kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Penyaluran Kredit GOTO Finansial Tumbuh 40% Kuartal I


Selasa, 02 Mei 2023 / 23:46 WIB
 Penyaluran Kredit GOTO Finansial Tumbuh 40% Kuartal I
ILUSTRASI. Dok. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja bisnis keuangan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mulai menunjukkan perbaikan. Itu tidak hanya tercermin dari kenaikan nilai transaksi atau gross transaction value (GTV), tetapi juga dari sisi pinjaman dan margin. 

Sepanjang kuartal I 2023, GOTO Financial (GTV) mencatatkan nilain transaksi Rp 91,5 triliun, tumbuh 18% dari periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy). Capaian ini jadi penopang utama pertumbuhan GTV GOTO sebesar 6% yoy pada periode tersebut.

Adapun pinjaman yang disalurkan GTV atau credit channeling mencapai Rp 831 miliar hingga akhir Maret 2023, tumbuh 40% dari kuartal sebelumnya. Walau masih relatif kecil, tetapi capain ini telah membawa GOTO ke level baru di bisnis jasa keuangan.

GTF menyumbang pendapatan bruto  senilai Rp 424 miliar sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, meningkat 25% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Meski pendapatan kotor hanya tumbuh 25%, tetapi GTF berhasil membalikkan marjin kontribusi dari sebelumnya minus Rp349 miliar menjadi surplus Rp19 miliar, atau membaik 105%.
 
Marjin kontribusi adalah pendapatan bruto dikurangi beban pokok pendapatan, insentif dan biaya pemasaran produk. Indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi perusahaan dalam menghasilkan pendapatan. Semakin efisien biaya yang dikeluarkan maka semakin baik fundamental perusahaan. Marjin kontribusi adalah fase terpenting menuju adjusted ebitda positif.

GTF mencatatkan adjusted ebitda minus Rp 516 miliar kuartal I 2023.  Tetapi itu membaik dari periode sama tahun lalu dengan minus mencapai Rp 752 miliar. Menurut Direktur Utama Grup Goto Andre Soelisty, capaian tersebut menunjukan bahwa Goto Financial telah menuju profitabilitas dengan tetap mempertahankan pertumbuhan.

Capqaian itu didorong oleh pendapatan bruto dari unit bisnis ini yang juga meningkat 25% YoY menjadi Rp 424 miliar dengan take rater yang meningkat sekitar 0,5% dibandingkan tahun sebelumnya. “Produk consumer lending diperkirakan akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan utama pada unit bisnis financial technology,” ujar Andre dalam keterangan resminya, Kamis (27/4).

Analis memprediksi GTF bakal memainkan peran penting dalam mempercepat profitabilitas GOTO.  Pasalnya, bisnis pembiayaan konsumen menjanjikan margin tinggi sehingga dampaknya ke take rate bakal signifikan. Saat ini, take rate GTF masih di bawah 2% karena selama ini hanya  mengandalkan komisi transaksi sebagai sumber pendapatan. Ekspansi ke bisnis lending, yang menghasilkan pendapatan bunga, tentu bakal melambungkan take rate GTF.
 
GOTO juga dinilai punya peluang meningkatkan take rate dari GTF melalui bisnis pinjaman. Apalagi, saat ini, GTF baru menyasar segmen pengguna atau pelanggan melalui produk GopayLater Cicil. Jika pembiayaan terus diperluas ke para mitra usaha dan merchant, dalam bentuk kredit modal kerja, dampaknya bakal signifikan.    
 
“Marjin GoPayLater Cicil itu tinggi karena menyasar segmen konsumen dengan tenor pendek. Apalagi pengguna aktif GOTO besar sekali, ruang ekspansi masih terbuka lebar. Belum lagi jika GOTO tapping ke segmen mitra usaha serta merchant, ini yang akan menjadi salah satu motor pertumbuhan bisnis GOTO dan bisa mengantarkan perusahaan mencapai target adjusted EBITDA positif akhir tahun,” kata analis MNC Sekuritas Andrew Susilo, Selasa (2/5).
 
Andrew menjelaskan, saat ini suku bunga cukup tinggi dan kredit konsumen memiliki yield menarik. Secara marjin, setelah dikurangi cost of fund dan cost of credit, bisa mencapai 20%. “Kalau berbicara size, kita bisa melihat pengguna platform yang eligible mengakses produk lending ini saja sampai 4 juta. Kita juga dapat melihat kompetitor seperti Sea Bank yang menjadi bagian dari Sea Ltd (Shopee) dan Bank Neo Commerce (BBYB), afiliasi dari Akulaku,” katanya.
 
Pada 2022, Seabank membukukan kredit senilai Rp 15,8 triliun, melonjak 159% (yoy). Sementara BBYB mencatat kredit Rp10,2 triliun, tumbuh 139,6%. Padahal, dalam menyalurkan kredit, Seabank hanya mengandalkan ekosistem platform e-commerce Shopee, melalui produk Spaylater (paylater) dan Spinjam (consumer finance). Sedangkan BBYB mengandalkan ekosistem Akulaku.  
 
“GOTO yang memiliki ekosistem bisnis paling lengkap dan terintegrasi, mulai dari e-commerce, on demand service dan payment, tentu saja punya peluang sangat besar dari sisi skala. Yang ditunggu pelaku pasar dari bisnis GTF adalah kecepatan eksekusi dan kemampuan integrasi dengan bank Jago,” tambah Andrew.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×