kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.902.000   75.000   2,65%
  • USD/IDR 16.989   -60,00   -0,35%
  • IDX 7.165   116,84   1,66%
  • KOMPAS100 991   19,10   1,97%
  • LQ45 727   11,45   1,60%
  • ISSI 256   4,98   1,98%
  • IDX30 393   4,82   1,24%
  • IDXHIDIV20 488   1,01   0,21%
  • IDX80 112   2,02   1,84%
  • IDXV30 135   -0,36   -0,27%
  • IDXQ30 128   1,50   1,19%

AAUI: Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Bisa Jadi Peluang bagi Asuransi Umum


Rabu, 01 April 2026 / 11:16 WIB
AAUI: Pembangunan 5.000 Kampung Nelayan Bisa Jadi Peluang bagi Asuransi Umum
ILUSTRASI. Ketua Umum AAUI Budi Herawan (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto menargetkan membangun 5.000 Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) hingga 2029. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) memandang kebijakan tersebut memang dapat menjadi peluang positif bagi industri asuransi umum. 

Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan pembangunan kampung nelayan tersebut juga turut menghadirkan berbagai fasilitas, seperti cold storage, pabrik es, dermaga, kendaraan, hingga kapal. Dari perspektif asuransi, pengembangan ekosistem seperti itu membuka kebutuhan perlindungan yang cukup luas. Alhasil, bisa menjadi peluang untuk berbagai lini di asuransi umum.

"Mulai dari asuransi properti dan engineering untuk infrastruktur, marine hull untuk kapal, marine cargo untuk distribusi hasil tangkapan, sampai perlindungan terhadap risiko bencana, cuaca, kecelakaan, dan gangguan usaha. OJK sendiri juga menilai program itu berpotensi menjadi peluang bagi industri asuransi," katanya kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).

Baca Juga: AAUI Catat Premi Asuransi Rangka Kapal Naik 14,7% pada 2025

Meski demikian, Budi menyebut, diperlukan desain ekosistem yang matang agar peluang terhadap kebijakan itu benar-benar bisa diwujudkan. Dia bilang desain yang diperlukan, seperti kejelasan objek pertanggungan, skema pembiayaan atau premi, data risiko, standar mitigasi, dan dukungan pemerintah apabila segmennya menyasar masyarakat kecil yang rentan. 

Untuk saat ini, dia bilang setidaknya dari informasi publik yang dilihat, pembahasan mengenai keterlibatan industri asuransi masih berada pada tahap potensi dan penjajakan umum. 

"Dengan demikian, belum tampak skema implementasi rinci yang spesifik untuk industri asuransi umum," kata Budi.

Secara prinsip, AAUI memandang apabila program tersebut dibangun secara terintegrasi,  ruang keterlibatan industri asuransi menjadi terbuka, baik untuk perlindungan aset, aktivitas usaha perikanan, maupun penguatan ketahanan ekonomi masyarakat pesisir. 

"Kami juga mencatat bahwa pada program perlindungan sektor perikanan sebelumnya, pernah ada kolaborasi antara Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), OJK, dan AAUI. Dengan demikian, secara konsep, kerja sama lintas pihak seperti itu bukan hal baru," ucap Budi.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono sempat menyampaikan program pembangunan kampung nelayan berpotensi menjadi peluang bagi industri asuransi. 

"Pada prinsipnya, industri asuransi siap mendukung berbagai program pembangunan pemerintah dengan menyediakan solusi perlindungan risiko bagi masyarakat," kata Ogi dalam lembar jawaban RDK OJK, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga: AAUI Beberkan Kendala yang Dihadapi Asuransi Umum Dalam Meningkatkan Permodalan

Dalam konteks itu, Ogi menyampaikan asuransi dapat berperan sebagai pengelola risiko yang memberikan perlindungan terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk sektor kelautan dan perikanan. 

Dengan demikian, dia berharap keberadaan asuransi dapat mendukung keberlanjutan usaha masyarakat, serta meningkatkan ketahanan ekonomi para pelaku usaha nelayan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×