Reporter: Ferry Saputra | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren kenaikan yield obligasi dan memudarnya prospek pemangkasan suku bunga berdampak pada penerbitan surat utang multifinance.
Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan kondisi tersebut akan membuat penerbitan surat utang multifinance lebih selektif pada 2026.
Dia menyebut sektor multifinance tetap membutuhkan pendanaan, tetapi ruang ekspansi belum sepenuhnya kuat. Hal itu juga tercermin dari data kinerja piutang pembiayaan multifinance per Februari 2026, yang mana pertumbuhannya masih terbatas 1,01% secara year on year (yoy), dengan nilai Rp 512,14 triliun.
Baca Juga: NPL Konstruksi BTN Masih Tinggi, Manajemen Beberkan Penyebabnya
"Angka itu menunjukkan pemulihan pembiayaan masih bertahap, meski Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan 6% - 8% secara yoy pada 2026. Target tersebut membuka ruang penerbitan baru untuk mendukung ekspansi pembiayaan," ungkapnya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).
Namun, Ahmad menerangkan tekanan biaya dana membuat multifinance cenderung lebih berhati-hati dalam menerbitkan surat utang. Dia bilang yield pemerintah yang lebih tinggi menaikkan acuan pricing bagi obligasi multifinance, membuat investor juga berpotensi meminta kupon lebih tinggi, terutama untuk tenor menengah dan panjang.
"Dalam kondisi itu, perusahaan kemungkinan lebih memilih penerbitan bertahap, tenor lebih pendek, atau masuk pasar saat permintaan investor membaik," tuturnya.
Lebih lanjut, Ahmad menyampaikan penerbitan untuk tujuan refinancing kemungkinan tetap dominan. Dia menjelaskan surat utang multifinance yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp 33,93 triliun, atau sekitar 88,86% dari penerbitan multifinance sepanjang 2025 yang sebesar Rp 38,18 triliun.
Pada kuartal I-2026, jatuh tempo sektor multifinance mencapai Rp 9,18 triliun, sedangkan penerbitannya sudah mencapai Rp 11,90 triliun. Artinya, rasio itu menunjukkan penerbitan awal tahun lebih banyak dipakai untuk menjaga likuiditas dan mengganti utang jatuh tempo.
Baca Juga: BCA Salurkan Kredit Konstruksi Rp 43,7 Triliun, Tumbuh 11,9% pada 2025
"Oleh karena itu, ekspansi tetap ada, tetapi kemungkinan berjalan selektif mengikuti kualitas permintaan pembiayaan dan biaya dana," kata Ahmad.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













