momentum yang bagus untuk akumulasi saham, terutama di sektor perbankan yang bisa dibilang sektor yang memimpin di IHSG.

“Valuasi banking saat ini bisa dibilang murah dan sebentar lagi juga ada momentum dividen, jadi untuk keseluruhan emiten bank himbara seperti BMRI, BBNI, dan BBRI menarik untuk akumulasi bertahap,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia bilang saat ini yang paling bisa direkomendasikan adalah BBRI. Di mana, area akumulasi di Rp 3.800-Rp 4.000 dan target di Rp 4.800-Rp 5.000.

Selanjutnya: ESDM: Target B50 hingga B100 Butuh Tambahan Lahan Sawit

Menarik Dibaca: McDonald's Bagikan Sarapan Gratis dan Donasi ke Sekolah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×