Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tetap optimistis pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 mampu berada di kisaran 10%–12%, meski realisasi pertumbuhan kredit tahun lalu belum menembus dua digit.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menegaskan, target tersebut disusun berdasarkan pemantauan kondisi masing-masing bank serta prospek konsolidasi industri ke depan.
Dian menjelaskan, penetapan rentang target yang relatif sempit mencerminkan pendekatan OJK yang berbasis pada kondisi riil perbankan. “Tugas kami memang mengamati bank secara individual. Jadi target ini based on reality,” ujarnya dalam agenda Economic Outlook di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Ia mengakui, pertumbuhan kredit tahun lalu yang tidak mencapai 10% menjadi tantangan tersendiri. Namun, OJK melihat sejumlah faktor struktural yang berpotensi mendorong akselerasi penyaluran kredit tahun ini.
Salah satunya berasal dari bank-bank BUMN sebagai motor utama pertumbuhan kredit nasional, yang sebelumnya masih dalam masa transisi struktural.
Baca Juga: OJK Percepat Reformasi Pasar Modal Usai MSCI Bekukan Rebalancing Saham RI
“Bank BUMN itu kontribusinya bisa lebih dari 50% terhadap pertumbuhan kredit. Begitu proses konsolidasi selesai dan manajemen barunya mulai menyusun strategi yang lebih agresif, potensi peningkatan kredit bisa signifikan,” kata Dian.
OJK juga melihat adanya penyesuaian rencana bisnis bank (RBB) ke arah yang lebih ekspansif tahun ini. Berdasarkan hasil pertemuan OJK dengan perbankan, Dian menyebut penyesuaian target kredit justru bergerak ke atas (upward adjustment), bukan sebaliknya.
Dari sisi kebijakan, OJK juga mulai memperkuat peran pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), OJK kini memiliki kewenangan dan instrumen baru untuk memperluas akses pembiayaan UMKM.
“OJK sudah menerbitkan POJK terkait kemudahan akses UMKM, dan kami juga membentuk Direktorat UMKM. Persoalan UMKM itu kompleks, mulai dari data, model bisnis, sampai pembiayaannya, dan itu yang sekarang kami benahi secara sistemik,” jelas Dian.
Namun demikian, Dian menyoroti masih besarnya undisbursed loan di perbankan yang nilainya lebih dari Rp 2.400 triliun. Meski sering dipandang sebagai indikasi lemahnya permintaan kredit, OJK melihat angka tersebut sebagai komitmen pembiayaan yang belum terealisasi.
“Itu sebenarnya sudah komitmen para pelaku usaha. Tantangannya sekarang adalah bagaimana menciptakan demand kredit yang lebih signifikan agar komitmen tersebut benar-benar terealisasi,” tegasnya.
Konsolidasi Lintas Sektor untuk Dongkrak Demand Kredit
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dian menekankan pentingnya pendekatan Indonesia Incorporated, yakni koordinasi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan pembiayaan.
Baca Juga: Aset Perusahaan Penjaminan Tumbuh 2,43% Jadi Rp 47,51 Triliun Sepanjang 2025
Menurutnya, kebijakan industri, investasi, perdagangan, dan pembiayaan harus berjalan searah dan saling memperkuat.
“Tidak bisa satu sektor ke kiri, yang lain ke kanan. Semua harus terorkestrasi. Negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Singapura bisa maju karena menerapkan pendekatan ini,” ujar Dian.
Ia menambahkan, ketersediaan likuiditas sebenarnya tidak menjadi persoalan. Seluruh pihak siap menjaga likuiditas, bahkan dukungan fiskal juga tersedia. Namun, tanpa permintaan kredit yang kuat, dana tersebut tidak akan mengalir ke sektor riil.
“Kalau demand kredit ada, kredit pasti lebih menarik dibandingkan SBN atau SRBI. Masalahnya sekarang bukan di supply, tapi bagaimana menciptakan demand yang berkelanjutan,” katanya.
Dian menilai potensi pertumbuhan kredit nasional masih terbuka lebar. OJK pun tetap yakin target pertumbuhan kredit 10%–12% dapat tercapai, asalkan konsolidasi perbankan berjalan, kebijakan lintas sektor selaras, dan permintaan kredit dari dunia usaha terus didorong.
Selanjutnya: Tarif AS Tekan Industri Bunga Kolombia di Tengah Lonjakan Permintaan Valentine
Menarik Dibaca: Cara Mencegah Hidden Hunger pada Anak, Orang Tua Perlu Perhatikan Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













