kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   20.000   0,73%
  • USD/IDR 17.900   47,00   0,26%
  • IDX 6.127   -2,81   -0,05%
  • KOMPAS100 807   -1,47   -0,18%
  • LQ45 611   -9,23   -1,49%
  • ISSI 216   0,35   0,16%
  • IDX30 348   -6,56   -1,85%
  • IDXHIDIV20 426   -11,92   -2,72%
  • IDX80 93   -0,89   -0,95%
  • IDXV30 118   -2,46   -2,04%
  • IDXQ30 112   -2,96   -2,59%

Rupiah Melemah, PEFINDO Nilai Risiko Utang Valas Multifinance Masih Terkendali


Jumat, 29 Mei 2026 / 17:31 WIB
Rupiah Melemah, PEFINDO Nilai Risiko Utang Valas Multifinance Masih Terkendali
ILUSTRASI. Kredit Valuta Asing (valas) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mulai memunculkan kekhawatiran terhadap beban utang valuta asing (valas) perusahaan multifinance. 

Meski demikian, lembaga pemeringkat menilai risiko langsung terhadap industri masih relatif terjaga karena mayoritas perusahaan telah menerapkan strategi lindung nilai atau hedging.

Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO Danan Dito mengatakan, porsi utang valas perusahaan multifinance sejauh ini tidak terlalu besar. Menurutnya, rata-rata utang valas multifinance berada di kisaran 10% hingga 25% dari total pendanaan.

“Setahu saya, utang valas perusahaan multifinance cukup bervariasi, namun tidak terlalu besar, antara 10% sampai 25%. Biasanya oleh perusahaan multifinance posisi tersebut juga di-hedge, sehingga fluktuasi nilai mata uang asing tidak langsung berdampak pada kemampuan bayar utang,” ujar Danan kepada Kontan, Kamis (28/5/2026).

Baca Juga: Pefindo Catat Penerbitan Obligasi Multifinance Tembus Rp 23,7 Triliun Sepanjang 2025

Dia menjelaskan, perusahaan multifinance umumnya menggunakan instrumen cross currency swap (CCS) untuk melakukan lindung nilai terhadap kewajiban valas. Dengan strategi tersebut, perusahaan multifinance diyakini dapat menjaga biaya pendanaan tetap lebih terkontrol meski rupiah berfluktuasi.

Danan memandang, perusahaan multifinance besar seperti Adira Finance, Astra Sedaya Finance, dan Federal International Finance juga telah menerapkan diversifikasi sumber pendanaan dan strategi hedging, sehingga tidak langsung terpapar risiko pelemahan rupiah maupun kenaikan suku bunga.

“Sudah belajar dari krisis sebelumnya, biasanya perusahaan multifinance dalam portofolio kami tidak mau open position terhadap dollar AS atau mata uang asing lainnya. Jadi biasanya di-hedging supaya biayanya terkontrol,” katanya.

Baca Juga: Pefindo Kembali Beri Peringkat idAAA ke IIF, Prospek Perusahaan Stabil

Meski dampak langsung terhadap kewajiban valas relatif terbatas, Danan menilai pelemahan rupiah tetap berpotensi menekan bisnis multifinance dari sisi makroekonomi. Melemahnya rupiah dapat meningkatkan biaya impor barang dan mendorong kenaikan biaya hidup masyarakat, sehingga berisiko mengganggu kemampuan bayar debitur.

Dia menambahkan, hingga saat ini kondisi tersebut belum memengaruhi outlook industri multifinance secara keseluruhan. PEFINDO masih mempertimbangkan fundamental industri yang dinilai cukup kuat, baik dari sisi permodalan, kualitas aset, maupun likuiditas.

“Namun memang kami pantau terus keadaan di pasar maupun kondisi makroekonomi karena berpotensi memberikan tekanan,” tuturnya.

Baca Juga: Pefindo Proyeksikan Multifinance Jadi Penerbit Surat Utang Paling Aktif pada 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...

Tag

Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×