kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45900,82   11,02   1.24%
  • EMAS1.333.000 0,45%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

20% nasabah Indonesia perlu priority banking


Kamis, 14 April 2011 / 21:56 WIB
ILUSTRASI. Menghilangkan jerawat bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung dari penyebabnya.


Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Djumyati P.

JAKARTA. Untuk melayani kebutuhan nasabah sesuai dengan kelasnya, bank memang mengategorikan nasabahnya ke dalam beberapa kelompok, biasanya berdasarkan likuiditas sang nasabah. Tapi perbedaan nilai likuiditas simpanan ini juga akan membuat pelayanan yang berbeda pula.

Saat ini kategorinya terbagi menjadi nasabah bank dengan likuiditas normal, prime banking dengan likuiditas sebesar Rp 50 juta-Rp 500 juta , priority banking sebesar Rp 500 juta - Rp 5 miliar, private banking sebesar Rp 5 miliar ke atas, dan ultra high individual banking sebesar US$ 2 juta ke atas.

"Rata-rata 20% nasabah Indonesia merasa ingin punya layanan yang baik, maka setiap bank memiliki layanan nasabah kelas kakap," Irman A. Zahiruddin, Mortgage and Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan Ketua Asosiasi Wealth Management

Menurut Irman, rata-rata jumlah nasabah priority banking di Indonesia sebanyak 50 ribu nasabah, sedangkan private banking sekitar ribuan nasabah, lalu ultra high individual baking hingga ratusan nasabah.

Nah, nasabah-nasabah kelas kakap inilah yang perlu dilayani dengan baik terutama soal pengembangan aset-asetnya di bank. "Setiap relation manager bank yang melayani nasabah kelas atas itu perlu kualifikasi dan sertifikasi," tutur Irman sekaligus Ketua The Certified Wealth Managers Association (CWMA).

Irman bilang ada empat kriteria untuk sertifikasi relation manager di antaranya etika, nilai, sikap dan kemampuan. Sehingga relation manager tersebut dapat memproteksi aset nasabah, lalu mengembangkan nasabah dan aset tersebut bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Sehingga relation manager juga bisa merangkap sebagai manager investasi yang mengerti produk-produk investasi di pasar.

Lebih jauh, bank rela menurunkan Direktur Utama bank untuk mengejar nasabah ultra high individual banking dan di gencar secara personal. "Nasabah kelas atas itu jadi incaran bank-bank lho, jadi Direktur Utama pun perlu turun tangan," tambahnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×