kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

Buka Ruang Kolaborasi, BCA Expoversary 2026 Hadirkan Talkshow Scale Up Bisnis


Rabu, 11 Februari 2026 / 19:30 WIB
Buka Ruang Kolaborasi, BCA Expoversary 2026 Hadirkan Talkshow Scale Up Bisnis
Dok. BCA

Reporter: Tim KONTAN | Editor: Indah Sulistyorini

KONTAN.CO.ID - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah atau UMKM perlu memahami setiap tahapan pertumbuhan bisnis secara matang agar proses perluasan usaha atau bisnis dapat berjalan berkelanjutan. Mulai dari kesiapan personal pemilik usaha, pemahaman karakter pasar, hingga pemanfaatan teknologi dan kolaborasi, menjadi faktor penting agar merek lokal mampu naik kelas dan bersaing di level yang lebih luas, termasuk pasar global.

Untuk itu, di sela event BCA Expoversary 2026, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA turut menghadirkan talkshow “Scale Up and Stand Out: Growing Local Brands To The Next Level” yang digelar di Hall 5 ICE BSD Tangerang, pada Jumat (6/2/2026). Diskusi ini menghadirkan Senior Vice President BCA Adrian Hermansyah, MC sekaligus Owner Supper Burger and Sandwich serta Bansan Jakarta Paquita Genuschka, serta serial preneur M. Jupaka yang mengembangkan sejumlah merek seperti UNERD, Birth Beyond, Kebab Monster, Gong Cha, dan Kick Avenue. Talkshow ini dihadirkan untuk pengunjung dan pelaku UMKM guna membuka wawasan bisnis dan kolaborasi bisnis yang berkelanjutan.

Senior Vice President BCA Adrian Hermansyah menjelaskan, proses perluasan bisnis  tidak bisa disamaratakan untuk semua pelaku usaha. Setiap bisnis memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, tergantung pada lokasi, kapasitas, dan tahap perkembangan usaha. Salah satu cara agar bisnis semakin tumbuh adalah produk yang semakin inovatif.

Brand kini mulai melihat konsumen lebih niche, sehingga variasi produk disesuaikan dengan kebutuhan. Adrian menyebut, biasanya pola ini terlihat dalam brand Food and Beverage (F&B). Mereka akan menyesuaikan menu untuk menarik pelanggan, tanpa menghilangkan menu utama atau spesial.

“Biasanya brand F&B bikin produk variasi dan menu spesial. Itu yang bisa menambah nilai jual dan menarik konsumen,” ujar Adrian.

Faktor kondisi finansial dan operasional juga tidak bisa dianggap remeh karena berpengaruh terhadap rencana bisnis. Di sisi lain, UMKM butuh pembiayaan agar usaha mereka terus berkembang. Oleh karenanya, Adrian menekankan agar UMKM memiliki laporan keuangan yang transparan dan operasional bisnis yang jelas. Kriteria tersebut menjadi penilaian BCA sebelum memberikan pembiayaan kepada UMKM.

“Laporan keuangan yang terstruktur jadi patokan. Ini landasan penting untuk menilai brand sehat secara finansial,” jelas Adrian.

Senada, Jupaka mengungkapkan pelaku UMKM perlu memahami setiap fase pertumbuhan memiliki kebutuhan yang berbeda. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah menganggap ekspansi hanya soal memperbesar skala, tanpa menyesuaikan sistem, sumber daya, dan proses bisnis.

Misalnya, toko online dan offline punya perbedaan dalam pengelolaannya. Toko online belum tentu memberikan keuntungan yang tinggi. Bisa saja toko offline punya kekuatan berupa experience yang selama ini belum dicoba oleh UMKM.

Kondisi finansial juga perlu diperbaiki agar scale up bisnis terencana sesuai keuangan perusahaan. “Setiap stage itu berbeda. Ketika bisnis naik level, cara berpikirnya juga harus berubah. Mulai dari supply chain, operasional, sampai pengelolaan biaya. Kalau ini tidak disadari, scale up justru bisa jadi beban,” katanya.

Lebih lanjut, Jupaka mengatakan penting bagi owner memiliki mindset bisnis kolaboratif untuk ekspansi bisnis. Menurutnya, ada bisnis yang bergerak horizontal dan vertikal. “Skill dan kesiapan itu bukan sesuatu yang instan. Skill bisa berkembang ke atas dan ke samping. Dan itu saya harus memastikan bahwa setiap stage itu berbeda pola jualannya,” ujarnya.

Jupaka menilai, banyak pelaku usaha terjebak pada persepsi kesuksesan instan di media sosial. Padahal, tidak semua hal yang viral relevan untuk mendongkrak ekspansi bisnis. Sebagai solusinya, ia mengajak para owner untuk membuka ruang berkolaborasi sebagai salah satu strategi scale up yang efektif. Namun, kolaborasi harus dilakukan dengan perhitungan yang matang serta kesesuaian visi dan misi bisnis.

Scale up lewat kolaborasi itu powerful, tapi bukan sekadar ikut-ikutan. Harus jelas positioning-nya, industrinya apa, dan tujuan kolaborasinya ke mana,” kata Jupaka.

Saat kolaborasi, tentukan kejelasan konsep dan target pasar sejak awal, terutama bagi brand yang ingin menembus pasar internasional. Lewat kolaborasi, brand semakin dikenal dan memungkinkan produknya masuk pasar internasional. Namun, peluang tersebut hanya bisa dimanfaatkan jika brand punya produk berkualitas dan konsumen yang tepat.

“Di luar negeri, orang Indonesia itu banyak. Tapi yang membuat brand bertahan bukan hanya faktor kedekatan, melainkan kejelasan konsep dan kualitas produk,” pungkas Jupaka.

Selain diskusi, BCA Expoversary 2026 juga menampilkan produk UMKM binaan dalam program Bangga Lokal dan desa binaan. Pilihan produk pun sangat beragam mulai dari fesyen, food and beverage, barang rumah tangga, parfum, dan sebagainya. Selama berlangsung dari tanggal 5-8 Februari 2026, produk UMKM tersebut ramai dibeli pengunjung.

Selanjutnya: BEI Akan Terbitkan Shareholders Concentration List, Ini Dampaknya ke Pasar Saham

Menarik Dibaca: Hujan Ekstrem Landa Provinsi Ini, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (12/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

×