kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45996,76   -4,98   -0.50%
  • EMAS979.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.07%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.07%

Survei Menunjukkan, Perbankan Lebih Tertarik Biayai UMKM Dibanding Sektor Hijau


Sabtu, 02 Juli 2022 / 11:02 WIB
Survei Menunjukkan, Perbankan Lebih Tertarik Biayai UMKM Dibanding Sektor Hijau
ILUSTRASI. Pendanaan Perbankan untuk UMKM masih lebih besar dibanding sektor hijau


Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Alokasi pendanaan perbankan untuk Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) ternyata masih lebih besar dibanding pembiayaan ke sektor hijau. Hal ini terlihat dari hasil studi Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia mengenai Kepatuhan Laporan Berkelanjutan dan Komitmen Keuangan Berkelanjutan di Sektor Perbankan.

Tiza Mafira, Associate Director Climate Policy Initiative menjelaskan, meskipun terus meningkat, porsi yang dialokasikan sektor perbankan untuk pendanaan 11 kategori hijau hanya 27%, sedangkan sebanyak 73% diberikan untuk kegiatan sosial UMKM.

“Masih diperlukan kontribusi yang lebih tinggi baik dari sektor perbankan dan dari sektor lembaga jasa keuangan lainnya untuk mendorong pendanaan hijau di Indonesia.” kata Tiza dalam keterangannya, Sabtu (2/7).

Penilaian kepatuhan dalam studi ini didasarkan atas Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 51/POJK.03/2017 (POJK 51), yang memuat ketentuan penyusunan dan pelaporan Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) bagi Lembaga Jasa Keuangan, Perusahaan Publik, dan Emiten. 

Baca Juga: OJK Sebut Kondisi Perbankan Masih Terjaga di Tengah Kerentanan Ekonomi Global

Modal Susunan pelaporan yang disyaratkan oleh peraturan ini terdiri dari parameter ekonomi, lingkungan, sosial, serta tata kelola (ESG), dengan kewajiban implementasi bertahap sesuai karakteristik dan kompleksitas usaha. Ini dimulai dari sektor perbankan pada 2019, emiten dan perusahaan publik pada 2021, dan seluruh industri pasar modal terhitung dari 2022.

Pedoman Laporan Berkelanjutan yang dimuat dalam POJK 51 ini juga mengakomodir standar internasional terkait, seperti Global Reporting Initiatives (GRI), Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD) dan Sustainable Banking Assessment (SUSBA). 

Luthfyana Larasati, Senior Analyst Climate Policy Initiative mengungkapkan bahwa industri pasar modal merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi tinggi untuk ikut serta dalam menghijaukan ekosistem di sektor keuangan. 

Menurut data statistik dari OJK dan BEI, kapitalisasi pasar modal Indonesia sejak 2015 hingga April 2022 telah mencapai Rp 9,4 kuadriliun, setara dengan 55% dari PDB 2021 atau hampir 3,5 kali lipat APBN di 2022.

Dia bergarap momentum Presidensi G20 Indonesia 2022 dapat mendorong terbentuknya sistem energi global yang lebih bersih dan transisi yang adil. 

Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) sebagai salah satu komponen sektor keuangan berpendapat, penyampaian Laporan Berkelanjutan adalah satu upaya penting pada sektor pasar modal dalam mendukung keuangan berkelanjutan serta komitmen mengoptimalkan dana tanggung jawab lingkungan dan sosial. 

Menurut Rudy Utomo, Komite Umum APEI, upaya lainnya yang dapat diinisiasi oleh industri pasar modal adalah dengan mengembangkan produk-produk pasar modal yang bertemakan wawasan hijau. 

“Prinsip keuangan berkelanjutan direspon baik oleh pelaku pasar, terbukti dari meningkatnya porsi portfolio hijau melalui penerbitan indeks baru berwawasan lingkungan selain SRI-KEHATI, yaitu Indeks ESG Leaders di 2020, dan meningkatnya penerbitan produk investasi berkelanjutan seperti green bonds dan sustainability bonds,” ujarnya. 

Baca Juga: BI: Melandainya Risiko Kredit Mendorong Penurunan Suku Bunga Perbankan

Terlebih lagi, diterbitkannya Taksonomi Hijau Indonesia 1.0 oleh OJK di awal 2022, memberikan acuan dalam penguatan dan pengembangan instrumen hijau dan berkelanjutan ke depannya. Taksonomi hijau juga dapat membantu proses pemantauan berkala pembiayaan dan investasi hijau, sehingga kedepannya dapat membentuk pelaporan dan pengungkapan yang lebih hijau (green reporting). 

Dia menekankan bahwa APEI terus mendukung industri pasar modal untuk meningkatkan best-practice atas Laporan Berkelanjutan, serta melakukan pengembangan produk keuangan berkelanjutan dan peningkatan praktik ESG. Dari berbagai pedoman dan aturan, harapannya ada satu acuan atau framework yang dapat menyelaraskan pemahaman (definition), pelaporan (reporting), dan pengungkapan informasi (disclosure) tentang green finance dan sustainable finance. 

Asal tahu saja, studi CPI Indonesia menggunakan sampel 13 bank nasional dan asing yang tergabung dalam Inisiatif Keuangan Berkelanjutan Indonesia (IKBI). Seluruh bank telah menunaikan kewajiban menyampaikan Laporan Berkelanjutan rutin sejak tahun 2019 hingga 2021. 

Namun, dalam hal pengungkapan (disclosure), hanya 83% yang sudah memenuhi seluruh pedoman Laporan Berkelanjutan sesuai dengan ketentuan POJK 51. 

Pedoman ini meliputi 12 aspek pelaporan berupa 11 kriteria hijau (bidang energi terbarukan, sumber daya alam, keanekaragaman hayati, pengelolaan limbah, adaptasi perubahan iklim, transportasi, bangunan) dan 1 kriteria sosial terkait pendanaan UMKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM) Supply Chain Management Principles (SCMP)

[X]
×