kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR13.864
  • SUN99,38 -0,55%
  • EMAS614.076 -0,49%
  • RD.SAHAM 0.66%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Bisnis pembayaran mobile menjadi incaran

Selasa, 19 Desember 2017 / 12:24 WIB

Bisnis pembayaran mobile menjadi incaran

ilustrasi fintech; Teknologi Finansial; start-up; startup; pembayaran;transfer fintech. KONTAN/Muradi

Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sistem pembayaran berbasis mobile menjadi incaran perusahaan rintisan alias startup di Indonesia. Potensi bisnis yang sangat besar jadi sumbu bisnis.

Sebuah laporan yang dikutip DealstreeAsia menyebut, tingkat pertumbuhan tahunan atau compound annual growtrate (CAGR) pasar mobile payment di Indonesia ditaksir mencapai 72,3% selama 2017–2021, dengan nilai US$ 14 miliar di 2021. Sebagai perbandingan, nilai transaksi mobile payment di Indonesia awal tahun 2017 masih sekitar US$ 1,6 miliar.

Tak heran, banyak perusahaan kepincut masuk bisnis ini. Termasuk perusahaan startup, seperti Go-Jek dan juga Grab. Apalagi, ke depan, bukan mustahil bisnis mobile payment bisa bersaing dengan bisnis pembayaran perbankan atau tekfin.

Akhir pekan lalu, Go-Jek membeli tiga perusahaan teknologi keuangan pembayaran. Yakni, Kartuku, perusahaan layanan pembayaran offline; Midtrans, perusahaan payment gateway online; dan Mapan, yakni jaringan arisan barang di Indonesia.

Saat ini, Kartuku, Midtrans dan Mapan memproses total transaksi lebih dari Rp 67,5 triliun per tahun melalui sejumlah kanal. Misalnya, kartu kredit, debit dan dompet digital untuk pengguna, penyedia jasa dan merchant mereka.

Tiga perusahaan itu akan menopang mobile payment Go-Jek yakni Go-Pay. "Inisiatif ini adalah langkah strategis memperkuat langkah kami di industri fintech, kata Nadiem Makarim, Founder dan Chief Executive Officer Go-Jek.

Tak mau kalah, Grab juga merangsek ke bisnis mobile payment. Setelah GrabPay dibekukan Bank Indonesia (BI), Grab mencari jalan lain dengan menggandeng PT Visionet Internasional, pemilik uang elektronik OVO yang sudah punya lisensi BI.

Grab dan OVO, keduanya masih terafiliasi dengan Group Lippo. Tak hanya OVO, pekan lalu, Grab juga menjalin kerjasama dengan PayTren aplikasi pembayaran mobile milik Yusuf Mansyur.

Direktur Departemen Pengawasan dan Kebijakan Sistem Pembayaran BI Pungky Purnomo Wibowo mengatakan, rencana Go-Jek akuisisi tiga fintech harus sepersetujuan BI. Apalagi, perusahaan yang akan diakuisisi belum dapat izin BI. BI ingin memastikan akuisisi tersebut telah memperhatikan keamanan sistem, perlindungan konsumen dan keamanan nasional.

"Go-Jek harus melapor ke kami, karena kami melaksanakan pengawasan terintegrasi," jelas Pungky ke KONTAN, kemarin (18/12).


Reporter: Avanty Nurdiana, Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang, Maizal Walfajri
Editor: Sanny Cicilia

SISTEM PEMBAYARAN

Tag
Komentar
TERBARU
KONTAN TV
Hotel Santika Premiere Slipi Jakarta
14 May 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy
Close [X]
×