kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.789.000   25.000   0,90%
  • USD/IDR 17.736   51,00   0,29%
  • IDX 6.371   -228,56   -3,46%
  • KOMPAS100 843   -31,00   -3,55%
  • LQ45 635   -16,26   -2,50%
  • ISSI 228   -10,12   -4,25%
  • IDX30 361   -7,63   -2,07%
  • IDXHIDIV20 447   -8,36   -1,83%
  • IDX80 97   -3,13   -3,13%
  • IDXV30 125   -3,42   -2,67%
  • IDXQ30 117   -1,94   -1,63%

Asosiasi Dorong Industri DPLK Lakukan Diversifikasi Investasi Lebih Luas


Sabtu, 14 Februari 2026 / 06:28 WIB
Asosiasi Dorong Industri DPLK Lakukan Diversifikasi Investasi Lebih Luas
ILUSTRASI. Dominasi deposito di DPLK mencapai 50,86% pada 2025. Kalkulasi asosiasi menunjukkan diversifikasi ke SBN dan saham bisa meningkatkan imbal hasil dana pensiun Anda. (KONTAN/Muradi)


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menyampaikan sejumlah strategi investasi yang perlu dilakukan industri DPLK pada tahun ini.

Ketua Umum Asosiasi DPLK, Tondy Suradiredja, mengatakan asosiasi mendorong penyelenggara DPLK untuk meningkatkan efisiensi portofolio dengan mengurangi dominasi deposito yang rata-rata alokasinya mencapai 50,86% pada 2025, atau naik 0,39% secara Year on Year (YoY).

"Asosiasi menganjurkan diversifikasi lebih luas ke Surat Berharga Negara (SBN), obligasi korporasi, dan saham guna mengoptimalkan imbal hasil. Mengingat juga porsi saham yang turun 0,33% menjadi 1,57% pada 2025," kata Tondy.

Tondy menilai tahun ini bisa menjadi momentum tepat untuk masuk kembali ke saham demi pertumbuhan jangka panjang. Dia menambahkan, penyelenggara juga perlu menerapkan konsep life cycle fund.

Baca Juga: Dapen BCA Masih Andalkan SBN sebagai Instrumen Utama di Tahun 2026

Skema itu diperlukan agar peserta memahami bahwa penempatan dana disesuaikan dengan profil risiko dan usia mereka.

"Melalui konsep life cycle fund, instrumen agresif dioptimalkan bagi peserta muda, sedangkan instrumen konservatif diperkuat bagi mereka yang mendekati masa pensiun," kata Tondy.

Mengingat tidak adanya batasan maksimal dalam kepemilikan SBN, Tondy memprediksi porsi investasi industri di SBN akan kembali meningkat pada tahun ini.

Jika menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total investasi dana pensiun di instrumen SBN mencapai Rp 150,85 triliun per akhir 2025. Nilainya tercatat meningkat 11,16% dibanding periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 135,71 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×