Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Wujudkan komitmen menjaga bumi Indonesia dan bisnis berkelanjutan, PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus fokus menumbuhkan pembiayaan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG).
Komitmen ini tercermin dari portofolio pembiayaan berbasis ESG BSI per Juni 2026 mencapai Rp78,6 Triliun atau 23,1% dari total pembiayaan BSI, tumbuh 7,09% dari periode sebelumnya. Pembiayaan tersebut terdiri atas Green Financing sebesar Rp17,4 triliun dan Social Financing sebesar Rp61,2 triliun.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta menjelaskan BSI memiliki tiga pilar ESG yakni sustainable banking, operation & beyond banking serta business enablers.
Baca Juga: Tumbuh 69,73%, Laba Industri Pergadaian Capai Rp 8,57 Triliun per Agustus 2026
‘’Kami membuktikan bahwa komitmen terhadap bisnis berkelanjutan membuat portofolio bisnis menjadi nyata dan tumbuh sehat", ujarnya dalam siaran pers, Jumat (9/10).
Dari sisi pendanaan, Perseroan juga memperkuat melalui pengembangan produk keuangan berkelanjutan melalui penerbitan Sustainable Sukuk dengan total penerbitan sebesar Rp8 triliun dari total penerbitan sukuk sustainability senilai Rp10 triliun.
"Bagi BSI, keberlanjutan merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, perlindungan lingkungan, tata kelola yang baik, serta penciptaan nilai ekonomi yang inklusif,” ujar Bob.
Prinsip tersebut menjadi landasan BSI dalam memastikan setiap aktivitas bisnis memberikan manfaat jangka panjang bagi nasabah, masyarakat, pemegang saham, dan lingkungan. Termasuk juga memperkuat lini bisnis grassroot melalui segmen UMKM yang saat ini menjadi bagian motor penggerak ekonomi rakyat.
Bagi BSI, pengembangan UMKM menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi syariah karena tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperluas manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Saat ini rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) sekitar 33,65% dari target yang ditetapkan 30%. Segmen UMKM menyumbang sekitar 16,25% dari total portfolio pembiayaan BSI.
Tak hanya itu, puluhan ribu UMKM naik kelas ke segmen usaha yang lebih tinggi. Diantaranya didominasi 17ribu UMKM KUR Mikro naik ke segmen KUR Kecil dan Komersial, sekitar 4ribu UMKM KUR Kecil menembus segmen komersial, dan sisanya sekitar seribuan UMKM naik dari segmen mikro menjadi segmen SME.
Komitmen terhadap ekonomi berkelanjutan juga diwujudkan melalui inovasi pembiayaan hijau dan instrumen keuangan berkelanjutan. BSI telah menerbitkan Sustainable Sukuk dengan total penerbitan Rp8 triliun serta meluncurkan Sustainability-Linked Financing pertama di Indonesia senilai Rp1,5 triliun untuk Tol Bali Mandara. Di sisi sosial dan lingkungan, BSI juga menyalurkan ZISWAF,penggunaan kendaraan operasional ramah lingkungan serta carbon tracking.
"Langkah ini sejalan dengan penguatan Good Corporate Governance (GCG) sebagai fondasi untuk memastikan seluruh aktivitas bisnis dijalankan secara transparan, akuntabel, bertanggung jawab, independen, dan sesuai dengan prinsip kehati-hatian," pungkasnya.
Baca Juga: Kredit Properti Tumbuh 18,4%, AAUI Harap Premi Asuransi Properti Pulih di Semester II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














