Reporter: Secillia Hafifah | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prudential Indonesia mencatat pertumbuhan pendapatan premi dari produk asuransi penyakit kritis pada Semester 1 2026. Pendapatan premi produk PRUCritical Benefit 88 (PCB88) mencapai Rp 779 miliar, naik 5% dari Rp 740 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan, perlindungan penyakit kritis semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap risiko kesehatan dan dampaknya terhadap kondisi finansial keluarga.
"Kami melihat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan penyakit kritis terus berkembang. Penyakit kritis tidak hanya menimbulkan biaya pengobatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bekerja, mempertahankan penghasilan, dan memenuhi kebutuhan keluarga selama menjalani perawatan maupun pemulihan," kata Yosie kepada Kontan, Rabu (7/10/2026).
Baca Juga: Adira Finance Siapkan Strategi Penuhi Aturan Free Float 15%
Menurutnya, kebutuhan perlindungan tersebut semakin penting di tengah kenaikan biaya kesehatan. Inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8% pada 2026 berdasarkan Mercer, tertinggi daripada rata-rata kawasan Asia.
Kenaikan biaya kesehatan antara lain dipengaruhi oleh peningkatan harga obat-obatan, penggunaan teknologi medis yang semakin modern, pelemahan nilai tukar rupiah, dan kondisi ekonomi global.
"Memiliki perlindungan sejak dini menjadi semakin penting karena biaya pengobatan dapat terus meningkat, sedangkan risiko kesehatan dapat terjadi secara tidak terduga," ujarnya.
Di sisi klaim, Prudential Indonesia mencatat pembayaran klaim produk asuransi penyakit kritis melalui PCB88 sebesar Rp 73 miliar pada Semester 1 2026. Nilai tersebut meningkat 16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 63 miliar.
Yosie mengatakan, peningkatan klaim dipengaruhi kombinasi meningkatnya risiko penyakit tidak menular dan tingginya biaya penanganan penyakit kritis. Perawatan penyakit kritis umumnya membutuhkan teknologi medis, obat-obatan berbiaya relatif tinggi, serta pemeriksaan dan terapi berulang.
Sebagai gambaran, rata-rata biaya tindakan operasi bypass jantung di rumah sakit mitra PRUPriority Hospitals meningkat dari sekitar Rp 57 juta pada 2023 menjadi Rp 95 juta pada 2025, atau naik 67%.
Sementara itu, berdasarkan data klaim Kesehatan Prudential Indonesia tahun 2025, kanker payudara, penyakit jantung iskemik kronis, kanker paru-paru, dan penyakit ginjal kronis menjadi penyakit kritis dengan nilai dan volume klaim yang signifikan.
Baca Juga: Buana Finance Kantongi Fasilitas Kredit Rp150 Miliar dari Bank Ganesha
Kanker payudara menjadi penyakit dengan nilai klaim tertinggi, mencapai lebih dari Rp 411 miliar. Sementara penyakit ginjal kronis mencatat volume klaim tertinggi dengan lebih dari 17.500 klaim.
Untuk menjaga pertumbuhan bisnis sekaligus mengendalikan risiko klaim, Prudential Indonesia memperkuat penilaian risiko medis dan evaluasi biaya secara berkala.
"Pendekatannya perlu mencakup edukasi, pencegahan, deteksi dini, pengelolaan risiko, serta kolaborasi dengan berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan," kata Yosie.
Prudential Indonesia juga bekerja sama dengan lebih dari 1.700 jaringan PRUPriority Hospitals per Juni 2026 untuk memastikan nasabah memperoleh perawatan berkualitas dengan biaya yang wajar.
Selain itu, perusahaan memperkuat transparansi estimasi biaya dan kesesuaian perawatan dengan indikasi medis serta jalur klinis. Analisis tren klaim dan biaya perawatan juga dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kualitas pelayanan, keterjangkauan perlindungan, dan kemampuan perusahaan membayar klaim secara berkelanjutan.
Dari sisi promotif dan preventif, Prudential Indonesia mendorong nasabah menjalani gaya hidup sehat melalui fitur PRUWell. Nasabah yang menjaga kesehatan dan tidak melakukan klaim dapat memperoleh keringanan Premi atau Biaya Asuransi hingga 20% saat perpanjangan polis.
Terkait tarif, Yosie mengatakan peninjauan Premi atau Biaya Asuransi dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk inflasi medis, pengalaman klaim, dan kondisi portofolio produk.
"Setiap keputusan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan inflasi medis, pengalaman klaim, dan kondisi portofolio produk," ujarnya.
Menurut Yosie, evaluasi Biaya Asuransi dilakukan dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta kepentingan jangka panjang nasabah agar perlindungan tetap dapat diandalkan.
Baca Juga: Pembiayaan Multiguna di Sejumlah Pemain Multifinance Tetap Moncer
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














