Reporter: Lydia Tesaloni | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali mencatatkan perlambatan pada laju profitabilitasnya jelang akhir kuartal II tahun ini.
Hingga Mei 2026, bank berkode saham BBCA ini hanya mampu menumbuhkan laba bersih bank only sebesar 2,07% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 25,68 triliun.
Capaian ini menunjukkan perlambatan dari pertumbuhan 3% yoy pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan laporan bulanan BCA, dikutip Selasa (16/6/2026), hasil ini memang selaras dengan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) bank yang terkoreksi tipis 0,5% yoy menjadi Rp 32,95 triliun.
Baca Juga: Bos BCA Syariah: Suku Bunga Tinggi Tuntut Bank Kreatif Cari Dana Murah
Jika ditelisik, pendapatan bunga bank memang cuman naik 0,3% yoy menjadi Rp 38,4 triliun padahal beban bunganya naik 5,41% yoy menjadi Rp 5,45 triliun.
Menengok operasional lainnya, bank sebenarnya sudah mengurangi beban impairment sebesar 13,62% yoy menjadi Rp 1,21 triliun.
Itu menjadi salah satu yang mendorong turun beban operasional lainnya bank hingga 39,41% yoy menjadi Rp 1,55 triliun.
Kendati begitu, pendapatan komisi/provisi/fee dan administrasi bank yang tumbuh 9,2% yoy menjadi Rp 8,44 triliun tak mampu mengompensasi penurunan sejumlah pos pendapatan operasional lain, di antaranya penurunan pendapatan dividen 11,65% yoy menjadi Rp 1,93 triliun.
Alhasil, laba operasional bank hanya tumbuh 2,76% yoy menjadi Rp 31,4 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit bank juga tumbuh lebih terbatas, yakni 4,85% yoy menjadi Rp 969,09 triliun. Secara total, aset bank tumbuh 8,57% yoy menjadi Rp 1.592.98 triliun.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) bank tumbuh 8,8% yoy menjadi Rp 1.256,84 triliun.
Baca Juga: Dapen BCA Nilai Naiknya BI Rate Bisa Berikan Dampak terhadap Hasil Investasi
Pertumbuhan DPK utamanya ditopang dana murah. Yang mana, giro bank tumbuh 16,78% yoy menjadi Rp 444,32 triliun dan tabungan tumbuh 7,81% yoy menjadi Rp 625,37 triliun.
Sementara itu, deposito justru berkurang jumlahnya menjadi Rp 187,13 triliun, turun 3,85% yoy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













