kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.913   43,00   0,24%
  • IDX 5.643   -177,60   -3,05%
  • KOMPAS100 728   -24,24   -3,22%
  • LQ45 553   -19,90   -3,47%
  • ISSI 197   -4,65   -2,31%
  • IDX30 314   -10,96   -3,37%
  • IDXHIDIV20 389   -11,74   -2,93%
  • IDX80 83   -2,75   -3,22%
  • IDXV30 107   -1,77   -1,63%
  • IDXQ30 102   -3,08   -2,93%

Transaksi repo jembatani perbedaan risiko likuiditas bank kecil dan besar


Selasa, 24 Juli 2018 / 17:04 WIB
ILUSTRASI. Karyawan Menghitung Tumpukan Uang Rupiah


Reporter: Galvan Yudistira | Editor: Sanny Cicilia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat risiko likuiditas antara kelompok bank masih beragam. Hal ini disebabkan karena adanya segmentasi likuiditas antara kelompok bank dari bank besar sampai bank kecil.

Nanang Hendarsah, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI bilang risiko likuiditas bank besar tidak sama dengan bank menengah dan bank kecil.

"Karena persoalan likuiditas lebih segmented, jadi tidak sama antara bank besar dengan bank lain seperti bank menengah dan bank kecil," kata Nanang dalam bincang bincang media, Selasa (24/7).

Risiko likuiditas dari masing-masing kelompok bank memiliki cara penanganan yang berbeda. Hal ini menjadi tantangan BI dalam menangani terkait dengan risiko likuiditas yang ada di pasar.

Salah satu upaya BI untuk mengatasi kesenjangan antara bank kecil dengan bank besar terkait likuiditas ini adalah dengan mengaktifkan transaksi repo.

Dengan ini, bank kecil bisa meminjam likuiditas ke bank besar dengan agunan tertentu. Dengan pengembangan pasar lebih dalam, khususnya berbasis kolateral maka masalah segmentasi likuiditas bisa terselesaikan.

Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa per 20 Juli 2018, telah melakukan operasi moneter sebesar Rp 291,6 triliun.

Dari total itu, BI melakukan operasi moneter dengan semua instrumen yang dimiliki, misalnya term deposit, RR SUN, Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), dan lain-lain. “Likuiditas ini sebetulnya excess liquidity,” kata Nanang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×