kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Premi Asuransi Properti Stabil, Bisnis Asuransi Kendaraan Terancam BBM Naik


Rabu, 15 April 2026 / 15:49 WIB
Premi Asuransi Properti Stabil, Bisnis Asuransi Kendaraan Terancam BBM Naik
ILUSTRASI. Asei (Asei/Asei )


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asuransi properti, kendaraan bermotor, dan kredit masih menjadi kontributor terbesar premi industri asuransi umum pada 2025. 

Bagi PT Asuransi Asei Indonesia kinerja ketiga lini asuransi tersebut pada tahun ini cukup stabil. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe menyebut kinerja lini asuransi properti sepertinya masih akan cukup stabil tahun ini.

"Saya memperhatikan kalau properti, semua industri harus diasurasikan. Jadi, sepanjang tidak ada industri baru, berarti preminya tetap seperti itu," katanya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).

Baca Juga: Klaim Asuransi Kendaraan Naik 9,89% per Februari 2026

Untuk asuransi kendaraan bermotor, Dody menjelaskan kinerjanya akan dipengaruhi oleh penjualan kendaraan. Dia khawatir dengan isu potensi Bahan Bakar Minyak (BBM) naik dan ada kemungkinan inflasi barang-barang impor, bisa saja memengaruhi penjualan kendaraan sehingga berdampak terhadap lini asuransi tersebut.

"Apakah pertumbuhan kendaraan itu akan berdampak kepada pertumbuhan premi asuransi? Mari, lihat," tuturnya.

Untuk asuransi kredit, Dody mengatakan industri sepertinya sudah mulai mengetatkan assessment risiko pasca pandemi Covid-19. Selain itu, dia bilang implementasi POJK 20 tahun 2023 juga menjadi tantangan.  

Adapun aturan itu, salah satunya berisi asuransi umum tidak lagi cover risiko kredit meninggal dunia. Jadi, murni memang asuransi kredit karena kredit default. Selain itu, adanya tantangan ketentuan soal co-sharing yang mana partner dari perbankan harus mengimplementasikan POJK 20/2023. 

"Tantangannya adalah partner perbankan apakah sepenuhnya sudah mengimplementasikan POJK 20/2023? Sekarang masih belum sepenuhnya. Jadi, kalau itu ternyata nanti bisa sepenuhnya, maka kredit dibandingkan dengan tahun lalu bakal naik," ucapnya.

Lebih lanjut, Dody mengatakan tantangan berikutnya lini asuransi kredit adalah implementasi proteksi untuk kredit fintech peer to peer (P2P) lending. Meski sudah mulai diterapkan, dia bilang kondisinya masih perlu dicermati ke depannya.

Sebagai informasi, data AAUI mencatat, lini asuransi properti meraih premi Rp 32,87 triliun per akhir 2025, dengan pertumbuhan 8,6% secara Year on Year (YoY). Porsi lini tersebut sebesar 29,1% terhadap total pendapatan premi.

Baca Juga: Meski Likuiditas Masih Longgar, Bank Masih Rajin Rilis Obligasi Baru

Lini asuransi kredit menjadi penopang terbesar kedua dengan nilai sebesar Rp 19,04 triliun, atau tumbuh 11,2% secara YoY. Adapun lini tersebut memakan porsi sebesar 16,9% terhadap total premi industri.

Selanjutnya, lini asuransi kendaraan bermotor mencatatkan premi sebesar Rp 19,02 triliun per akhir 2025, atau terkontraksi 4,2% secara YoY. Adapun porsi premi asuransi kendaraan bermotor sebesar 16,9% terhadap total premi industri. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×