kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 17.741   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.584   58,69   0,90%
  • KOMPAS100 861   9,08   1,07%
  • LQ45 652   7,81   1,21%
  • ISSI 230   1,40   0,61%
  • IDX30 365   4,60   1,28%
  • IDXHIDIV20 449   6,04   1,36%
  • IDX80 98   1,09   1,12%
  • IDXV30 125   0,69   0,55%
  • IDXQ30 116   1,45   1,26%

Pindar Makin Banyak Dipakai untuk Kebutuhan Konsumsi


Selasa, 01 September 2026 / 10:01 WIB
Pindar Makin Banyak Dipakai untuk Kebutuhan Konsumsi
ILUSTRASI. Pemanfaatan pinjaman daring (pindar) di tengah tekanan daya beli masyarakat mulai bergeser ke kebutuhan konsumsi sehari-hari (Pinterest/Pinterest)


Reporter: Ade Priyatin | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan pinjaman daring (pindar) di tengah tekanan daya beli masyarakat mulai bergeser ke kebutuhan konsumsi sehari-hari. Kondisi ini menjadi perhatian karena penggunaan pembiayaan untuk kebutuhan dasar berpotensi meningkatkan risiko kualitas kredit.

Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mencermati, pindar kini makin banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan cepat di tengah daya beli masyarakat yang masih tertekan.

Masyarakat saat ini tidak lagi banyak menggunakan pembiayaan untuk membeli barang dengan masa pakai panjang maupun kebutuhan produktif. Sebaliknya, pinjaman mulai digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari termasuk untuk kebutuhan makan.

"Masyarakat saat ini sudah dalam tahap matang atau makan utang, bukan lagi mantab atau makan tabungan," ujarnya kepada Kontan, Senin (31/8/2026).

Baca Juga: Intip Strategi Asuransi Asei untuk Tekan Rasio Klaim

Kondisi ini terjadi karena sebagian masyarakat masih kesulitan mengakses pembiayaan dari perbankan. Alhasil, mereka beralih ke pembiayaan alternatif seperti pindar maupun layanan lain, yakni Buy Now Pay Later (BNPL).

Apalagi porsi pembiayaan konsumtif di industri pindar saat ini lebih besar dibandingkan dengan pembiayaan produktif.

Hingga Juni 2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan pembiayaan pindar kepada sektor UMKM meningkat 23,25% secara tahunan. Jumlah tersebut mencakup sekitar 33,41% dari total pembiayaan pindar yang pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp105,14 triliun.

Meski pembiayaan produktif masih menunjukkan pertumbuhan positif, Nailul menilai kondisi usaha masih menunjukkan kinerja yang lesu, penurunan indeks ritel, dan konsumsi masyarakat melambat sehingga risiko pembiayaan UMKM semakin besar.

Baca Juga: Pembiayaan SME Muamalat Tumbuh 21%

Karena itu, dari sisi kualitas pembiayaan pada sektor produktif pun memiliki risiko yang lebih besar.

Sejalan dengan itu, ia menilai perbaikan kualitas pembiayaan jauh lebih penting dibandingkan dengan penyaluran pembiayaan yang agresif.

Dengan begitu, kualitas pembiayaan akan ikut serta membaik seiring dengan perbaikan kualitas penyaluran pembiayaan, baik konsumtif maupun produktif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×