Reporter: Ammar Rezqianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham bank besar masih mencatatkan penurunan harga selama perdagangan sepekan terakhir. Meski begitu, analis menilai fundamental saham bank besar masih terjaga solid.
Secara rinci dalam perdagangan sepekan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan harga paling dalam. Harga BBCA saat ini tercatat berada di Rp 5.850, atau turun 8,95% dalam sepekan.
Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat turun 5,38% dalam sepekan menjadi Rp 2.990. Tidak jauh beda, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 5,18% menjadi Rp 4.390.
Baca Juga: Laba BRI Tumbuh di Kuartal I-2026, Kontribusi Anak Usaha Makin Signifikan
Sedangkan, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun paling tipis sebesar 3,88% dalam sepekan menjadi Rp 3.720.
Jika dilihat dari pergerakan investor asing, BBCA tercatat mengalami aksi jual bersih alias net sell terbesar, yaitu Rp 4,17 triliun. Disusul oleh net sell BMRI sebesar Rp 2,32 triliun dan net sell BBRI sebesar Rp 1,45 triliun.
Sementara, BBNI berhasil mencatatkan aksi beli bersih alias net buy dari investor asing sebesar Rp 189,69 miliar.
Untuk diketahui, keempat big banks telah mengeluarkan laporan kinerjanya untuk kuartal-1 2026. Keempat big banks berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta menilai, kinerja dari saham bank anggota perhimpunan bank milik negara (Himbara), seperti BBRI, BMRI, dan BBNI terlihat lebih terjaga pada kuartal-1 2026.
Seperti misalnya dari sisi pertumbuhan laba, BMRI naik paling tinggi sebesar 16,6% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 15,4 triliun, BBRI naik 13,7% yoy menjadi Rp 15,5 triliun, BBNI naik 5% yoy menjadi Rp 5,6 triliun, sementara BBCA tumbuh moderat sebesar 3,8% yoy menjadi Rp 14,7 triliun.
Nafan menyebut di tengah gejolak ekonomi dan ketidakpastian global saat ini, pertumbuhan laba Himbara lebih terjaga karena ditopang oleh berbagai program pemerintah.
"Faktor penopang dari pertumbuhan bank anggota Himbara ini berkaitan dengan sinerginya bersama pemerintah. Himbara menjadi motor utama dalam menjalankan kebijakan pemerintah yang memang sifatnya strategis," kata Nafan saat dihubungi, Jumat (1/5/2026).
Baca Juga: Volume Transaksi BRILink Agen Tembus Rp 420 Triliun pada Kuartal I-2026
Dari sisi intermediasi, himbara juga tercatat tumbuh tinggi. Misalnya, kredit BBNI yang tumbuh 20,1% yoy, kredit BMRI tumbuh 17,4%, dan kredit BBRI tumbuh 13,68% yoy. Sementara itu, kredit BBCA pada kuartal-1 2026 hanya tumbuh 5,6% yoy.
Menurut Nafan, penyaluran kredit Himbara bisa lebih agresif karena didorong kepada program prioritas pemerintah, seperti untuk pembangunan infrastruktur dapur Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Program Tiga Juta Rumah.
Akan tetapi, meski pertumbuhannya lebih moderat, Nafan menilai fundamental BBCA juga masih tetap solid. Ini terlihat dari likuiditasnya yang tetap terjaga baik dan rasio pencadangan yang mumpuni. Ia pun melihat BBCA akan lebih fokus menggenjot pertumbuhan bisnisnya di segmen korporasi, terutama untuk perusahaan-perusahaan blue chip.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













