Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Allo Bank Indonesia Tbk mencatatkan tingkat keaktifan nasabah yang relatif sehat di tengah fenomena industri bank digital, di mana pertumbuhan jumlah rekening kerap lebih cepat dibandingkan tingkat penggunaan aktif.
Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, mengatakan bahwa secara industri kondisi tersebut umum terjadi, khususnya pada fase awal pertumbuhan bank digital. Banyak nasabah membuka rekening karena promo atau insentif, namun belum langsung menjadikannya sebagai akun transaksi utama.
“Di Allo Bank, kami tidak hanya melihat total rekening terdaftar, tetapi lebih menekankan pada metrik active users dan nasabah dengan transaksi rutin,” ujar Destya kepada kontan.co.id, Jumat (30/12026).
Baca Juga: Allo Bank Siapkan Dana Rp 60 Miliar untuk Buyback Saham di Tengah Volatilitas Pasar
Saat ini, persentase nasabah aktif Allo Bank berada di kisaran 35%, atau relatif sehat dibandingkan rata-rata industri bank digital. Destya menambahkan, rasio tersebut menunjukkan tren yang terus membaik seiring dengan penguatan ekosistem dan pengembangan fitur transaksi.
Dari sisi aktivitas, rata-rata nasabah aktif Allo Bank melakukan sekitar 6–12 transaksi per bulan, mencakup transfer, pembayaran QRIS, top-up, hingga transaksi di merchant dalam ekosistem Allo. Frekuensi transaksi per pengguna juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan perbaikan engagement.
Menurut Destya, dalam model bisnis bank digital, tingkat engagement memiliki peran yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar jumlah akun. Semakin tinggi frekuensi transaksi, semakin besar peluang monetisasi dan retensi jangka panjang.
Untuk meningkatkan aktivasi dan reaktivasi nasabah, Allo Bank menjalankan sejumlah strategi berbasis data. Pendekatan ini meliputi segmentasi nasabah berdasarkan perilaku transaksi, personalisasi penawaran dan notifikasi, hingga penguatan integrasi dengan merchant dalam ekosistem.
Baca Juga: Allo Bank Pertahankan Bunga Deposito Kendati Suku Bunga Acuan Berangsur Turun
Selain itu, Allo Bank juga terus meningkatkan pengalaman pengguna melalui penyederhanaan alur transaksi, peningkatan kecepatan aplikasi, serta pengembangan fitur yang relevan dengan kebutuhan harian. Strategi cross-selling produk simpanan dan kredit, seperti deposito digital dan PayLater, turut dimanfaatkan untuk mendorong keaktifan nasabah.
“Bagi kami, aktivasi bukan hanya soal promo, tetapi soal relevansi dan kenyamanan penggunaan,” jelas Destya.
Terkait implikasi nasabah yang tidak aktif, Destya mengakui adanya beban biaya, terutama dari sisi biaya akuisisi, operasional sistem, serta opportunity cost karena tidak menghasilkan pendapatan. Meski demikian, struktur biaya bank digital dinilai lebih fleksibel dibandingkan bank konvensional karena tidak dibebani jaringan cabang fisik.
Ke depan, Allo Bank menegaskan fokusnya bukan sekadar menekan biaya, melainkan memastikan setiap nasabah yang diakuisisi memiliki potensi untuk diaktivasi dan dimonetisasi secara berkelanjutan, dengan tujuan meningkatkan lifetime value per nasabah.
Selanjutnya: 7 Khasiat Konsumsi Tomat bagi Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Menarik Dibaca: 7 Khasiat Konsumsi Tomat bagi Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













