Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Likuiditas Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yang saat ini pun sudah nampak ketat, rupanya jauh lebih ketat tanpa adanya penempatan dana saldo anggaran lebih (SAL) dari pemerintah.
Menurut riset UOB Kay Hian, total dana SAL yang saat ini berada di Himbara mencapai Rp 299 triliun atau setara 2,9% dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan.
Dari jumlah tersebut, Analis UOB Kay Hian Posmarito Pakpahan menyebut, penempatan dana SAL di PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencapai Rp 104 triliun dan di PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) sebesar Rp 95,6 triliun hingga Agustus 2026.
Dalam pandangan Posmarito, dana SAL ini memang berdampak besar pada pendanaan Himbara. Ia menghitung, tanpa dana SAL, rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) Bank Mandiri bisa mencapai 101,1% dan BNI sebesar 95% pada Agustus 2026.
Sebagai perbandingan, laporan bulanan bank per Agustus 2026 menunjukkan bahwa LDR Bank Mandiri baru sebesar 94,4% dan BNI sebesar 86,9%.
“SAL mempercantik angka yang terlihat di permukaan,” tulis Posmarito dalam risetnya pada 21 September 2026.
Baca Juga: BI Ungkap Pergerakan Suku Bunga Kredit dan Deposito Agustus 2026
Jika menengok laporan keuangan bank, memang simpanan deposito di Himbara kompak melejit. Simpanan deposito di Bank Mandiri dan BNI masing-masing naik hingga 47,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 64,7% yoy. Jika dana SAL dikecualikan, sejatinya deposito keduanya hanya tumbuh masing-masing 17% yoy dan 24% yoy.
Sekitar Rp 200 triliun dana SAL bakal ditarik pada Juli 2027. Sisa dana di luar itu, berdasarkan diskusi UOB Kay Hian dengan BNI, bakal ditarik secara bertahap hingga kuartal IV-2026.
Di BNI, dana yang bakal ditarik secara bertahap itu mencapai kisaran Rp 40,6 triliun dari total dana SAL yang dimiliki. Maka, hingga akhir tahun nanti, saldo dana SAL di BNI sebesar Rp 55 triliun atau setara penempatan awal.
Sementara itu, Posmarito bilang, Bank Mandiri telah mengalami penarikan dana SAL sekitar Rp 19 triliun dari saldo akhir per Agustus 2026. Artinya, saat ini saldo dana SAL di Bank Mandiri mencapai sisa kisaran Rp 85 triliun.
Lebih lanjut, ia menyebut, BNI belum menerima pemberitahuan resmi mengenai perpanjangan yang diumumkan pada Juli 2027. Dus, sisa dana Rp 55 triliun diasumsikan masih bakal bertahan di bank sampai kuartal I-2027.
Dengan asumsi perlakuan yang sama pada Himbara lainnya, UOB Kay Hian menyebut kebutuhan pendanaan pengganti pada akhirnya bakal bergantung pada kecepatan pertumbuhan neraca masing-masing bank.
Baca Juga: Penempatan Dana SAL Rp 200 Triliun Diperpanjang, Kredit Produktif Perlu Dipacu
Perlu Rem Kredit
Dalam kondisi ini, UOB Kay Hian memandang pertumbuhan kredit yang lebih lambat dapat membantu memperbaiki struktur pendanaan bank. Memang kredit BNI melesat 27,1% yoy dan Bank Mandiri naik 17,6% yoy, jauh di atas pertumbuhan dana murah bank yang masing-masing sebesar 16,4% yoy dan 8,2% yoy.
Posmarito menyebut, BNI ke depan bakal mulai memprioritaskan pricing kredit dan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) ketimbang pertumbuhan kredit. Namun, realisasi bakal dipertahankan tetap sejalan dengan target pertumbuhan 8%–10% yoy.
Langkah itu memang tak terhindarkan–antisipasi penarikan SAL dibutuhkan. Dalam pandangan Posmarito, fokus bank kini tak bisa hanya terarah pada angka pertumbuhan di atas kertas, tetapi juga bagaimana kredit tersebut dapat menghasilkan imbal hasil yang memadai.
Baca Juga: Dana SAL Rp 200 Triliun Diperpanjang, Bank Tak Perlu Agresif Berebut Dana
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














