kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Meski Likuiditas Masih Longgar, Bank Masih Rajin Rilis Obligasi Baru


Rabu, 15 April 2026 / 15:21 WIB
Meski Likuiditas Masih Longgar, Bank Masih Rajin Rilis Obligasi Baru
ILUSTRASI. Suasana di Treasury Bank Negara Indonesia, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang masih lebih masif ketimbang kredit mengindikasi kecukupan likuiditas perbankan. Namun, opsi penerbitan surat utang alias obligasi tetap diambil untuk mengantisipasi kebutuhan dana lebih lanjut. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat DPK perbankan tumbuh 13,18% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp 10.102 triliun per Februari 2026. Meski melandai dari pertumbuhan 13,48% yoy pada bulan sebelumnya, pertumbuhan DPK tetap lebih kencang ketimbang kredit yang tumbuh 9,37% yoy menjadi Rp 8.559 triliun pada Februari 2026. 

Namun OJK menargetkan kredit bisa tumbuh 10% – 12% hingga akhir tahun nanti. Maka dari itu, Head of Financial Institutions Rating Division Pefindo Danan Dito bilang kecukupan likuiditas menjadi salah satu yang perlu terus dijaga oleh perbankan. 

Baca Juga: ASEI Sebut Penerapan PSAK 117 Bisa Bikin Industri Asuransi Hadapi Tekanan Baru

Sejauh ini, Dito bilang posisi likuiditas bank, terutama bank milik negara (Himbara), masih tergolong kuat. Menurutnya bank-bank pelat merah masih memiliki profil kredit yang solid dengan peringkat tertinggi dan prospek stabil.

“Walaupun risiko secara makro dan industri meningkat, dari sisi finansial ketahanan mereka juga sangat kuat,” ujar Danan dalam konferensi pers, Rabu (15/4/2026).

Danan bilang pengalaman saat pandemi Covid-19 menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan tetap tinggi. Saat periode penuh ketidakpastian itu, dana masyarakat justru banyak masuk ke perbankan karena dianggap sebagai tempat penyimpanan dana yang aman. “Jadi justru menjadi safe haven, dana-dana banyak mengalir ke bank,” katanya.

Ia menambahkan, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mulai melandai lebih dipengaruhi ekspektasi perlambatan pertumbuhan ekonomi ke depan. Selain itu, pertumbuhan simpanan juga akan menyesuaikan dengan laju ekspansi kredit.

Di tengah kondisi likuiditas yang relatif longgar tersebut, bank-bank tetap aktif menghimpun dana dari pasar modal melalui penerbitan obligasi.

Head of Economic Research Division Pefindo Suhindarto mengungkapkan, pada kuartal I-2026 pihaknya mencatat terdapat empat bank yang telah menerbitkan surat utang dengan nilai Rp 8,7 triliun. Ia bilang salah satu bank BUMN melakukan penerbitan lebih dari satu kali, yakni pada Januari dan Maret 2026.

Sementara itu, masih ada enam mandat penerbitan senilai Rp 9,18 triliun dari sektor perbankan yang belum listing. Komposisinya seimbang, yakni tiga berasal dari kelompok BUMN dan tiga dari bank swasta.

Menurut Suhindarto, tetap aktifnya penerbitan obligasi menunjukkan bank tak cuman mengandalkan dana murah dari simpanan nasabah, tetapi juga menjaga fleksibilitas struktur pendanaan untuk menopang pertumbuhan bisnis ke depan.

Baca Juga: AIA: Revisi Aturan Unitlink OJK Berpotensi Dongkrak Kinerja Produk PAYDI

Salah satu bank yang masih tancap gas menerbitkan obligasi ialah Bank Tabungan Negara (BTN). Tahun ini, tepatnya pada semester II nanti, bank menargetkan penerbitan obligasi sebesar Rp 4 triliun untuk memperkuat likuiditas dan mendukung penyaluran kredit. 

Menariknya, penerbitan obligasi ini tetap dilakukan meski BTN sudah mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp 10 triliun dari pemerintah. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menjelaskan, keputusan itu diambil karena sejatinya sumber dana tersebut tak bisa saling menggantikan. 

“Kalau obligasi itu kan panjang (tenornya), bisa lima sampai tujuh tahun, Kalau likuiditas tambahan ini dapat ditarik sewaktu-waktu,” jelas Nixon. Di samping itu, Nixon bilang secara manajemen liabilitas dua sumber dana itu memiliki perbedaan setidaknya dalam hal pricing dan risiko suku bunga. 

Tren pertumbuhan kredit BTN yang masih terbilang kencang menjadi alasan bank tetap fokus menghimpun dana di tengah kecukupan likuiditas saat ini. “Tahun lalu saja (tumbuh) double digit. Jadi kami memang butuh likuiditas,” imbuh Nixon. 

Agak berbeda, CIMB Niaga justru belum melihat kebutuhan penerbitan obligasi dalam waktu dekat. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan bilang pada dasarnya penerbitan obligasi bersifat fleksibel, sesuai kebutuhan bank. 

“Obligasi stand by saja hanya jika dibutuhkan. Kami belum melihat ada kebutuhan saat ini,” ungkapnya. 

Pasalnya, Lani bilang posisi likuiditas bank saat ini masih cukup solid. Pun, pihaknya belum melihat permintaan kredit bakal melaju kencang dalam waktu dekat. Untuk tahun ini saja, bank memproyeksi kredit tumbuh di rentang 3% – 5%, membuka potensi perlambatan dari pertumbuhan 4,5% pada tahun lalu. 

Baca Juga: Minat Asuransi Kendaraan Listrik Tumbuh, Premi Great Eastern Naik 124% Kuartal I-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×