Reporter: Ade Priyatin | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan pasar keuangan sepanjang paruh pertama 2026 turut menggerus kinerja investasi industri dana pensiun konvensional. Koreksi pasar saham dan perubahan imbal hasil instrumen pendapatan tetap menjadi faktor yang membebani tingkat return on investment (ROI) hingga Juni 2026.
Di tengah kondisi tersebut, ROI Dana Pensiun BCA tercatat sebesar 1,65% pada Juni 2026. Direktur Utama Dana Pensiun BCA Budi Sutrisno mengatakan capaian tersebut memang lebih rendah dibandingkan posisi yang sama pada tahun sebelumnya, sejalan dengan tren koreksi pasar keuangan secara umum.
“Kondisi ini dipicu oleh harga pasar saham pada akhir 2026 yang mengalami penurunan paling dalam sepanjang tahun ini sehingga secara langsung berdampak negatif pada portofolio saham,” ujarnya kepada Kontan, (12/8/2026).
Di sisi lain, tingginya tingkat suku bunga serta yield obligasi dan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar turut menyebabkan penyesuaian unrealized mark-to-market terhadap stok portofolio obligasi dan SBN lama yang telah dimiliki dana pensiun.
Baca Juga: NPL UMKM Naik Jadi 4,54%, OJK: Bank Mulai Hapus Buku Kredit Bermasalah
Kombinasi antara koreksi harga saham dan tekanan nilai pasar aset pendapatan tetap lama tersebut berdampak signifikan terhadap pencapaian ROI industri secara keseluruhan dalam jangka pendek.
Meski demikian, peluang perbaikan ROI masih terbuka pada semester II-2026. Tingkat suku bunga acuan dan yield obligasi yang berada di level tinggi dinilai bisa dimanfaatkan untuk melakukan penempatan pada instrumen pendapatan tetap dengan yield yang lebih tinggi untuk jangka panjang.
Selain itu, momentum pemulihan bertahap di pasar modal juga diharapkan dapat menopang pemulihan nilai portofolio investasi.
Untuk memperbaiki kinerja investasi, Budi berkata bahwa strategi pengelolaan aset dan liabilitas serta penerapan prinsip kehati-hatian dilakukan secara berkesinambungan.
Optimalisasi reinvestasi dilakukan dengan memanfaatkan momentum kenaikan imbal hasil untuk melakukan akumulasi taktis pada instrumen berisiko rendah dan likuid, seperti SBN dan obligasi korporasi berkualitas investasi.
Baca Juga: DBS Indonesia Gandeng Mandiri Investasi, Hadirkan Wealth Management Berdenominasi SGD
Selain itu, diversifikasi portofolio secara terukur juga dilakukan untuk menjaga keseimbangan alokasi antara instrumen pasar uang dan instrumen jangka panjang.
Di samping itu instrumen pasar uang digunakan untuk menjaga kepastian likuiditas jangka pendek, sedangkan instrumen jangka panjang diarahkan untuk menjaga stabilitas imbal hasil.
Lebih satu, ketahanan portofolio dipantau secara berkala melalui stress test terhadap fluktuasi suku bunga dan pasar saham. Langkah tersebut dilakukan untuk memitigasi potensi penurunan nilai pasar aset secara lebih dini.
Dengan strategi tersebut, perbaikan ROI diharapkan dapat terus dilakukan pada sisa tahun 2026 seiring dengan perkembangan pasar keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
