Reporter: Aulia Ivanka Rahmana | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang korporasi mencatat kinerja positif sepanjang sejarah pada 2025. Di tengah lonjakan tersebut, sektor multifinance kembali menjadi salah satu kontributor utama di pasar obligasi.
Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto menyampaikan, total penerbitan surat utang korporasi sepanjang 2025 mencapai Rp 284,3 triliun atau tumbuh 89,87% dibandingkan realisasi 2024 yang sebesar Rp 149,7 triliun.
Dari sisi sektor, multifinance menempati peringkat ketiga sebagai penerbit terbesar setelah perusahaan induk dan perbankan. Nilai penerbitan multifinance yang diperingkat Pefindo mencapai Rp 23,7 triliun sepanjang 2025.
Baca Juga: Dua Bank Siap Terbitkan Surat Utang 2026, Pefindo Bagikan Prospek Industri
“Industri multifinance ada di peringkat keempat dengan total mencapai Rp 23,7 triliun sepanjang 2025 dan juga pembiayaan non-multifinance itu kurang lebih sama dengan multifinance itu sendiri," ujar Suhindarto dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, penurunan yield di pasar surat utang korporasi terjadi lebih cepat dibandingkan penyesuaian suku bunga kredit perbankan. Kondisi ini membuat emiten, termasuk multifinance, memanfaatkan momentum untuk memperoleh pendanaan dengan kupon lebih rendah sekaligus memperpanjang tenor.
“Dengan biaya dana yang lebih kompetitif di pasar obligasi dibandingkan perbankan, pelaku multifinance cenderung mengamankan pendanaan jangka lebih panjang,” jelasnya.
Secara umum, tenor 5 tahun mendominasi penerbitan dengan porsi 34,36% dari total emisi. Sementara tenor 3 tahun dan 1 tahun masing-masing menyumbang 28,64% dan 22%. Bahkan, tenor 7 tahun yang sebelumnya kurang populer meningkat menjadi 12,6%.
Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat idAAA untuk WOM Finance, Prospek Stabil
Dari sisi peringkat, surat utang berperingkat AAA mendominasi dengan porsi 58% dari total penerbitan. Sebaliknya, penerbitan berperingkat triple B justru mengalami penurunan secara tahunan seiring preferensi investor terhadap instrumen dengan kualitas kredit lebih tinggi.
Untuk 2026, Pefindo memproyeksikan penerbitan surat utang korporasi berada di kisaran Rp 154 triliun hingga Rp 196,86 triliun, dengan titik tengah Rp 175,77 triliun. Kebutuhan refinancing yang masih tinggi, termasuk surat utang jatuh tempo sekitar Rp 162,72 triliun tahun ini, menjadi salah satu faktor pendorong.
Per akhir Januari 2026, Pefindo telah menerima mandat dari 43 perusahaan dengan total rencana penerbitan Rp 71,35 triliun. Dari jumlah tersebut, multifinance menjadi sektor dengan rencana penerbitan terbesar, yakni 7 perusahaan dengan nilai indikatif Rp 17,65 triliun.
Selanjutnya: Marketing Sales Ciputra Development 2025 Tak Capai Target, Ini Rekomendasi Sahamnya
Menarik Dibaca: Begini Cara Mendorong Perempuan Muda Berani Masuk Dunia Teknologi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)