Sumber: KONTAN |
JAKARTA. Anomali masih terjadi di Pasar uang antar bank (PUAB). Bunga pinjaman sudah merosot, namun transaksi jarang terjadi.
Transaksi jarang karena para bankir sangat hati-hati dalam menyalurkan pinjaman ke sesamanya .Maklumlah, sejumlah bank ketahuan memiliki tagihan derivatif dalam jumlah besar.
Karena tak tahu kualitas tagihan di bank lain, maka pengelola bank memilih untuk tak meminjamkan dana. Para bankir takut dana yang mereka pinjamkan ke bank lain bisa terbenam. "Ini salah satu pemicu segmentasi di pasar uang," ujar Direktur Treasury dan Internasional PT Bank BNI Tbk., Bien Soebiantoro, Kamis (22/1).
Bien membenarkan bunga di PUAB sudah turun dari sekitar 14% ke kisaran 8%-9%. Tapi karena pengelola bank masih saling tidak percaya, transaksi di PUAB tetap sepi.
Sugiharto, SPV Group Head Treasury PT Bank Mandiri Tbk., berpendapat senada. Menurutnya, terkuaknya tagihan derivatif bank yang membumbung tinggi menambah ketidakpercayaan di antara para bankir. "Kekhawatiran ini tak berlebihan karena sudah ada contoh bank yang ambruk," ujar Sugiharto.
Menular ke bank kecil
Saat pasar tersekat, bank yang bakal kesulitan mencari dana adalah bank berskala kecil. Logikanya sepert ini. Sumber pendanaan bank adalah PUAB dan dana masyarakat. Jika PUAB tak jalan, maka si bank tinggal mengandalkan dana masyarakat. Nah, selama ini bank berskala kecil kerap kalah gesit mengumpulkan dana masyarakat karena jaringan yang terbatas.
Bien mengakui, satu-satunya opsi bank kecil saat ini adalah memperbesar dana masyarakat. Nah, untuk bersaing merebut dana masyarakat, jurus yang bisa dipakai bank kecil adalah menawarkan bunga yang tinggi.
Namun hitung-hitungan di atas kertas itu tak selamanya benar. Bank Jasa Jakarta yang tergolong berukuran mini karena hanya memiliki aset Rp 2,8 triliun, mengaku tak pernah kesulitan likuiditas. Selama ini, mereka justru menjadi lender di PUAB.
"Bank yang beraset kurang dari satu triliun juga masih bisa menjadi net lender di PUAB," kata Direktur Utama Bank Jasa Jakarta, Lisawati, Senin (22/1). Ia yakin likuiditas bank kecil lebih solid ketimbang bank besar.
Direktur dan Analis Capital Institute Tedy Fardiansyah berpendapat, pada kondisi tagihan derivatif membengkak, bank besar dengan sendirinya akan menyiapkan likuiditas untuk berjaga-jaga. Terutama untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kepanikan pada nasabah mereka.
Tedy juga menjelaskan, kalau tagihan derivatif bisa terbayar, bank akan menuai untung besar. Namun kemungkinan ini memang kecil, mengingat nilai tagihan derivatif dalam valuta asing itu bakal terus membengkak. Saat ini, tren yang terjadi adalah rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada kondisi ini, Tedy berharap, Bank Indonesia menjaga rupiah agar tidak tergelincir jauh. Selain itu BI harus meningkatkan pengawasan di pasar uang. "Kalau gara-gara kurang ketat pengawasan, bisa-bisa kolaps lagi perbankan kita," tegas Teddy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)