kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.677.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 17.825   -17,00   -0,10%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Valuasi BBCA Dekati Level Terendah Sejak 2008, Tapi Laba Diproyeksi Tumbuh Moderat


Senin, 17 Agustus 2026 / 20:16 WIB
Valuasi BBCA Dekati Level Terendah Sejak 2008, Tapi Laba Diproyeksi Tumbuh Moderat
ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di kantor Cabang BCA (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mungkin tidak lagi mencatat pertumbuhan laba yang agresif pada semester II-2026. Tekanan biaya operasional dan potensi kenaikan risiko kredit mulai membayangi kinerja bank terbesar dari sisi dana murah tersebut.

Namun, Samuel Sekuritas Indonesia dalam riset 7 Agustus 2026 justru melihat kondisi tersebut sebagai tantangan yang masih dapat dikelola. Fundamental BBCA dinilai tetap solid, terutama berkat dominasi CASA dan tingkat permodalan yang sangat kuat.

Karena itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham BBCA dengan target harga Rp 7.150 per saham. 

Salah satu sorotan utama Samuel Sekuritas terhadap kinerja BBCA adalah pertumbuhan kredit. Total kredit BBCA pada kuartal II-2026 mencapai Rp 1.036 triliun, tumbuh 8% secara tahunan dan 4% secara kuartalan.

Baca Juga: Gadai ValueMax Belum Berniat Menaikkan Bunga Gadai Meski BI Rate Sudah Naik 100 Bps

Menariknya, pertumbuhan kuartalan tersebut menjadi yang terkuat untuk kuartal II sejak 2022.

Pertumbuhan terutama datang dari segmen korporasi atau grosir yang naik 6% QoQ, dengan penyaluran antara lain ke sektor teknologi informasi, ketenagalistrikan/pusat data, serta mineral. Sementara itu, kredit konsumer cenderung stagnan.

Bagi Samuel Sekuritas, pertumbuhan kredit ini menjadi salah satu modal BBCA untuk menjaga kinerja pendapatan bunga pada paruh kedua tahun ini.

Di sisi lain, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BBCA memang mengalami tekanan. Pada kuartal II-2026, NIM berada di level 5,3%, turun 10 basis poin secara kuartalan dan 50 basis poin secara tahunan.

Meski demikian, pendapatan bunga bersih (NII) masih tumbuh 1,4% QoQ menjadi Rp21,4 triliun. Pendapatan operasional juga naik 1,1% QoQ menjadi Rp 28 triliun, meski masih turun 1,2% YoY. Samuel Sekuritas melihat peluang pemulihan NIM pada semester II-2026.

Pasalnya, kredit baru yang disalurkan pada kuartal II memiliki tingkat bunga sekitar 50-100 basis poin lebih tinggi. Selain itu, terdapat potensi pemulihan yield kredit korporasi dan peningkatan imbal hasil dari reinvestasi SRBI sekitar 60 basis poin QoQ.

Dengan faktor tersebut, SSI memperkirakan NIM BBCA pada semester II-2026 berpotensi berada di kisaran 5,5%-5,9%.

Laba bersih BBCA pada kuartal II-2026 mencapai Rp 14,9 triliun, naik 1,1% QoQ dan relatif flat secara tahunan. Secara kumulatif, laba bersih semester I-2026 mencapai Rp29,5 triliun, tumbuh 1,8% YoY. Realisasi tersebut setara dengan 50,7% dari target Samuel Sekuritas dan 49% dari konsensus.

Kinerja laba masih tertolong oleh penurunan signifikan biaya provisi. Beban provisi turun 38,9% kuartalan dan 23,3% tahunan menjadi sekitar Rp 800 miliar. Penurunan provisi tersebut membuat cost of credit (CoC) turun ke sekitar 30 basis poin. Namun, kondisi ini belum tentu bertahan hingga akhir tahun.

Baca Juga: Waiting List Haji 5,6 Juta Orang, Asuransi Syariah Incar Pasar Proteksi

Manajemen BBCA mempertahankan panduan CoC tahun 2026 sebesar 50 basis poin. Namun, manajemen juga mengingatkan adanya potensi kenaikan menuju sekitar 60 basis poin.

