Reporter: Ferry Saputra | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029. Mengenai hal itu, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) memandang inisiatif pembangunan kampung nelayan sebagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pesisir, sekaligus membuka ruang bagi penguatan literasi dan inklusi asuransi di sektor maritim.
Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana mengatakan bagi perusahaan, peluang untuk masuk ke sektor tersebut tentu ada. Meski demikian, hal tersebut tak serta-merta langsung membuat Jasindo ingin menggarap sektor itu.
"Sebab, pendekatan kami bersifat prudent dan berbasis keberlanjutan," ungkapnya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Gema tak memungkiri bahwa karakteristik risiko di sektor nelayan memiliki kompleksitas tersendiri, sehingga dibutuhkan skema perlindungan yang tidak hanya kompetitif secara premi, tetapi juga memiliki keseimbangan risiko yang sehat.
Baca Juga: OJK Nilai Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Peluang bagi Industri Asuransi
"Dengan demikian, solusi yang dihadirkan tidak hanya bersifat proteksi, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para nelayan," tuturnya.
Di sisi lain, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memandang kebijakan tersebut memang dapat menjadi peluang positif bagi industri asuransi umum. Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan pembangunan tersebut juga turut menghadirkan berbagai fasilitas, seperti cold storage, pabrik es, dermaga, kendaraan, hingga kapal.
Dari perspektif asuransi, dia bilang pengembangan ekosistem seperti itu membuka kebutuhan perlindungan yang cukup luas. Alhasil, bisa menjadi peluang untuk berbagai lini di asuransi umum.
Baca Juga: AAUI: Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Bisa Jadi Peluang bagi Asuransi Umum
"Mulai dari asuransi properti dan engineering untuk infrastruktur, marine hull untuk kapal, marine cargo untuk distribusi hasil tangkapan, sampai perlindungan terhadap risiko bencana, cuaca, kecelakaan, dan gangguan usaha. OJK sendiri juga menilai program itu berpotensi menjadi peluang bagi industri asuransi," katanya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Meski demikian, Budi menyebut diperlukan desain ekosistem yang matang agar peluang terhadap kebijakan itu benar-benar bisa diwujudkan. Dia bilang desain yang diperlukan, seperti kejelasan objek pertanggungan, skema pembiayaan atau premi, data risiko, standar mitigasi, dan dukungan pemerintah apabila segmennya menyasar masyarakat kecil yang rentan.
Baca Juga: Jasindo: Premi Asuransi Umum Masih Berpeluang Tumbuh Positif Tahun Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












