Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta garmen kembali menjadi sektor yang didorong pemerintah untuk mendapatkan dukungan pembiayaan perbankan. Sejumlah bank menyatakan masih melihat peluang pertumbuhan kredit ke sektor tersebut, meski penyaluran tetap dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan risiko industri.
Dorongan tersebut datang di tengah pertumbuhan kredit perbankan yang terus menguat. Berdasarkan data Bank Indonesia, kredit perbankan mencapai Rp9.019,3 triliun pada Agustus 2026 atau tumbuh 13,3% secara tahunan (yoy). Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 13,0%.
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan kredit terutama ditopang oleh kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI).
KMK pada Agustus 2026 tumbuh 12,3% yoy, meningkat dari pertumbuhan Juli 2026 sebesar 11,6%. Peningkatan tersebut antara lain didorong oleh penyaluran kredit ke sektor pertambangan dan penggalian, perdagangan, hotel dan restoran, serta pengangkutan dan komunikasi.
Baca Juga: Multifinance Makin Selektif Salurkan Pembiayaan UMKM di Tengah Risiko Kredit Macet
Sementara itu, kredit investasi tumbuh lebih tinggi sebesar 23,4% yoy pada Agustus 2026, naik dari 23,1% pada bulan sebelumnya. Pertumbuhan kredit investasi terutama didorong oleh penyaluran pada sektor konstruksi dan jasa-jasa.
Kredit TPT dan Garmen Dinilai Masih Prospektif
Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, industri TPT dan garmen masih prospektif untuk dibiayai karena memiliki pasar domestik dan ekspor yang besar serta menyerap banyak tenaga kerja.
Namun, menurutnya, perbankan tetap perlu selektif dalam meningkatkan eksposur ke sektor tersebut. Pasalnya, sejumlah pelaku industri masih menghadapi tekanan impor, mesin yang sudah tua, produktivitas rendah, volatilitas ekspor, hingga kondisi keuangan yang belum kuat.
“Peningkatan kredit sebaiknya diarahkan kepada perusahaan yang memiliki arus kas sehat, order dan pasar yang jelas, leverage terkendali, serta pembiayaan yang meningkatkan produktivitas, bukan sekadar untuk mengejar target penyaluran,” ujar Trioksa kepada kontan.co.id, Kamis (24/9).
Ia menilai, pemerintah juga perlu memperkuat mitigasi risiko agar perbankan lebih berani menyalurkan pembiayaan ke sektor TPT dan garmen.
Beberapa instrumen yang dapat digunakan antara lain subsidi bunga, penjaminan kredit, insentif modernisasi mesin, serta pengendalian impor ilegal.
“Dengan skema berbagi risiko tersebut, bank dapat meningkatkan pembiayaan TPT dan garmen tanpa mengorbankan prinsip kehati-hatian dan meningkatkan potensi NPL,” jelasnya.
OK Bank Tetap Selektif Salurkan Kredit
Senada, Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Kepatuhan OK Bank Efdinal Alamsyah mengatakan, pihaknya mendukung upaya pemerintah mendorong pertumbuhan sektor riil, termasuk industri TPT dan garmen yang berperan terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja.
Baca Juga: Dua Manajer Investasi Dirikan DPLK, Pasar Dana Pensiun Sukarela Makin Terbuka
OK Bank masih melihat peluang pembiayaan pada sektor tersebut. Namun, ekspansi kredit akan dilakukan secara prudent dan selektif dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing calon debitur.
Menurut Efdinal, sejumlah risiko di sektor TPT dan garmen masih perlu dicermati. Di antaranya kondisi permintaan domestik dan ekspor, persaingan dengan produk impor, pergerakan harga bahan baku dan nilai tukar, serta kemampuan perusahaan menjaga efisiensi dan daya saing.
“Secara keseluruhan untuk sektor manufacturing outstanding kredit OK Bank pada akhir Agustus 2026 sekitar 21%, termasuk sektor TPT dan garmen. Kalau khusus untuk TPT dan garmen kami tidak memisahkan sendiri,” katanya.
Ke depan, OK Bank tetap terbuka meningkatkan pembiayaan ke sektor TPT dan garmen sejalan dengan arah kebijakan pemerintah. Namun, pertumbuhan kredit akan dilakukan secara terukur.
Bank akan lebih fokus kepada debitur dengan fundamental dan arus kas yang sehat, pasar yang jelas dan terdiversifikasi, leverage yang prudent, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi industri.
BCA Salurkan Kredit Manufaktur Rp229,5 Triliun
Sementara itu, BCA juga menyatakan akan mencermati arahan pemerintah, regulator maupun otoritas perbankan terkait pembiayaan sektor TPT.
Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, BCA telah menyalurkan kredit ke sektor manufaktur, termasuk industri tekstil, sebesar Rp229,5 triliun per Juni 2026. Penyaluran tersebut tumbuh 11,8% secara tahunan (yoy).
“BCA berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya dengan mendorong penyaluran kredit ke berbagai sektor secara pruden. Pada prinsipnya, tren penyaluran kredit akan sejalan dengan kondisi perekonomian nasional,” kata Hera.
BCA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit dengan mempertimbangkan kebutuhan pembiayaan berdasarkan aktivitas usaha debitur. Perseroan juga terus mengawasi penggunaan kredit yang telah diberikan.
KB Bank Masih Punya Ruang Tambah Kredit TPT
Di sisi lain, KB Bank membuka peluang meningkatkan penyaluran kredit ke sektor TPT dan garmen sejalan dengan dorongan pemerintah untuk memperkuat pembiayaan industri padat karya.
Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi mengatakan, TPT dan garmen merupakan bagian dari industri padat karya yang memiliki kontribusi terhadap perekonomian nasional.
“Kalau TPT dan garmen itu kan sebenarnya industri padat karya. Jadi memang itu berada di industri yang padat karya,” ujarnya.
Baca Juga: Dua Manajer Investasi Dirikan DPLK, Pasar Dana Pensiun Sukarela Makin Terbuka
Widodo mengatakan, KB Bank tetap terbuka menyalurkan kredit ke sektor tersebut. Namun, prinsip kehati-hatian tetap menjadi pertimbangan utama, terutama dalam menganalisis calon debitur dan kredit baru.
“Kalau dari kami sendiri, kami masih tetap terbuka dengan sektor pemerintahnya, tetapi tetap prinsip kehati-hatian itu selalu jadi nomor satu,” katanya.
Saat ini, KB Bank telah memiliki portofolio kredit di sektor TPT dan garmen. Namun, porsinya masih relatif kecil.
“Kalau per hari-hari ini existing portfolio ada di TPT garmen, tetapi dalam jumlah tidak terlalu besar,” jelas Widodo.
Meski demikian, KB Bank masih melihat ruang untuk meningkatkan kredit ke sektor tersebut apabila prospek industri tetap positif dan hasil analisis kredit menunjukkan kondisi yang memadai.
“Apakah kami akan tumbuh di sini selama prospeknya masih bagus dan secara analisa kredit juga memadai, ya harusnya tetap kita masih punya ruang untuk tumbuh,” ujarnya.
Widodo menegaskan, KB Bank akan tetap mendukung sektor-sektor ekonomi yang dinilai memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional, dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














