kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Dapat Tumbuh Dobel Digit pada 2026


Rabu, 11 Februari 2026 / 18:47 WIB
AFPI Proyeksikan Pembiayaan Fintech Lending Dapat Tumbuh Dobel Digit pada 2026
ILUSTRASI. Ilustrasi fintech (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). OJK mencatat outstanding pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025.


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat outstanding pembiayaan industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar) mencapai Rp 96,62 triliun per Desember 2025.

Nilai itu tercatat tumbuh sebesar 25,44% secara Year on Year (YoY).

Melihat tren yang positif sepanjang 2025, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memproyeksikan industri fintech lending bisa tumbuh sebesar dobel digit pada 2026.

"Kami masih optimis untuk pertumbuhannya dobel digit," ucap Ketua Umum AFPI Entjik Djafar kepada Kontan, Selasa (10/2/2026).

Baca Juga: OJK Batasi Utang Peminjam Fintech Jadi 30% Mulai 2026, AFPI Yakin Industri Kian Sehat

Seiring masih terbukanya pertumbuhan pembiayaan industri, Entjik menerangkan penyelenggara fintech lending juga perlu menerapkan sejumlah upaya agar tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 bisa tetap terjaga. 

Dia mengimbau seluruh penyelenggara ketika memberikan pembiayaan tetap mengedepankan prinsip prudent dan comply dalam melakukan analisis kelayakan kredit. 

Sementara itu, Pengamat sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda memproyeksikan outstanding pembiayaan fintech lending kemungkinan masih berpotensi tumbuh di level yang tinggi pada 2026. 

Hal itu dipicu masih tingginya credit gap dan permintaan yang tinggi terhadap layanan fintech lending, termasuk dari segmen Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, dia berpendapat pertumbuhannya kemungkinan akan cenderung melambat pada 2026.

Baca Juga: Dirut dan Komisaris DSI Ditahan, Bareskrim Pastikan Penelusuran Aset Tetap Berjalan

"Prediksi dari Celios tumbuh di angka 15% pada 2026, atau lebih tinggi dibandingkan dengan target pertumbuhan kredit nasional yang hanya di angka 12% paling tinggi," ungkapnya kepada Kontan.

Nailul menerangkan salah satu faktor pertumbuhan cenderung melambat, yaitu masih hati-hatinya perbankan terhadap kredit berisiko, salah satunya terhadap underbanked people baik UMKM dan individu. 

Selain itu, dia mengatakan adanya penyesuaian kebijakan OJK, seperti pengetatan syarat pinjaman bagi borrower, juga menjadi faktor yang bisa menyebabkan pertumbuhan pembiayaan industri fintech lending melambat pada 2026.

Baca Juga: RUPD Dana Syariah Indonesia (DSI) Ditunda, Ini Penjelasan & Respons Paguyuban Lender

Sebagai informasi, tingkat risiko kredit macet secara agregat atau TWP90 fintech P2P lending per Desember 2025 tercatat sebesar 4,32%. Angka TWP90 per Desember 2025 tercatat membaik tipis, jika dibandingkan dengan posisi November 2025 yang sebesar 4,33%. 

Selanjutnya: Rekor Obligasi Korporasi 2025 Bisa Terulang di 2026, Analis Optimistis

Menarik Dibaca: 6 Sumber Protein Anti Inflamasi yang Bagus untuk Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×