kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.809.000   -16.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.222   -19,00   -0,11%
  • IDX 7.131   1,62   0,02%
  • KOMPAS100 965   -2,21   -0,23%
  • LQ45 689   -2,20   -0,32%
  • ISSI 258   -1,00   -0,39%
  • IDX30 380   -1,70   -0,45%
  • IDXHIDIV20 466   -5,35   -1,13%
  • IDX80 108   -0,29   -0,27%
  • IDXV30 136   -1,21   -0,88%
  • IDXQ30 122   -1,07   -0,87%

Penetrasi Masih Rendah, Bisnis Kartu Kredit Non-Bank Dinilai Prospektif


Senin, 27 April 2026 / 13:29 WIB
Penetrasi Masih Rendah, Bisnis Kartu Kredit Non-Bank Dinilai Prospektif
ILUSTRASI. Penggunaan Kartu Debit Bank Muamalat Selama Musim Haji 202 (Dok/Bank Muamalat)


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis kartu kredit non-bank dinilai masih terbuka lebar di tengah rendahnya penetrasi kartu kredit di Indonesia dan tingginya penggunaan layanan paylater. 

Peluang tersebut dinilai dapat dimanfaatkan oleh pelaku industri, baik bank maupun perusahaan non-bank yang mengantongi izin penerbitan kartu kredit.

Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia, Santoso Liem mengatakan, pada dasarnya kartu kredit merupakan instrumen alat pembayaran yang sumber dananya berasal dari skema kredit.

Karena itu, penerbitannya harus mengikuti ketentuan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK) yang diatur oleh Bank Indonesia.

Baca Juga: Kartu Kredit Non-Bank Diprediksi Tumbuh, Tapi Terdesak Tren QRIS dan BNPL

Menurutnya, potensi pertumbuhan kartu kredit di Indonesia masih cukup besar. Saat ini jumlah pengguna kartu kredit masih relatif kecil dibandingkan instrumen pembayaran lainnya.

“Jumlah nasabah kartu kredit sekitar 7 juta, sementara pengguna paylater jauh lebih besar. Peluang bagi bank maupun non-bank untuk masuk ke bisnis kartu kredit masih besar,” ujar Santoso kepada Kontan, belum lama ini.

Ia menambahkan, peluang tersebut juga terlihat jika dibandingkan dengan jumlah pengguna kartu debit yang telah mencapai lebih dari 150 juta nasabah. Dengan basis pengguna yang masih rendah, ruang ekspansi kartu kredit dinilai masih terbuka lebar.

Kendati demikian, Santoso mengingatkan bahwa tantangan utama bisnis kartu kredit berada pada kualitas portofolio kredit di tengah kondisi ekonomi yang lebih berat.

Baca Juga: Kredit Melambat, Bank Besar Genjot Pendapatan Non Bunga untuk Jaga Laba

Menurut dia, risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berpotensi meningkat seiring tekanan terhadap daya bayar masyarakat.

Opportunity memang besar, tetapi tantangannya adalah menjaga kualitas portofolio kredit. Di tengah kondisi ekonomi yang lebih berat, potensi kredit bermasalah bisa meningkat,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×