kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.818.000   -42.000   -1,47%
  • USD/IDR 17.130   16,00   0,09%
  • IDX 7.500   41,69   0,56%
  • KOMPAS100 1.037   8,08   0,79%
  • LQ45 746   -0,12   -0,02%
  • ISSI 272   3,24   1,21%
  • IDX30 399   -1,25   -0,31%
  • IDXHIDIV20 486   -4,46   -0,91%
  • IDX80 116   0,59   0,51%
  • IDXV30 135   0,10   0,08%
  • IDXQ30 128   -1,20   -0,93%

Asei Beberkan Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Asuransi Perdagangan


Senin, 13 April 2026 / 16:55 WIB
Asei Beberkan Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Asuransi Perdagangan
ILUSTRASI. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe. (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik yang terjadi di wilayah Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat (AS)-Israel menyebabkan kapal sulit melewati Selat Hormuz. Hal itu membuat risiko lini bisnis perdagangan menjadi tinggi. Alhasil, kondisi tersebut juga diwaspadai perusahaan asuransi umum yang menyediakan proteksi untuk perdagangan.

PT Asuransi Asei Indonesia menilai kapal yang melintasi daerah konflik dapat mengalami kerusakan baik rangka maupun barang-barang yang dibawa. Oleh karena itu, dibutuhkan asuransi untuk meng-cover risiko tersebut.

Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan tak semua perusahaan asuransi mau menanggung risiko tersebut, termasuk soal risiko perang. Jika memang ada perusahaan asuransi yang cover untuk risiko tersebut, tentu perlu reasuradur yang bisa mengendalikan.

Baca Juga: OJK Longgarkan SLIK, Catatan Kredit di Bawah Rp 1 Juta Tak Akan Muncul

"Sedangkan, jauh-jauh hari dari reasuradur yang gede sudah mulai membatasi, bahkan menarik diri. Jadi, kalau tak ada cover dari reasuradur terkait risiko perang, tentu asuransi tak akan mau menerbitkan polis dan kapal tak akan berlayar. Jadi, itu risiko utamanya, karena adanya potensi untuk rusaknya barang dan rusaknya kapal akibat dari drone atau misil," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (13/4/2026).

Dody menerangkan kemungkinan kapal kargo masih ada yang tetap lewat, tetapi tidak melwati Selat Hormuz. Dia bilang kapal bisa saja akan mencoba untuk melewati daerah lain yang lebih rendah risikonya. 

"Kalau ke Eropa, lewat Tanjung Harapan, atau mungkin kalau di Asia bisa lewat sampai ke China, kemudian lanjut jalur darat. Namun, dampaknya adalah delay waktu," katanya.

Dody menuturkan delay waktu itu bisa berefek ke asuransi perdagangan. Sebab, barang yang seharusnya diterima dalam waktu sebulan bisa molor lebih lama. Hal itu juga bisa menimbulkan risiko bagi buyer di luar negeri. 

Baca Juga: Unitlink Pasar Uang Jadi Primadona, Ini Daftar Produk Terbaik per Maret 2026

"Si buyer di luar negeri mungkin sudah ada deal dengan pembeli di sana, bisa saja pembelinya menunggu kelamaan sehingga tak jadi beli. Alhasil, barang menumpuk di sana, maka dia (buyer) enggak bisa bayar ke si eksportir itu," tuturnya.

Dody menyebut hal itu juga menjadi tantangan bagi Asei untuk asuransi perdagangan ekspor. Namun, dia bilang pihaknya sudah melakukan mitigasi dari jauh-jauh hari. Sebab, sebelum konflik di Timur Tengah terjadi, sudah ada perang dagang dengan Amerika. 

Jadi, Dody bilang eksportir yang biasa ekspor ke Amerika Serikat juga berkurang. Dia menyebut eksportir kemudian mencari alternatif nontradisional market. 

Namun, Dody menekankan bahwa untuk asuransi perdagangan, Asei punya kategori risiko dinilai dari suatu negara yang dituju. Jadi, dia bilang dinilai dari negara-negara yang risikonya bagus, sedang, dan jelek. 

"Mitigasi yang sudah jalan selama ini cukup bagus, termasuk AS. Tentu, kami tak akan cover yang risk country-nya jelek. Jadi, kami pilih-pilih. Kalau memang ternyata eksportir memilih buyer di luar negeri yang risk country-nya jelek, kami mungkin tak akan ambil," ungkapnya.

Oleh karena itu, Dody menerangkan Asei akan memilih yang negara yang risikonya bagus atau minim, sehingga tarifnya juga masih masuk. Dengan demikian, perusahaan bisa memitigasi buyer yang tak bermasalah saat melakukan perdagangan dengan para eksportir. 

Dody juga menyampaikan jika konflik Timur Tengah pada akhirnya berkepanjangan, tentu ada penyesuaian premi, terutama untuk premi risiko perang dan biasanya dihitung secara kasus per kasus. Namun, dia menilai perusahaan asuransi dalam negeri sepertinya tak mau terlibat. 

"Mending mereka tidak cover yang ke arah sana. Kalau memang berani ke sana, tentu preminya besar sekali dan akan menjadi trade cost bagi pihak kapal. Ujungnya, dibebankan ke harga komoditas yang dibawa. Jadi, kalau harganya naik, apa mungkin bisa dijual oleh si buyer? Itu yang jadi masalah. Makanya, dalam situasi saat ini, mungkin buyer akan menunda dahulu dan coba shifting ke komoditas lain," ucapnya.

Dody memperkirakan jika ada perusahaan asuransi yang cover ke daerah Timur Tengah di tengah risiko tinggi saat ini, kenaikan premi risiko perang bisa berkali-kali lipat.

"Kalau sekarang 0,5% dari total pertanggungan. Tentu bisa saja 3 kali lipat, bahkan lebih. Namun, Asei tak ada di situ dan mencari yang aman saja," katanya.

Lebih lanjut, Dody mengatakan Asei sebenarnya tidak tergantung perdagangan ekspor saja, tetapi domestik. Sejauh ini, dia menyebut portofolio asuransi perdagangan Asei memang didominasi domestik.

Meski demikian, Asei sedang mencoba untuk menaikkan ekspor, sesuai dengan tujuan pembentukan perusahaan yang memang diarahkan untuk asuransi ekspor. Dody menyebut pihaknya terus mengkoordinasikan terkait hal tersebut dan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan, bahkan Kementerian Luar Negeri.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan di situs resmi, Asei mencatatkan premi sebesar Rp 225,41 miliar per Februari 2026. Nilainya meningkat 754,14%, jika dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 26,39 miliar. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×