Tekanan terutama berpotensi muncul dari segmen konsumer, komersial dan UMKM. Dengan kata lain, biaya pencadangan yang rendah pada semester I belum tentu menggambarkan kondisi sepanjang 2026. Jika tekanan terhadap kualitas kredit meningkat, ruang pertumbuhan laba BBCA pada semester II bisa semakin terbatas.

Meski begitu, indikator kualitas aset BBCA saat ini masih kuat. Rasio NPL membaik menjadi 1,8%, dengan NPL coverage sebesar 166%. Yang lebih penting, kekuatan pendanaan BBCA tetap menjadi pembeda. Rasio CASA mencapai 84,3%, sementara CAR mencapai 27,4%.

Posisi tersebut memberikan bantalan yang kuat bagi BBCA menghadapi potensi kenaikan risiko kredit dan tekanan margin.

Selain risiko kredit, Samuel Sekuritas menyoroti potensi kenaikan beban operasional pada semester II-2026. Cost to Income Ratio (CIR) BBCA diperkirakan meningkat menjadi sekitar 31% pada tahun 2026, dari 30% pada semester I-2026.

Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan biaya operasional (opex) berpotensi lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan pada paruh kedua tahun ini.

Dengan demikian, kombinasi kenaikan opex dan potensi CoC menjadi alasan pertumbuhan laba BBCA diperkirakan tetap moderat.

Namun, Samuel Sekuritas menilai kondisi tersebut tidak mengubah karakter defensif BBCA.

Baca Juga: Waiting List Haji 5,6 Juta Orang, Asuransi Syariah Incar Pasar Proteksi

Justru di tengah pertumbuhan laba yang moderat, Samuel Sekuritas melihat ada satu hal yang membuat saham BBCA semakin menarik: valuasinya telah turun cukup dalam. SSI menilai valuasi P/BV BBCA saat ini berada di dekat titik terendah sejak 2008.

Dengan ROE 2026 sebesar 19,7%, BBCA masih menjadi salah satu bank dengan tingkat pengembalian modal paling tinggi di sektor perbankan.

Samuel Sekuritas memberikan target harga Rp 7.150, berdasarkan valuasi sekitar 2,8 kali P/B 2026. Sebagai pembanding, target harga BBRI berada di Rp 3.500, BMRI Rp 5.800, BBNI Rp 4.700, BRIS Rp 2.200 dan BBTN Rp 1.450. Seluruhnya juga mendapatkan rekomendasi buy dari Samuel Sekuritas.

Dari sisi dividend yield, BBCA memang tidak setinggi bank besar lainnya, yakni sekitar 3,9%, dibandingkan BBRI 11,2% dan BMRI 8,9%. Namun, keunggulan BBCA terletak pada kualitas profitabilitas dan kekuatan dana murah.

Dengan demikian, cerita BBCA pada semester II-2026 bukan tentang lonjakan laba, melainkan kemampuan mempertahankan kualitas fundamental di tengah tekanan biaya dan risiko kredit.

Pertumbuhan kredit yang kembali menguat, CASA di level 84,3%, NPL yang membaik dan CAR sebesar 27,4% menjadi bantalan penting.

Menurut SSI, kombinasi ROE yang tinggi, franchise CASA yang defensif dan valuasi P/BV yang telah mendekati level terendah sejak 2008 membuat BBCA tetap menjadi salah satu saham bank yang paling stabil untuk dicermati.

Karena itu, meski pertumbuhan laba diperkirakan moderat akibat tekanan opex dan potensi kenaikan biaya kredit, Samuel Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi buy BBCA dengan target harga Rp 7.150 per saham.

Jumat (14/8/2026) harga saham BBCA turun 0,39% di Rp 6.350 per saham. Sementara itu dalam lima hari saham BBCA turun 0,78%. 

Baca Juga: NPF Multifinance Juni 2026 Turun, Sejumlah Pemain Catat Kinerja Positif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×