Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan digital banking di Indonesia memasuki babak baru. Di tengah upaya bank-bank besar memperkuat layanan digital dan super apps mereka, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) meluncurkan aplikasi baru bernama Qita.
Kehadiran Qita dinilai menjadi sinyal bahwa industri perbankan mulai mengadopsi strategi multiaplikasi untuk memperluas jangkauan layanan digital dan menyasar segmen nasabah yang lebih spesifik. Strategi ini sebelumnya telah diterapkan oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui dua aplikasi andalannya, yakni BCA mobile dan myBCA.
Jika sebelumnya bank lebih fokus mengembangkan satu aplikasi utama sebagai pusat layanan digital, kini sejumlah bank mulai mengembangkan lebih dari satu platform guna mengakomodasi kebutuhan pengguna yang semakin beragam.
Berdasarkan informasi yang tercantum di Google Play Store, Qita hadir sebagai aplikasi finansial digital dengan berbagai fitur pengelolaan keuangan modern. Fitur-fitur tersebut antara lain Smart Bill Manager untuk pengingat pembayaran tagihan otomatis, Wealth Tracker untuk memantau portofolio keuangan, serta Instant Update yang memungkinkan pembaruan fitur dilakukan tanpa perlu memperbarui aplikasi secara manual.
“Hadir sebagai teman finansial digital yang modern, inklusif, dan dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata nasabah,” demikian deskripsi aplikasi Qita, dikutip Jumat (29/5/2026).
Baca Juga: Gejolak Pasar Tekan Hasil Investasi Asuransi Syariah, Sukuk Jadi Andalan
Posisi Qita dalam Ekosistem Digital BRI Masih Menjadi Tanda Tanya
Meski telah resmi diluncurkan, hingga kini BRI belum memberikan penjelasan resmi terkait posisi Qita dalam ekosistem digital perusahaan. Belum diketahui apakah aplikasi ini akan menjadi pelengkap BRImo, menyasar segmen pengguna tertentu, atau berkembang menjadi platform digital baru di luar aplikasi utama BRI tersebut.
Padahal, performa BRImo masih menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna BRImo mencapai 47,8 juta atau tumbuh 18,6% secara tahunan (year on year/YoY). Sementara itu, nilai transaksi yang diproses melalui BRImo melonjak 29,4% YoY menjadi Rp 2.042,2 triliun.
Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto menegaskan bahwa transformasi digital menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan dana murah perseroan.
“Pertumbuhan dana murah BRI didorong oleh transformasi digital, dengan seluruh kanal mencatatkan akselerasi dobel digit,” ujarnya dalam paparan kinerja perseroan.
Kinerja BRImo juga menopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) BRI yang meningkat 9,4% YoY menjadi Rp 1.555,1 triliun pada kuartal I-2026. Adapun porsi dana murah atau current account saving account (CASA) naik menjadi 68,07% atau setara Rp 1.058,6 triliun.
BCA Sukses Jalankan Strategi Dua Aplikasi
Strategi multiaplikasi sebenarnya bukan hal baru di industri perbankan nasional. BCA telah lebih dahulu menerapkannya melalui BCA mobile dan myBCA.
Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengungkapkan bahwa transaksi digital kini menyumbang sekitar 99,8% dari total transaksi yang diproses BCA.
Pada kuartal I-2026, frekuensi transaksi melalui myBCA tumbuh 45% YoY. Dari sisi nilai transaksi, pertumbuhan mencapai 47% YoY, sementara jumlah pengguna meningkat 57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Melalui aplikasi myBCA, kami menghadirkan hub finansial yang menghubungkan kebutuhan perbankan nasabah,” ujar Hera.
Menurutnya, myBCA dikembangkan sebagai pusat layanan keuangan digital yang menghadirkan pengalaman pengguna lebih intuitif. Aplikasi tersebut mengintegrasikan berbagai kebutuhan mulai dari transaksi harian, investasi, pembayaran QRIS, hingga layanan lifestyle.
Sementara itu, BCA mobile tetap dipertahankan sebagai aplikasi transaksi yang ringan dan cepat untuk memenuhi kebutuhan transaksi harian nasabah.
Baca Juga: Asing Gempur Saham Big Banks, BBCA Tertekan di Level Terendah Sejak Oktober 2021
Livin’, wondr, Bale, dan BYOND Jadi Andalan Bank Besar
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Bank Mandiri menjadi salah satu bank yang berhasil membangun ekosistem digital terintegrasi melalui Livin’ by Mandiri untuk segmen ritel dan Kopra untuk segmen wholesale.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyebutkan bahwa Livin’ by Mandiri kini digunakan oleh sekitar 39 juta pengguna atau tumbuh 27% YoY.
Frekuensi transaksi yang diproses melalui aplikasi tersebut mencapai 1,24 miliar transaksi atau meningkat 13% secara tahunan.
“Seluruh kapabilitas digital Bank Mandiri sejatinya merupakan sarana untuk menjangkau nasabah secara efektif dan efisien hingga ke wilayah terluar,” ujar Novita.
Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatat pertumbuhan pesat melalui aplikasi wondr by BNI. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna aplikasi tersebut telah melampaui 13 juta dengan nilai transaksi mencapai Rp 454 triliun atau tumbuh 113% YoY.
Direktur Finance & Strategy BNI Hussein Paolo Kartadjoemena menyebutkan bahwa platform digital menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan dana murah perseroan.
