kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.545.000   -20.000   -0,78%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

Rasio Kredit Macet BFI Finance (BFIN) Turun Jadi 1,33%, Siapkan Dividen hingga 70%


Sabtu, 07 November 2026 / 20:45 WIB
Rasio Kredit Macet BFI Finance (BFIN) Turun Jadi 1,33%, Siapkan Dividen hingga 70%
ILUSTRASI. Penyaluran Pembiayaan (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) membukukan laba bersih setelah pajak atau net profit after tax (NPAT) sebesar Rp 1,3 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Perolehan tersebut tumbuh 12,5% secara tahunan, ditopang oleh pertumbuhan pembiayaan baru, biaya pendanaan yang lebih rendah, serta perbaikan kualitas aset.

Analis  CGS International Sekuritas Handy Noverdanius dalam riset 2 November 2026 mengatakan, BFIN mencatatkan laba bersih Rp 484 miliar pada kuartal III-2026. Angka ini meningkat 2,1% dibandingkan kuartal sebelumnya

Realisasi laba bersih selama sembilan bulan tersebut telah mencapai 81% dari proyeksi laba bersih tahun buku 2026 versi CGS International Sekuritas dan 74% dari konsensus Bloomberg.

Baca Juga: Bank Kasikorn (BMAS) Telah Tarik Pinjaman US$ 240 Juta dari Fasilitas US$ 341 Juta

Meski demikian, manajemen BFIN memperkirakan pertumbuhan piutang yang dikelola atau managed receivables akan berada di kisaran 3%-5% sepanjang 2026. Hingga September 2026, pertumbuhannya tercatat sebesar 3% secara tahunan.

BFIN juga memperkirakan piutang bersih (net receivables) berpotensi stagnan atau sedikit menurun secara tahunan pada akhir 2026. Kondisi ini sejalan dengan strategi perusahaan memperluas skema joint financing sebagai salah satu sumber pendanaan.

Di tengah proyeksi pertumbuhan piutang yang relatif terbatas, penyaluran pembiayaan baru BFIN justru menunjukkan momentum positif. Pada kuartal III-2026, nilai pembiayaan baru meningkat 9% secara kuartalan menjadi Rp 5,6 triliun.

Manajemen memperkirakan tren tersebut berlanjut pada kuartal IV-2026 dengan pertumbuhan pembiayaan baru sebesar 9%-10% secara kuartalan. Dengan demikian, nilai pembiayaan baru ditargetkan mencapai kisaran Rp 6,1 triliun hingga Rp 6,2 triliun.

Untuk memperluas sumber pertumbuhan, BFIN juga mulai merambah pembiayaan kendaraan roda dua (2W). Produk pembiayaan baru tersebut diluncurkan pada awal Oktober 2026 dan saat ini masih dalam tahap uji coba di enam kantor cabang.

Ke depan, BFIN menargetkan pembiayaan sekitar 60.000 unit kendaraan roda dua pada 2027. Target tersebut akan didukung oleh jaringan sekitar 100 kantor cabang perusahaan di seluruh Indonesia.

Dari sisi profitabilitas, manajemen menilai imbal hasil kredit BFIN masih relatif stabil di kisaran 19% hingga September 2026, meskipun persaingan industri pembiayaan semakin ketat.

BFIN juga berhasil menekan biaya pendanaan atau cost of funding (CoF) menjadi 6,9% pada sembilan bulan pertama 2026, lebih rendah dibandingkan posisi 7,2% pada 2025.

Baca Juga: Bank Mandiri (BMRI) Raup Laba Rp 46,5 Triliun Oktober 2026, Tumbuh 19,6% yoy

Penurunan tersebut didukung oleh peralihan sumber pendanaan dari pinjaman sindikasi dalam denominasi dolar AS ke skema joint financing yang memiliki biaya lebih rendah.

Manajemen BFIN memperkirakan CoF akan tetap stabil pada kuartal IV-2026, meskipun terdapat kemungkinan sedikit peningkatan pada 2027.

Dari sisi likuiditas, BFIN masih memiliki dukungan pendanaan yang kuat dari perbankan domestik. Hingga akhir September 2026, perusahaan memiliki fasilitas pinjaman siaga atau undrawn committed facilities sebesar Rp10,5 triliun.

Selain efisiensi pendanaan, perbaikan kualitas aset menjadi salah satu penopang kinerja BFIN. Per akhir kuartal III-2026, rasio pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) tercatat sebesar 1,33%.

Rasio tersebut turun 22 basis poin dibandingkan kuartal sebelumnya maupun periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rasio pencadangan terhadap pembiayaan bermasalah atau NPF coverage mencapai 300%.

Manajemen tetap mempertahankan target biaya kredit atau cost of credit (CoC) di bawah 4% untuk tahun buku 2026. Sebagai perbandingan, realisasi CoC hingga September 2026 berada di kisaran 4%.

Perbaikan kualitas aset tersebut antara lain didukung penyempurnaan sistem credit scorecard sejak 2025 serta penurunan kerugian dari penyitaan aset.

Tingkat kerugian dari penyitaan aset tercatat sebesar 7,8% per September 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan 8,2% pada 2021 dan 13%-15% pada 2025.

Meski demikian, manajemen mencatat aset dengan nilai pembiayaan besar (big-ticket items), seperti alat berat dan properti, masih memiliki tingkat loss on repossession (LOR) yang relatif lebih tinggi.

Dari sisi kebijakan pemegang saham, BFIN tetap mempertahankan rencana rasio pembayaran dividen atau dividend payout ratio hingga 70% untuk tahun buku 2026.

Menanggapi perkembangan kinerja tersebut, CGS International Sekuritas menaikkan estimasi laba per saham atau earnings per share (EPS) BFIN untuk periode 2026-2028 sebesar 1,7%-3,3%. Revisi ini mencerminkan asumsi biaya kredit dan biaya operasional (operating expenditure/opex) yang lebih rendah.

Baca Juga: Penyaluran Kredit Bank Tumbuh, Tapi Yield Kian Tertekan

CGS International Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi Add untuk saham BFIN dengan target harga yang disesuaikan menjadi Rp950 berdasarkan metode Gordon Growth Model (GGM).

Penyesuaian target harga tersebut turut memperhitungkan peningkatan risiko pasar Indonesia setelah MSCI pada 16 Oktober 2026 memberikan peringatan mengenai potensi penurunan status pasar Indonesia menjadi standalone market.

Risiko tersebut tercermin dalam kenaikan asumsi biaya ekuitas atau cost of equity (CoE) menjadi 14,8% dari sebelumnya 14,1%.

Adapun katalis positif bagi saham BFIN meliputi permintaan produk pembiayaan yang lebih tinggi dari ekspektasi serta perbaikan kualitas aset yang berkelanjutan. Sebaliknya, risiko yang perlu dicermati mencakup potensi memburuknya kualitas aset dan semakin ketatnya persaingan dari perusahaan pembiayaan lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×