Di sisi lain, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) juga mencatatkan kinerja positif dari aplikasi Bale by BTN. Hingga April 2026, jumlah pengguna Bale by BTN mencapai sekitar 4,1 juta pengguna.
SEVP Digital Business BTN Thomas Wahyudi mengungkapkan bahwa Bale by BTN mencatat sekitar 40 juta transaksi atau tumbuh 87% YoY. Adapun volume transaksi mencapai Rp 44,2 triliun, meningkat 55% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
“Hal ini mencerminkan semakin tingginya adopsi layanan perbankan digital oleh masyarakat yang mengutamakan kemudahan, kecepatan, dan fleksibilitas dalam bertransaksi,” ujarnya.
Menurut Thomas, peningkatan tersebut didorong oleh semakin luasnya pemanfaatan berbagai fitur transaksi digital yang tersedia di Bale by BTN, mulai dari transfer dana, pembayaran tagihan, pembelian produk, hingga berbagai kebutuhan transaksi harian lainnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Berpotensi Mendorong Bisnis Hedging Perbankan
BTN optimistis jumlah pengguna Bale by BTN dapat melampaui 5 juta pengguna pada akhir 2026. Perseroan juga menargetkan pertumbuhan jumlah transaksi sekitar 55% dan kenaikan volume transaksi lebih dari 20%.
Adapun PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan melalui aplikasi BYOND by BSI.
Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar mengatakan bahwa transformasi digital menjadi salah satu fokus utama perusahaan dalam memperluas basis nasabah.
Saat ini, jumlah customer base BSI mencapai 23,7 juta nasabah atau bertambah 9,26 juta nasabah sejak merger pada 2021. Sementara itu, aplikasi BYOND by BSI yang diluncurkan pada akhir 2024 kini telah memiliki 9,8 juta pengguna yang didominasi generasi milenial dan Gen Z.
Dalam satu tahun terakhir, jumlah pengguna BYOND tumbuh 59% YoY. Hingga Maret 2026, jumlah transaksi yang diproses mencapai 199 juta transaksi dengan volume sekitar Rp 200 triliun.
“Transformasi digital membuktikan bahwa layanan syariah semakin diminati, terlebih karena kemudahan akses, aman, dan mudah,” ujar Wisnu.
Strategi Multiaplikasi Dinilai sebagai Langkah Segmentasi dan Modernisasi Teknologi
Investor Relation and Research (IRRD) Economist BTN Myrdal Gunarto menilai fenomena peluncuran aplikasi baru di tengah kuatnya aplikasi yang sudah ada bukanlah indikasi kegagalan platform lama.
Menurutnya, strategi multiaplikasi lebih mencerminkan upaya segmentasi layanan sekaligus transisi teknologi menuju sistem yang lebih modern.
“Strategi multi-app kemungkinan besar bukan standar baru yang permanen, melainkan strategi transisi teknis dan segmentasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa banyak aplikasi perbankan generasi awal dibangun menggunakan arsitektur monolithic yang memiliki keterbatasan dalam mengakomodasi fitur-fitur baru yang semakin kompleks, seperti wealth management, layanan lifestyle, hingga integrasi merchant.
“Membangun aplikasi baru dengan arsitektur microservices dan cloud-native jauh lebih aman dibanding membongkar aplikasi utama yang sudah digunakan jutaan pengguna aktif harian,” katanya.
Baca Juga: Tingkat Bunga Penjaminan LPS Tetap Sebesar 3,50%, Berlaku hingga September 2026
Myrdal menilai kehadiran Qita lebih tepat dipandang sebagai upaya diversifikasi ekosistem digital BRI dibandingkan sebagai sinyal bahwa BRImo tidak lagi optimal.
“BRImo tetap sangat sukses sebagai motor transaksi ritel dan inklusi keuangan. Aplikasi baru biasanya ditujukan untuk proposisi nilai yang berbeda seperti segmen digital native, Gen Z, atau layanan finansial yang lebih personal,” imbuhnya.
Meski demikian, strategi multiaplikasi juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah potensi kebingungan pengguna apabila fungsi masing-masing aplikasi tidak dikomunikasikan secara jelas.
“Jika pemisahan proposisi nilainya tidak dikomunikasikan dengan tajam, nasabah bisa bingung harus menggunakan aplikasi yang mana untuk kebutuhan tertentu,” katanya.
Selain itu, bank juga harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk membangun kesadaran merek dan mengakuisisi pengguna baru pada lebih dari satu aplikasi.
Menurut Myrdal, persaingan aplikasi digital perbankan saat ini telah bergeser dari sekadar kanal transaksi menjadi mesin utama profitabilitas industri perbankan.
“Aplikasi digital sekarang menjadi core engine profitabilitas bank. Mulai dari pendorong fee based income, efisiensi operasional, hingga perebutan dana murah atau CASA,” ujarnya.
Ia menambahkan, bank yang mampu menghadirkan pengalaman pengguna terbaik dan ekosistem layanan paling lengkap akan lebih berpeluang menjadi rekening utama nasabah.
“Ketika dana transaksi harian mengendap di sana, bank mendapatkan CASA murah yang pada akhirnya menekan cost of fund dan memperlebar margin bunga bersih,” tutup Myrdal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













